Jalan gang depan kos Mampang basah sisa air siraman dari selang plastik yang digulung di depan pagar ibu kos. Bau tanah basah dan minyak jelantah dari wajan penggorengan tempe bercampur di udara.
Pintu Kamar 104 terbuka, Dita melangkah keluar. Blouse sewarna gading yang dikenakannya lurus tanpa kerutan, berpadu dengan rok span hitam yang jatuh tepat di batas atas lutut. Bunyi langkah sepasang heels hitam setinggi lima memantul di semen koridor. Rambutnya terikat rapi di belakang tengkuk, sapuan eyeliner tipis yang presisi di sudut kelopak matanya.
Monic duduk di atas kursi di depan pintu kamarnya. Ia masih mengenakan kaus oblong putih longgar. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya menjepit sebatang rokok, asapnya menggulung tipis ke langit-langit koridor.
Monic menyapu penampilan Dita dari ujung sepatu, lipatan rok, hingga batas kerah blouse.
"Anjing," satu kata keluar dari celah bibir Monic bersama semburan asap abu-abu.
Dita menghentikan langkah kaki kanan, memutar tubuhnya, mendongak ke koridor lantai dua. "Apa?"
"Lo kalau jalan ke kantor begini, orang kantor lo langsung doa," Monic mengetuk abu rokoknya ke dalam asbak.
Dita menurunkan pandangannya, merapikan ujung roknya. "Kenapa? Kurang rapi?"
"Justru terlalu rapi," Monic menyipitkan mata, mengisap kembali rokoknya, ujungnya menyala jingga pekat. "Buat orang yang pernah gue ajarin cara senyum biar tamu nambah jam."
Sudut bibir Dita terangkat tipis. "Skill bisa pindah tempat, Mon."
Monic menahan asap di dalam, matanya mengunci wajah Dita. "Jangan pindahin semua."
Dita membuka ritsleting tas kerjanya, memasukkan ponsel. "Gue kerja beneran."
"Yang bilang lo bohongan siapa?" Monic menyahut datar.
"Udah ah, gue telat," Dita melanjutkan langkah kakinya menuju gerbang kos.
"Dit," panggil Monic.
Dita menghentikan langkah, ia menoleh. "Apa?"
"Kalau ada cowok kantor ngajak makan siang, pesen yang paling mahal."
"Tenang. Sekarang gue udah paham kelas sosial dari menu," Dita terseyum.
Kaca jendela taksi online buram oleh embun AC bagian dalam. Lampu-lampu rem mobil berwarna merah menyala berjejer seperti barisan manik-manik di atas aspal basah.
Dita duduk tegak di kursi belakang, tas kerjanya bertumpu di atas pangkuan. Cahaya cahaya dari layar ponselnya menerangi permukaan kulit telapak tangannya. Ia menatap jendela aplikasi pesan ruang obrolan grup INTERNAL-SUPPORT OP. Di bawahnya, notifikasi email baru masuk dengan logo Prames Group berwarna perak di sudut kiri atas.
Jempol Dita bergeser, membuka pesan pribadi dari Monic yang masuk satu menit lalu.
Monic
Selamat bekerja, LC Corporate.
Dita menahan napas, sudut matanya berkerut kecil menahan senyum, Jemarinya bergerak cepat di atas layar.
Dita
Terima kasih, mucikari spiritual.
Balasan masuk dalam hitungan detik.
Monic
Bangsat.
Dita mematikan layar ponselnya. Senyum di wajahnya surut saat bodi taksi online yang ditumpanginya melambat, berbelok memasuki gerbang utama kompleks perkantoran Prames Group.
Bayangan langkah kaki-kaki para pekerja yang melangkah terburu-buru terpantul di lanntai marmer putih bersih di lobby utama Prames Group. Dua orang resepsionis berpakaian seragam batik biru menyapa setiap orang dengan anggukan kepala. Bunyi ting dari lift berkapasitas besar terbuka, mengeluarkan aroma parfum maskulin berserat kayu dan aroma kopi arabika dari gelas kertas yang dibawa para staf.
Dita melangkah keluar dari dalam lift, ID card plastik dengan foto wajahnya bergoyang kecil di dada seiring ayunan langkahnya.
"Pagi, Dit," seorang staf perempuan dari divisi legal menyapa saat berpapasan di dekat mesin absensi sidik jari.
"Pagi," Dita menyahut pendek, kepalanya mengangguk.
Seorang staf pria dari meja seberang menyeletuk sambil merapikan tumpukan kertas manifes. "Bu Sari nyariin lo tadi, Dit."
Dita tidak menghentikan langkahnya menuju bilik meja kerjanya. "Udah gue kirim filenya jam tujuh pagi lewat server."
Staf pria itu bersiul kecil, tangannya berhenti bergerak. "Anjir, rajin banget."
Dita meletakkan tas kerjanya di samping CPU komputer bawah meja. "Biar kalau gue salah, orang susah nyalahin gue dari awal."
Tawa kecil dari dua staf di dekatnya pecah, Dita menyalakan monitor komputer, menata letak map jepitnya di sisi kiri keyboard.