Sinar matahari pagi Jakarta menembus celah sempit di antara dua dinding batako ruko konveksi, garis cahaya miring memotong area parkir motor kos Mampang. Tiga belas sepeda motor berderet rapat, beberapa stang saling mengunci, jalur selebar satu setengah meter dipenuhi tetesan oli kering dan sisa air pel yang mulai menguap. Bau minyak jelantah dari gerobak gorengan di ujung gang bercampur dengan aroma kopi saset yang diseduh dari warung sebelah.
Di teras bawah, Ucup dan Deni duduk berhadapan di atas kursi plastik hijau. Keduanya sudah mengenakan polo shirt hitam dengan bordiran benang putih JNR SUPPORT TEAM di dada kiri. Dua bungkus kertas cokelat berisi nasi uduk terhampar terbuka di tengah meja, menyisakan gundukan sisa sambal kacang dan remah kerupuk yang mulai layu.
Suara hentakan sepatu kulit di anak tangga besi luar lantai dua memecah ritme kunyahan Deni. Langkah Juna tertahan di setiap undakan. Kemeja katun biru mudanya baru terkancing setengah. Tangan kanannya menahan tali ransel laptop yang merosot di bahu, tangan kirinya merapikan rambut yang masih basah.
Ucup mendongak dari bungkus nasi uduknya, menyeka sisa minyak di sudut bibir. "Pagi, Bos."
Juna menghentikan langkah di anak tangga terakhir. Matanya menyipit menatap Ucup. "Bang, jangan panggil gue Bos di kos."
Deni menyendok sisa bihun goreng . "Kenapa? Branding harus konsisten. Mulai dari lobi ruko sampai teras jemuran."
Juna melangkah mendekati meja, menarik kursi yang bersandar di dinding. Ransel laptopnya diletakkan di lantai, bersandar di kaki meja. "Dulu lo manggil gue Jun."
Ucup meraih plastik transparan berisi sisa bakwan goreng. "Dulu lo belum bayar gaji gue, Jun. Sekarang status legalitas lo di dompet gue udah berubah."
Juna menatap dua potong tahu isi di dalam plastik. Ia mengulurkan tangan, mengambil salah satunya, lalu memutarnya di antara jempol dan telunjuk. "Gue nyesel rekrut lo berdua."
"Jangan gitu, Bos," Deni menegakkan punggung, membusungkan dada kirinya, tulisan JNR SUPPORT TEAM terlihat menonjol di bawah sinar matahari pagi. "Kami ini aset perusahaan. Infrastruktur dasar."
Juna menggigit ujung tahu isinya. "Aset yang tiap pagi ngabisin gorengan orang sebelum yang punya turun tangga."
"Itu namanya menjaga hubungan komunitas," Ucup menyahut, tangannya bergerak mengambil gelas plastik berisi teh manis hangat. "Biar ekosistem kos ini tetep solid mendukung operasional JNR."
Juna tertawa pendek. Bahunya perlahan mengendur, matanya menatap jajaran jemuran baju di seberang teras yang bergerak kecil ditiup angin pagi.
Klek.
Suara grendel pintu besi di lantai dua membuat ketiga kepala di teras itu mendongak.
Pintu kamar nomor 203 terbuka. Monic keluar, rambut hitamnya acak-acakan, mencuat ke beberapa arah. Ia berhenti di pagar pembatas besi, menumpu kedua lengannya, lalu menguap lebar tanpa menutup mulut.
Matanya menatap Juna yang sedang memegang tahu isi. "Pagi, Direktur lima juta," suara Monic serak, parau oleh sisa tidur. Ujung bibirnya tertarik ke atas.
Juna menurunkan tahu isinya ke atas meja, telapak tangannya mengusap celana bahannya. "Lo juga jangan mulai, Mon."
Monic menggaruk bagian belakang lehernya, matanya menyipit menghalau silau matahari yang mulai naik setinggi atap kos. "Gue diem kalau dibayar. Transfer aja ke rekening biasa buat biaya sewa ketenangan."
Ia membalikkan badannya, melangkah kembali ke dalam kamar. Dari dalam kamar, suara batuk kecil seorang laki-laki terdengar samar. Monic menoleh ke dalam, tertawa pendek , lalu menarik gagang pintu.
Juna menatap ke arah koridor lantai dua. Pandangannya menatap sepasang sandal kulit pria. Deni mengikuti arah pandangan Juna, lalu beralih menatap samping wajah Juna yang mendadak diam.
Deni berdehem pelan, menurunkan sendoknya. "Kenapa, Bos?"
Juna menoleh, memasukkan sisa tahu itu ke dalam mulut. "Apanya?"
Ucup menyipitkan matanya, kepalanya condong ke depan. "Kalau orang bilang apanya sambil ngunyahnya kayak lagi ngancurin batu bata, biasanya ada yang salah sama sistem pencernaan... atau sistem perasaan."
Juna berdiri, menarik ransel laptopnya. "Ayo berangkat. Nanti Nara ngomel kalau kita telat sepuluh menit dari jam absen."
Deni mendorong kursinya ke belakang. "Kalau Bu Finance udah mulai ngomel di depan papan tulis, saya milih balik jadi pengangguran aja, Bos. Takut."
Ucup ikut berdiri, melipat kertas bungkus nasi uduknya menjadi gundukan kecil yang rapi. "Semua orang di ruko itu takut sama dia. Itu namanya budaya perusahaan yang sehat. Ada hierarki ketakutan."
Dua sepeda motor keluar dari celah pagar kos Mampang. Juna memimpin di depan, mengendarai motornya. Di belakangnya, Deni dan Ucup berboncengan menggunakan motor bebek tua milik Ucup.