Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah roller blind ruko JNR Solution. Suara ketukan keyboard dari dua staf operasional beradu dengan bunyi dengung mesin printer yang mencetak lembar manifes harian. Di dekat meja depan, headset hitam Mira sudah terpasang di telinga, menyalurkan suara komplain pelanggan yang terdengar samar.
Ucup berjalan melewati koridor tengah, memanggul dua kardus air mineral, meletakkannya di samping dispenser. Deni melangkah keluar dari pantry membawa nampan berisi tiga gelas kopi hitam yang permukaannya masih mengepulkan uap tipis.
Juna duduk tegak di balik meja kerjanya. Garis wajahnya lebih tenang dibandingkan kemarin siang. Sepasang matanya menatap lurus ke proposal Bumi Arta yang masih terhenti di halaman tigaa, nemari tangan kanannya bertumpu kaku di atas spacebar.
Langkah kaki Rafi muncul dari arah pantry, memegang dua gelas kopi hitam di kedua tangannya. Ia menghentikan langkah tepat di samping Juna, berdiri mematung, menatap samping wajah Juna menghadap monitor. Rona merah di pipi kiri Juna memudar.
"Gue nggak tahu harus bilang selamat pagi atau minta maaf duluan," Rafi meletakkan gelas di samping laptop Juna.
"Dua-duanya kedengeran aneh."
Rafi menarik kursi di sebelah meja Juna. "Ya udah ngopi dulu."
Juna mengulurkan tangan kiri, meraih gagang gelas.
"Lo nggak apa-apa?" mata Rafi menyipit mengamati kerutan tipis di dahi Juna.
Juna menyesap kopinya, lalu meletakkan kembali gelas ke atas meja. "Kerja aja."
Rafi bersandar di kursi, pulpen gel di kantong kemejanya bergetar saat tubuhnya bergerak. "Nara belum masuk."
Gerakan tangan Juna terhenti di atas keyboard. "Gue nggak nanya."
"Makanya gue kasih tau sebelum lo nanya," Rafi menyahut datar.
Juna memutar kepalanya perlahan, menatap mata Rafi.
Rafi membalas tatapan. "Dia sama Alika ke Prames pagi ini. Meeting sama Alvin."
Juna menurunkan kembali pandangannya ke laptop.
Deni berjalan melintas di depan mereka membawa nampan kosong. "Bos, ruang meeting mau dipakai jam sepuluh, ya?"
Juna mendongak, alisnya terangkat satu jengkal. "Meeting apa?"
Rafi menegakkan punggungnya, menepuk permukaan meja kerja Juna. "Nah. Ini kabar baik."
Mata Juna menyipit menatap Rafi.
Cahaya dari luar ruko mulai bergeser, menerangi sepertiga papan tulis putih di tengah ruangan. Jarum jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit.
Rafi memutar laptop menghadapka ke wajah Juna. Juna membaca tajuk INTEGRATED AGRI-LOGISTICS & ECOSYSTEM DEVELOPMENT PLOTS di jendela peramban halaman draf proposal awal, logo abstrak hijau daun di sudut kiri atas.
Juna condong ke depan, matanya bergerak cepat memindai poin-poin draf di layar.
"Calon klien," Rafi menunjuk salah satu bagan organisasi di slide ketiga. "Mereka butuh sistem supply chain buat jaringan pangan. Gudang, petani, distribusi, dashboard inventory, sama investor reporting."
Juna menyipitkan mata, jemarinya mengambil alih trackpad laptop Rafi, menggeser halaman ke bawah. "Mirip SPL?"
"Lebih startup," Rafi bersandar kembali, kedua tangannya terlipat di atas perut. "Lebih sok besar. Lebih banyak kata ekosistem sama sinergi hulu-hilir."
Juna menghentikan geseran layarnya di tabel estimasi biaya implementasi tahap awal. "Budget?"
Rafi menarik sudut bibirnya. "Kalau jadi project, bisa nutup operasional ruko ini dua bulan ke depan. Kalau dia invest sampai fasa kemitraan, bisa nutup insecure lo setahun."
Juna mengalihkan pandangannya dari layar, menatap lurus ke arah mata Rafi. "Gue nggak insecure."
"Maaf," ralat Rafi datar, "bisa nutup ekspresi direktur utama yang akhir-akhir ini sering keliatan kaya kursi plastik kehilangan satu kaki."
Jempol Juna mengetuk pinggiran laptop. "Siapa yang bawa?"
"Kenalan dari network lama gue," Rafi merapikan letak kerah kemejanya. "Katanya founder-nya mau ketemu langsung. Orangnya punya akses investor besar, pernah main di agritech beberapa tahun lalu."
Juna kembali menatap draf skema arsitektur sistem di layar. Istilah-istilah field assessment, real-time inventory dashboard, dan automated investor reporting berjejer rapi. "Kita presentasi?"
"Jam sepuluh," Rafi melirik jam dinding. "Gue udah booking ruang meeting ke Deni tadi."
Juna mengerutkan dahi, matanya melirik ke arah ruang kaca buram Nara. "Nara tahu?"
Rafi menggeser gelas kopinya ke sudut meja. "Belum detail. Dia kan lagi ke Prames sama Alika dari pagi."
Juna menarik napas panjang, bahunya terangkat. "Kalau ngomongin investor masuk, struktur keuangan harus lewat Nara dari awal."
"Ini baru penjajakan, Jun. Kita dengerin dulu maunya apa, lihat portofolio fundamentalnya," Rafi menutup laptopnya. "Nggak ada yang salah dengerin duit mau masuk, kan?"
Juna mengangguk pelan.
Pukul sepuluh kurang lima menit. Pintu kaca depan ruko JNR Solution terdorong dari luar, bel kuningan kecil di atas kusen berdentang dua kali.
Mira berdiri dari kursi resepsionisnya, merapikan letak kemeja kerjanya.
Seorang pria melangkah masuk. Stevano William mengenakan kemeja putih katun yang disetrika rapi tanpa lipatan, dibalut blazer abu-abu ringan berserat halus. Jam tangan berstrap kulit hitam tipis melingkar di tangan kirinya. Sepatu pantofel kulitnya bersih dari debu jalanan. Wajahnya bersih, dihiasi senyum tipis yang proporsional di sudut bibir.
"Selamat pagi, Pak. Ada janji dengan siapa?" Mira menyapa, suaranya ramah.
"Dengan Pak Rafi. Stevano William," suaranya halus.
Mira mengetikkan nama di keyboard-nya. "Baik, Pak Stevano. Silakan tunggu sebentar."
Stevano membalikkan tubuhnya perlahan, sepasang matanya menyapu seluruh sudut lobi JNR.