Ruang rapat kembali senyap. Suara bising dari jalur arteri di luar ruko terdengar samar. Nara berdiri tegak di tengah ruangan, di samping meja kaca. Kedua telapak tangannya mengepal rapat di sisi celana kulotnya.
Juna menatap Nara, Rafi duduk diam, jemarinya memutar-mutar pulpen tanpa suara. Alika berdiri mematung di sudut meja, menatap Nara.
"Ra, gue-" Juna mendekat ke arah Nara.
"Keluar," Nara memotong, suaranya datar tanpa.
Juna menarik napas pendek. "Gue beneran nggak tahu konteksnya sebelum-"
"Gue tahu lo nggak tahu," Nara menyahut cepat, matanya menatap lurus ke arah papan tulis putih yang penuh coretan rencana presentasi Stevano. "Tetap keluar."
Rafi bangkit berdiri dari kursi perlahan, merapikan dokumen proposal yang tersisa. "Ra-"
"Semua keluar," kata Nara lagi.
Alika melangkah mendekat, mengulurkan tangan kirinya ke arah bahu Nara. "Nara."
Nara memutar kepalanya, menatap Alika tepat di matanya. "Termasuk lo, Alika," bisik Nara.
Tangan Alika berhenti di udara. Tatapan mata mereka bertemu. Alika menurunkan tangannya kembali, mengangguk kecil. "Oke."
Juna masih berdiri di tempatnya. Nara mengalihkan pandangannya. "Jun."
Juna perlahan mundur, meraih laptopnya dari atas meja. Ia berjalan mengekor di belakang Rafi dan Alika menuju ambang pintu. Gagang pintu aluminium ditarik dari luar, menutup ruang rapat.
Ucup dan Deni kembali dari area depan setelah mengantar Stevano sampai ke pembatas parkir. Mereka berdua berdiri mematung di dekat dispenser pantry, menatap ke arah Juna, Rafi, dan Alika yang berkumpul di dekat partisi kerja.
Deni mengangkat orlan tangan kanannya setinggi dada. "Bu Nara... aman di dalam, Mbak Alika?"
Alika membetulkan letak map jepit kulit hitamnya di bawah lengan. "Belum."
Ucup melirik ke arah engsel pintu ruang rapat yang terkunci. "Kita perlu jaga area depan ruko kalau-kalau orang itu balik lagi?"
Alika menggelengkan kepala. "Nggak usah. Biar dia sendiri dulu di dalam."
Juna masih menatap lurus ke arah bayangan hitam di balik kaca buram ruang rapat.
Rafi mengulurkan tangan kanannya, menyentuh bahu Juna. "Jun."
Juna tersentak, ia menoleh ke arah Rafi.
Alika menatap Juna dan Rafi di depannya bergantian, lalu memutar badannya menuju arah pintu keluar ruko. "Kita keluar sebentar dari sini."
Juna mengerutkan dahi. "Ke mana?"
"Ngopi," Alika menyahut pendek tanpa menghentikan langkahnya.
Rafi menatap punggung Alika. "Kayaknya kalau begini, kopi sachet biasa nggak akan cukup buat nenangin kepala, Bu Komisaris."
"Makanya jangan beli yang sachet di warkop depan. Ikut gue," sahut Alika tanpa menoleh.
Mereka bertiga berjalan keluar, membelah hawa panas trotoar menuju sebuah kedai kopi kecil tiga ruko dari kantor JNR Solution.
Suara desis mesin espresso memproses biji kopi beradu dengan musik jazz instrumental bervolume rendah dari speaker langit-langit. Beberapa pekerja lepas duduk menyendiri di sudut ruangan.
Juna, Rafi, dan Alika duduk mengelilingi meja kayu bundar di pojok belakang ruangan.
Gelas es americano di depan Juna mulai mencair, bulir-bulir air menetes di permukaan meja kayu yang belum ia sentuh sejak pelayan mengantarkannya. Rafi duduk bersandar, kedua tangannya memegang gelas kopinya.
Alika menatap permukaan cairan kopinya yang hitam.
"Dia siapa?" Juna membuka suara, memecah ritme musik instrumental kedai.
Alika mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah mata Juna. "Stevano William."
"Kita tau namanya, Bu Komisaris," Rafi menyahut. "Yang belum otak kita tangkep itu kenapa Bu Finance bisa sampai punya ekspresi hampir manggil setan dari lantai kantor begitu dia muncul."
Alika menatap Rafi datar.
Rafi mengangkat kedua telapak tangannya setinggi bahu. "Maaf. Mekanisme panik saya kalau di situasi tegang memang suka agak jelek."
Alika menghela napas panjang lewat hidung, bahunya turun. "Dia founder utama AgriLintas."