Cahaya sore di luar ruko tiga lantai menyelinap masuk lewat sela-sela tirai vertikal ruang kerja lantai dua. Juna berdiri sendirian di samping meja pantry kecil lantai dua. Tangan kanannya memegang mug keramik, matanya menatap kosong ke arah dispenser air. Langkah kaki terdengar mendekat dari arah koridor belakang. Rafi muncul, dua batang rokok kretek terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.
Rafi menghentikan langkahnya di samping Juna, memutar-mutar batang rokok kretek di atas meja kayu pantry. "Lo dari jam sembilan pagi tadi mukanya kayak orang yang lagi nahan pengin maki-maki klien, tapi nggak nemu pasal yang pas di draf kontrak."
Juna menyesap sisa kopinya. "Capek aja. Urusan draf Bumi Arta ternyata lebih banyak makan waktu daripada perkiraan awal."
"Capek karena kerjaan numpuk sama capek karena lihat orang lain udah mulai punya hidup masing-masing itu beda rasanya, Jun.
Juna membalikkan tubuhnya, menatap ke arah samping wajah Rafi. "Lo sejak kapan beralih profesi jadi psikolog klinis kantor, Bang?"
"Enggak," Rafi terkekeh pelan, memasukkan salah satu batang rokoknya ke belakang daun telinga kanannya. "Kalau gue jadi psikolog, tarif per jamnya pasti lebih tinggi daripada nilai slip gaji lo sebagai direktur utama di ruko ini."
Juna mengembuskan napas panjang lewat hidung, matanya kembali bergerak menatap dinding kaca ruang rapat oval yang berada di seberang mereka. Nara masih duduk sendirian menghadap layar laptop, barisan log data mentah yang dikirim oleh Alvin Prameswari terpantul di pupil matanya.
Rafi menggeser posisi berdirinya, ikut menatap ke arah pandangan Juna. "Urusan Nara sama Alvin itu murni pekerjaan korporasi, Jun. Prames Group itu tipe klien yang kalau lo kasih celah kebocoran dikit di bagian finance, mereka bakal langsung ganti vendor. Nara cuma lagi jagain leher perusahaan kita biar nggak kena penalti kontrak."
"Gue nggak bilang apa-apa soal itu," suara Juna serak.
"Mulut lo emang telat buat ngomong," Rafi mengetukkan ujung rokok kretek satunya ke permukaan meja. "Tapi lipatan di jidat lo dari pagi jelas banget dibaca sama semua orang di ruko ini."
Juna menaruh mug keramik kosongnya ke atas tatakan datar pantry. "Gue ngerasa... semua orang kayak mendadak punya tempat baru yang lebih pas buat hidup mereka, Bang. Semuanya gerak cepat banget semenjak kita pindah dari Nexus."
Rafi berhenti memutar batang rokok. Matanya menatap bayangan dirinya di pantulan permukaan dispenser air. "Ya emang begitu cara kerjanya kalau hidup lo emang jalan maju, Jun. Nggak ada yang bakal tetep tinggal di dalam kubikel yang sama selamanya cuma buat mastiin lo nggak ngerasa kesepian."
Juna menatap Rafi.
"Yang bahaya buat masa depan perusahaan ini," Rafi kembali menatap Juna, matanya menyipit, "bukan karena orang-orang di sekitar lo mulai jalan nyari arah mereka masing-masing. Yang paling bahaya itu kalau lo diam-diam punya keinginan buat maksa mereka berhenti bergerak, cuma gara-gara lo takut ngerasa ditinggal sendirian."
Juna menahan napasnya, tangannya tertahan di tepi meja pantry.
Rafi memasukkan kembali batang rokoknya ke dalam saku kemeja hitamnya, lalu menepuk pundak kiri Juna. "Pulang ke Mampang lo sore ini?"
Juna mengangguk sekali. "Iya."
"Jangan pulang sambil bawa pikiran jelek di dalam helm. Trafik jalanan sore ini lagi nggak bersahabat buat orang yang otaknya penuh sama draf analisis perasaan."
Juna menarik sudut bibirnya. "Udah telat, Bang. Pikirannya udah masuk ke fase rilis dari subuh tadi."
Cahaya lampu warung kopi kecil menerangi depan gang Mampang. Di dalam etalase kaca warkop, jajaran bungkus rokok beraneka warna tersusun rapi bersanding dengan stoples plastik berisi mie instan saset. Tiga orang pengemudi ojek online duduk lesehan di atas tikar plastik depan warkop, mata mereka tertuju ke layar ponsel.
Juna, Ucup, dan Deni duduk melingkari meja di sudut luar teras warkop. Ucup dan Deni masih mengenakan polo shirt hitam JNR SUPPORT TEAM, Juna sudah melepas kemeja katun biru mudanya, kaus polos berwarna abu-abu gelap melekat di badannya.
Deni mengaduk sisa ampas kopi di dasar gelasnya. "Bos, gue mau nanya jujur nih dari lubuk hati paling dalam divisi lapangan. Lebih enak rasanya jadi direktur utama ruko tiga lantai atau jadi penghuni kos biasa yang kamarnya sebelahan sama Monic?"
Juna menyalakan korek gas hijaunya, mengarahkan ke ujung rokok kretek di bibirnya. "Lebih enak jadi orang biasa yang kalau sore hari nggak perlu denger suara lo manggil gue pake kata Bos di depan warkop."
Ucup meraih rokok dari bungkus Juna. "Sulit, Jun. Sistem kompensasi finansial sudah mengubah total struktur sosial kita. Sekali nama lo tertera di slip gaji sebagai pihak yang mentransfer dana operasional bulanan, tingkat martabat lo sebagai temen satu kos resmi hilang."
Deni mengangguk. "Dulu lo adalah Juna, partner diskusi soal cara ngakalin tagihan air kosan. Sekarang di mata kami, lo adalah perwujudan fisik dari lembar slip gaji yang keluar setiap akhir bulan."
Juna mengembuskan asap rokoknya ke arah jalanan gang. "Lo berdua kalau urusan kurang ajar di depan muka atasan emang punya bakat yang konsisten sejak lahir ya."