Sinar matahari siang menembus kaca depan ruko JNR Solution, bayangan debu melayang di atas karpet abu-abu. Di area depan, suara Mira terdengar datar, dan berulang menghadapi komplain pelanggan lewat headset hitamnya. Di sudut lain, printer inkjet ukuran besar mengeluarkan lembar-lembar invoice putih yang menumpuk di baki plastik.
Deni berdiri di atas kursi plastik, tangan kanannya menggerakkan wiper karet di kaca ruang rapat. Di bawahnya, Ucup berjalan setengah membungkuk, memanggul satu kardus air mineral.
Juna duduk di balik meja kerjanya, laptop terbuka. Ia menatap draf proposal Bumi Arta yang baru terisi sepertiga halaman. Kursor berkedip di ujung kalimat Sistem integrasi logistik berbasis arsitektur modular...
Matanya merah di bagian sudut, kelopaknya turun setengah. Jempol kanan dan telunjuknya bergerak perlahan, memutar-mutar korek gas hijau di atas meja.
Langkah kaki terdengar mendekat dari arah pantry belakang. Rafi muncul, satu mug keramik besar di tangan kanan, kepulan asap kopinya tipis. Ia menghentikan langkah tepat di samping meja JNR, matanya turun menatap draf proposal yang tidak bergerak di layar, lalu beralih ke samping wajah Juna.
Rafi menurunkan mugnya ke atas meja. "Muka lo kayak orang baru kalah tender sama mantan."
Mata Juna masih menatap kursor yang berkedip. Jemarinya berhenti memutar korek gas hijau. "Capek aja."
Rafi menarik kursi kerja kosong, duduk di sebelahnya, lalu melipat kedua tangannya di atas sandaran kursi. "Capek kerja sama capek hidup beda, Jun. Log data di jidat lo nggak bisa bohong."
Juna meletakkan korek gasnya ke meja. Tangannya bergerak ke arah keyboard, menekan tombol spacebar satu kali, lalu menghapusnya. "Mulai lagi lo."
"Gue belum mulai," Rafi meraih mug kopinya, meniup permukaannya, cairannya bergelombang kecil. "Gue baru pemanasan."
Juna menarik napas panjang, telapak tangan kanannya naik mengusap wajah dari dahi hingga dagu. "Proposal Bumi Arta belum kelar. Nara ngejar angka. Alika ngejar scope. Klien ngejar diskon. Semua orang ngejar sesuatu."
Rafi menurunkan mug kopinya, matanya menyipit menatap Juna. "Terus lo?"
Juna diam. Tangannya bertumpu di tepi meja, melirik ke ruang kaca di seberang area kerja. Rafi menyandarkan punggungnya ke kursi, pandangannya beralih ke arah yang sama.
Dari balik dinding kaca di bagian tengah, Nara berdiri tegak di samping meja kerjanya. Ponselnya menempel di telinga kiri, tangan kanannya memegang spidol hitam. Bahunya bergerak naik-turun seiring ritme bicaranya yang cepat.
Pintu ruang kaca tidak tertutup rapat, celah selebar dua jari meloloskan potongan suara Nara ke luar.
"Pak Alvin, saya belum selesai baca. Jangan bilang bagus dulu," Nara membalikkan badan, menghadap layar laptop yang terbuka di meja.
"Karena Bapak punya kebiasaan bilang bagus sebelum ngasih masalah tambahan," ujung spidolnya mengetuk papan tulis.
Juna menggeser posisi duduknya, telinganya bergerak. Rafi memperhatikan gerakan kepala Juna, jemarinya memutar-mutar pulpen gel di atas meja.
"Bukan, saya nggak menolak," suara Nara kembali keluar, sedikit meninggi. "Saya cuma minta Bapak jangan kirim data setengah matang jam dua belas siang lalu berharap jawaban jam satu."
Suara dari seberang saluran telepon hanya terdengar rentetan gumaman berat.
Nara menghela napas, bahunya turun. "Kalau Bapak mau saya percaya angka itu, kirim log approval-nya juga."
Nara berjalan mendekati jendela kaca yang menghadap ke area kerja luar. Matanya melintas ke arah meja Juna. "Iya. Bukan summary. Raw log," ia memutar tubuhnya kembali ke arah meja. "Pak Alvin, saya bukan anak magang yang bisa ditenangkan pakai PDF cantik."
Juna menatap draf proposal Bumi Arta di depannya, jemarinya mengepal di bawah meja, meremas kain celananya.
"Saya tahu Bapak butuh cepat," suara Nara melunak di ujung koridor kaca. "Tapi kalau cepatnya bikin orang kecil jadi tameng lagi, saya nggak mau tanda tangan," Nara berhenti melangkah. "Iya, saya bilang begitu juga ke Alika kalau perlu."
Jeda beberapa detik.
"Bukan, bukan karena saya berani. Karena saya trauma."
Nara tersenyum di balik kaca. "Bapak jangan ketawa. Itu bukan punchline."
Ia menurunkan ponselnya dari telinga, menekan tombol layar, lalu meletakkannya. "Oke. Kirim ke email kantor saya. Jangan ke WhatsApp.l," Nara duduk kembali ke kursi kerjanya. "Dan jangan tulis tolong dicek sebentar. Nggak ada yang sebentar kalau dari Bapak."
Suara ketukan keyboard laptop Nara terdengar berirama dan cepat memotong keheningan dari balik celah pintu.
Juna menatap ke arah dinding kaca, matanya terkunci ke kepala Nara yang merunduk menghadap monitor.
Langkah kaki terdengar dari arah tangga lantai dua. Alika melangkah masuk ke koridor area kerja, map jepit kulit hitam didekap di dada kirinya, tangan kanannya memegang tablet, layar masih menyala.
Alika menghentikan langkahnya tepat di depan meja Juna. "Jun."
Juna mendongak, melepaskan kepalan tangannya di bawah meja. "Hm?"
"Papih ngundang tim JNR makan malam."
Rafi memutar kursinya, pulpen di tangannya berhenti berputar. "Papih siapa?"
Alika mengalihkan pandangannya ke arah Rafi. "Menurut lo?"
Rafi menegakkan punggungnya, meletakkan kedua telapak tangannya di atas lutut. "Albert Prameswari?"
"Iya," Alika kembali menatap Juna.
Rafi menaruh telapak tangan kirinya di dada. "Waduh. Saya harus pinjam jas atau cukup pinjam keberanian?"
Alika mengabaikan kalimat Rafi. "Private dining di rumah. Bukan undangan formal Prames Group, tapi jangan datang kayak mau beli pecel lele."
Juna menatap map jepit hitam di dekapan Alika. "Kenapa tiba-tiba?"
"Papih mulai lihat struktur Glowinc Group," Alika menggeser layar tabletnya ke bawah.
Rafi melirik ujung map yang dipegang Alika. "Struktur yang ada JNR di dalamnya?"
Alika mengangguk. "Sejak saham mayoritas JNR masuk portofolio Glowinc, Papih mulai nanya. Dia mau lihat orang-orang yang gue pilih."
Juna menahan napasnya. "Jadi kita mau dites?"
"Semua orang yang makan sama Albert Prameswari pasti dites," Alika melipat tabletnya ke dalam map. "Bedanya cuma dikasih tahu atau enggak."
Rafi mengangkat tangan kanannya setinggi bahu, menjentikkan jari telunjuknya. "Kalau gue gagal tes sendok-garpu, kontrak dibatalin?"
"Kalau lo ngomong terlalu banyak, mungkin iya," Alika menyahut tanpa menoleh. "Datang rapi. Jangan telat. Jangan improvisasi cerita sukses yang belum terjadi."
Juna menarik sudut bibirnya. "Lo pikir gue begitu?"
"Gue tahu lo begitu," suara Alika merendah, ia mencondongkan tubuh ke depan. "Ini penting, Jun. Bukan cuma buat JNR. Buat gue juga."
Juna membuka mulutnya, Alika mengangkat pergelangan tangan kiri, melihat jam tangan berstrap kulit hitam. "Gue ada urusan di Glowinc," Alika membalikkan badannya menuju ruang rapat utama di ujung koridor. "Proposal Bumi Arta kirim ke gue sebelum jam lima."
Langkah kaki Alika bergerak cepat, meninggalkan aroma parfum maskulin tipis yang menguap ditiup angin AC ruangan.
Rafi menunggu hingga pintu ruang rapat di ujung koridor tertutup rapat, lalu memajukan kepalanya mendekati telinga Juna. "Selamat. Besok kita makan malam sama keluarga kerajaan."
Juna menurunkan pandangannya ke keyboard laptop, menekan tombol delete berkali-kali. "Kerajaan yang punya saham mayoritas di perusahaan kita."