Deni kembali masuk ke ruang rapat, menaruh satu gelas kopi hitam baru di depan Anto .
Anto menatap permukaan kopi di dalam gelas kaca. "Ini kopi standar kantor lo?"
Deni mengangguk. "Kopi robusta blend khusus, Pak."
Anto mendekatkan gelas ke hidungnya, menghirup aromanya sekilas, lalu menyesapnya. Wajahnya berkerut di bagian tengah, matanya melirik Deni. "Ini kopi saset yang lo pindahin ke toples kaca di pantry ya?"
Deni tersenyum lebar, melangkah mundur. "Branding, Pak. Biar kelihatan ada proses grinding di belakang."
Anto menatap Juna setelah Deni keluar menutup pintu. "Lo udah mulai ngajarin anak buah lo buat nipu estetika kantoran?"
Juna mengangkat kedua bahunya, jemarinya bergerak mengetuk casing laptop. "Belajar dari cara kerja kota Jakarta, Pak. Semua dimulai dari bungkus."
Anto mendengus pelan, lalu menggeser beberapa lembar draf dokumen dari dalam map hitamnya ke tengah meja rapat. "Oke. Kita masuk ke urusan angka. Gue datang hari ini murni sebagai vendor. Nexus siap support seluruh kebutuhan infrastruktur sistem yang sedang digarap JNR. Backend pengerjaan, maintenance server bulanan, integrasi dashboard klien, sampai API eksternal kalau tim dev internal lo yang cuma dua orang itu udah mulai muntah darah kena overload project."
Juna memajukan posisi duduknya, kedua tangannya bertumpu di tepi meja. "Kita butuh kepastian vendor yang bisa scale up cepat kalau sewaktu-waktu project dari Prames Group atau Bumi Arta minta rilis fase lanjutan. Tapi scope kerjaan di awal harus bener-bener hitam di atas putih."
Anto menyipitkan matanya, menatap Juna dari balik lipatan kelopak matanya. "Denger lo ngomong kata scope jelas bikin gue ngerasa pengen ketawa sekaligus pengen nangis di waktu yang sama, Jun."
Rafi mencondongkan badannya ke depan, ikut menatap dokumen Nexus di meja. "Pak, jangan lupa kalau kami berdua ini tumbuh dan besar di bawah didikan keras Bapak."
Anto memperbaiki letak kemeja di bahunya. "Justru karena gue yang didik kalian, makanya sekarang gue beneran takut."
Nara melangkah mendekati meja rapat, membuka layar laptopnya. Jemarinya bergerak cepat mengetuk tombol keyboard. "Kami minta dokumen penawaran resmi dari Nexus dikirim ulang paling lambat Jumat ini, Pak Anto. Harus mencakup breakdown mandays per engineer, rincian biaya maintenance tahunan, batas revisi arsitektur maksimal, SLA untuk response time kalau ada bug, dan klausul penalti keterlambatan rilis sistem."
Anto menatap Nara tanpa berkedip, lalu mengalihkan pandangannya ke Juna. "Dia emang selalu begini kalau lagi bahas duit?"
Juna dan Rafi menjawab serentak. "Iya."
Anto menghela napas panjang, bersandar ke sandaran kursi, melipat tangannya. "Bagus. Vendor emang harus disiksa dari draft kontrak pertama. Biar nggak manja di lapangan."
Alika menarik salah satu lembar dokumen Nexus yang disodorkan Anto, membacanya baris demi baris. "Kalau Nexus resmi masuk sebagai vendor sistem JNR, kita harus tegas misahin antara relasi personal lama kalian di kantor lama dengan hak dan kewajiban kontrak baru ini, Pak Anto."
Anto menganggu. "Setuju, Bu Komisaris. Dulu di kantor lama, gue atasan mereka berdua. Sekarang, gue vendor yang cari makan dari project mereka. Jadi kalau nanti invoice pengerjaan sistem gue telat dibayar sama finance JNR, gue bakal marah dan maki-maki secara profesional sesuai hukum korporasi."
Rafi menunjuk wajah Anto dengan ujung pulpennya. "Kalau Bapak marah sambil maki pakai kata-kata yang biasa di ruko lama?"
"Itu namanya menjaga budaya asli perusahaan," jawab Anto datar.
Matahari siang mulai bergeser, sinarnya menembus celah-celah tirai vertikal ruang rapat, membentuk garis-garis cahaya terang di atas karpet abu-abu koridor lantai dua.
Anto melangkah keluar dari ruang rapat diikuti Juna dan Rafi di kedua sisinya. Mereka berjalan menyusuri selasar kecil yang membatasi ruang kerja utama staff bawah. Di area tengah ruko lantai dua, empat buah meja modular baru berderet rapi. Dua orang staf customer support perempuan mengenakan headset berbicara dengan nada suara yang dijaga, jemari mereka bergerak memasukkan data tiket keluhan klien ke dalam sistem monitor.
Di sudut dekat jendela, Ucup menekan tombol dispenser, Deni terlihat di ruang meeting kecil seberang, menyemprotkan cairan pembersih ke permukaan kaca pembatas.
Di dinding selasar, sebuah papan whiteboard magnetik besar menampilkan lini masa pengerjaan project bulanan dengan kode warna yang berbeda.
GLOWINC - Website Optimization (Testing Phase)
SPL - Dashboard Phase 2 (Architecture Design)
PRAMES LOGISTICS - Fleet Tracking Assessment (Requirements Gathering)