Gagang pintu Kamar 203 berderit pendek, terdorong hingga membentur dinding dengan. Juna melangkah masuk. Monic tersentak di depan meja rias kecil di sudut ruangan. Ia memutar tubuhnya, punggungnya membentur pinggiran meja rias, botol-botol parfum plastik berguncang. Ia hanya mengenakan setelan dalaman katun berwarna hitam. Rambutnya mencuat ke beberapa arah. Wajahnya menegang, sepasang matanya membesar.
"Lo gila main masuk kamar gue?" suara Monic melengking.
Tangan Juna bergerak ke belakang, menarik gagang pintu dan menutupnya. Lampu neon di langit-langit kamar memantulkan cahaya di mata Juna yang merah di bagian sudutnya.
"Bacot lo," sahut Juna datar.
Monic mengerutkan dahinya, matanya bergerak turun menatap kepalan tangan Juna yang memutih di sisi paha, lalu kembali ke pipi Juna yang memerah. "Jun, lo kenapa?"
Juna melangkah maju, tangan kanannya mencengkeram rahang Monic, ia mencium bibir Monic dengan sentakan kasar. Gigi mereka beradu.
Kedua telapak Monic mendorong dada Juna. Kain kaus abu-abu Juna merenggang di bawah tekanannya. "Eh, anjing-"
Tangan kiri Juna menangkap pergelangan tangan Monic, menahannya di antara dada mereka. Monic berhenti meronta, ia menatap pupil mata Juna yang berkabut.
"Lo lagi rusak ya?" bisik Monic di celah paguyan mereka.
Juna diam, melumat bibir Monic.
"Jawab."
"Gue nggak mau jawab," kata Juna, suaranya parau.
Monic menatap Juna, kepalan telapak tangan kanannya mengendur, bergerak naik, meraba pipi merah Juna. Tangan kirinya merayap naik menelusuri leher kemeja Juna, lalu menariknya.
"Kalau lo kasar karena pengen nyakitin gue," suara Monic merendah. "keluar sekarang."
Juna memundurkan wajahnya, melepas pagutan. Ia menatap mata Monic, rahangnya
mengendur.
"Kalau lo kasar karena lo nggak tahu harus taruh sakit lo di mana..." Monic menjeda kalimatnya, menarik napas pendek, "jangan bikin gue nyesel."
Juna kembali mencondongkan wajahnya, mencium Monic kedua kalinya. Monic mundur bersandar ke meja rias, membalas ciuman sama kerasnya, kedua tangannya mengunci tengkuk Juna.
Mereka jatuh ke atas kasur busa, Monic menggeser tubuh Juna dari atasnya. "Jun, pelan dikit. Lo kayak orang mau bunuh utang pinjol ke badan gue."
Juna mencengkeram bahu Monic, matanya menatap layar monitor di sudut kamar yang gelap. "Diem."
Monic terdiam membiarkan tubuhnya dihimpit Juna di atasnya, jemarinya melepas kancing kemeja Juna satu persatu sambil terus berpagutan. Tangan Juna bergerak ke punggung Monic, melepas kaitan kain yang menutupi tubuhnya.
Kepala Juna turun ke leher, berhenti di dada Monic. Kedua tangan Monic mencengkram rambut Juna, menekan kepalanya ke dadanya.
"Ahh," Monic mendongak, menatap langit-langit kamar.
Juna kembali turun, tangannya menarik kain bagian bawah Monic, kepalanya terbenam di sela paha Monic.
"Terus disitu," pinggul Monic terangkat, tangannya menekan kepala Juna.
Juna memundudkan kepalanya. Ia berdiri, melepas gesper menurunkan celananya, lalu kembali berbaring. Monic merangkak naik, menduduki wajah Juna, kepalanya turun ke sela paha Juna, bergerak naik turun mengikuti sentuhan lidah Juna di bagian bawah tubuhnya.
Suara kuluman dan desahan mereka beradu dengan derit baling-baling kipas angin.
Juna mendorong pinggul Monic ke atas, menarik tubuhnya berlutut di belakang Monic. Telapak tangan dan lutur Monic menekan kasur, pinggulnya naik ke atas.
"Jangan terlalu kasar, gue nggak suka," Monic menoleh, menatao Juna dari bahunya.