Lampu neon putih di dalam ruangan manajer masih menyala. Di balik jendela kaca besar, langit Jakarta berubah hitam pekat, dipenuhi kerlip lampu ribuan gedung bertingkat yang menyerupai susunan papan sirkuit elektronik raksasa.
Dita berdiri tegak di depan sebuah cermin kecil berbingkai perak yang tertempel di dinding samping rak file. Kedua tangannya bergerak merapikan kembali kerah blousenya yang baru dikenakan dan menghaluskan permukaan rok spannya yang tertekuk. Beberapa helai rambutnya yang lepas dari ikatan diselipkan kembali ke belakang teling. Ia mengeluarkan alat rias dari dalam tas, menyamarkan rona merah bekas tamparan di pipi. Lalu mengeluarkan tabung lipstik kecil dari saku tasnya, menyapukan warna merah natural, memastikan tidak ada sisa noda darah di bibirnya.
Pak Rendra duduk di atas sofa kulit hitam di sudut ruangan. Kemejanya sudah terpasang rapi kembali ke dalam ban celana kainnya, kancing kerah teratasnya dibiarkan terbuka. Ia menatap gerakan tubuh Dita di depan cermin, ia tersenyum puas.
"Kamu hebat juga, Dita," Pak Rendra memecah keheningan.
Dita menutup kembali tabung lipstiknya, lalu memasukkannya ke dalam tas tanpa menoleh. "Saya selalu hebat, Pak."
Pak Rendra menarik senyum lebar di bibirnya. "Saya serius."
"Saya juga serius," Dita membalikkan tubuhnya perlahan, bersandar di tepi rak file baja, kedua tangan mendekap tas kerjanya di dada.
Pak Rendra bangkit berdiri dari sofa, melangkah mendekati meja kerja. "Saya rasa kamu perlu tahu, saya tidak pernah menggunakan hak posisi saya untuk memaksa kamu melayani saya malam ini."
Dita menatap pantulan Pak Rendra di sudut cermin di dinding.
"Kamu selalu punya hak penuh untuk menolak sejak awal pintu itu ditutup. Saya murni hanya tertarik dengan kapasitas dan penampilan kamu," tambah pak Rendra.
Dita menegakkan punggungnya, melangkah menuju arah pintu keluar. "Saya tahu."
Pak Rendra terdiam, lalu membuka mulut. "Jadi... kita baik-baik saja untuk kerja besok?"
Dita meraih gagang pintu kuningan, menariknya sedikit, celah udara luar koridor masuk me ruangan. "Kita tetap bekerja besok pagi, Pak Rendra."
Pak Rendra mengangguk sekali, wajah tenangnya kembali terpasang. "Tentu."
Dita melangkah keluar, tangannya menahan tepi pintu kayu. Ia menoleh kembali ke dalam ruangan. "Email rekomendasi internalnya jangan ditarik lagi, Pak."
Pak Rendra tersentak, alisnya bertaut lalu tersenyum tipis. "Tidak akan."
Dita melangkah keluar, pintu ruang manajer menutup pelan di belakang punggungnya.
Sorot lampu LED putih terang di dalam toilet wanita memantul sempurna di atas permukaan cermin besar yang melapisi dinding sepanjang tiga meter. Deretan wastafel keramik putih bersih tanpa sisa bercak air, aroma sabun cair berparfum melati yang tajam menyebar ke seluruh sudut ruangan.
Dita berdiri mematung di depan wastafel tengah, meletakkan kedua telapak tangannya di bawah pancuran kran otomatis, aliran air dingin mengalir membasahi sela-sela jarinya. Matanya menatap sudut bibirnya yang retak bekas pukulan, lalu tersenyum tipis.
Ponsel di dalam saku rok spannya bergetar dua kali. Dita mengeringkan tangannya dengan selembar tisu kertas, lalu mengeluarkan ponselnya. Pesan baru dari Monic terpampang di layar utama.
Monic
Lo beneran bakal naik jadi asisten manajer minggu depan?
Dita menatap barisan tels, jemarinya mengetik balasan dengan satu tangan.
Dita
Belum resmi. Baru masuk rekomendasi internal.
Monic
Tetep aja anjing. Itu lompatan pangkat paling cepet buat ukuran anak baru kosan.
Dita
Makan malam di luar? Gue yang traktir.
Monic: Lo habis dapet bonus awal dari bos lo?
Dita menatap kembali pantulan wajahnya di cermin besar, jempolnya menekan tombol keyboard di layar ponselnya.
Dita
Anggap saja begitu.
Monic
Oke. Cari restoran yang normal ya. Jangan yang ada piring segede gaban tapi isinya cuma makanan kecil secuil di tengah.