Lantai marmer putih lobby utama gedung Prames memantulkan binar lampu plafon. Pintu lift berdenting setiap tiga puluh detik, mengeluarkan barisan karyawan yang melangkah cepat, ID card berayun di dada. Aroma parfum sitrus dan lavender mahal bercampur dengan sisa hawa dingin dari AC sentral yang baru menyala penuh.
Dita melangkah keluar dari lift nomor empat. Blouse moka yang dikenakannya lurus tanpa kerutan. Rok span hitamnya jatuh tepat di atas lutut, garis eyeliner tipis tercetak presisi di matanya.
Tiga staf senior yang menyeduh kopi instan menoleh bersamaan saat Dita melewati koridor divisi operasional.
"Pagi, Dit," staf perempuan berpakaian batik hijau menyapa lebih dulu, kepalanya mengangguk.
"Pagi," Dita menyahut pendek tanpa memperlambat langkahnya.
Staf pria di kubikal sebelah menyenggol pembatas plastik. "Asisten manajer baru, traktiran dong, Dit. Kopi kek di bawah."
Dita meletakkan tas kulit hitamnya di atas meja kerja, di samping dudukan CPU komputer. "Belum resmi."
"Ah, udah direkomendasi Pak Rendra begitu, tinggal nunggu SK turun dari HRD aja itu mah," staf pria itu terkekeh, melambaikan tangan.
Dita menarik kursi kerjanya ke belakang. "Di kantor ini, yang tinggal nunggu bisa tiba-tiba hilang dalam semalam."
Tawa staf pria itu kembali pecah. Jemari Dita menekan tombol power monitor komputer.
Bu Sari berjalan mendekat dari arah ruang arsip, membawa bundelan map jepit. Langkahnya berhenti di samping sekat meja Dita. "Dita, nanti jam sebelas ikut saya ke ruang rapat. Ada presentasi dari vendor logistik baru."
Dita mendongak, punggungnya menempel di sandaran kursi. "Siap, Bu. Berkas pembandingnya sudah saya cetak."
Bu Sari mengamati garis wajah Dita beberapa detik, menyapu lipatan kerah blouse hingga makeup di bibirnya. "Kamu kelihatan beda sejak email rekomendasi Pak Rendra keluar kemarin."
Sudut bibir Dita terangkat. "Lebih sombong?"
"Lebih hati-hati," Bu Sari mengoreksi, suaranya pelan di antara bising ketukan keyboard kubikal lain.
Dita mengalihkan pandangannya kembali ke arah monitor yang mulai memuat halaman utama draf database. "Kalau orang mulai naik, yang dilihat bukan cuma anak tangganya, Bu. Tapi siapa saja yang punya posisi buat narik kaki kita dari bawah."
Bu Sari mematung sesaat, jemarinya meremas pinggiran map biru di dadanya lebih erat. Ia mengangguk, lalu berbalik menuju ruangannya. "Jangan kasih orang lain celah buat pegangan, Dita."
Dita menatap kursor yang berkedip di pojok kiri atas layar Excel-nya. "Kadang pegangan lama muncul sendiri tanpa dicari."
Pukul sebelas kurang lima belas menit. Ruang divisi operasional dipenuhi deru bising konstan dari mesin pencetak dokumen harian, dering telepon internal yang mati-nyala, dan gumam rendah para staf yang sedang mencocokkan angka manifes gudang.
Di atas meja Dita, ponselnya bergetar panjang. Layarnya menyala, nama Pak Heru HR bergetar di layar ponsel.
Jemari Dita membeku di atas keyboard. Matanya mengunci nama kontak Heru, jempolnya bergeral pelan, menekan tombol buka.
Heru
Dita, mampir ke ruangan saya setelah jam makan siang selesai. Ada hal krusial yang perlu dibahas terkait status dokumen rekomendasi kamu.
Dita memejamkan mata, menarik napas panjang.
Bu Sari melintas di belakang kursinya. "Dit? Berkasnya sudah siap?"
Kelopak mata Dita terbuka, tangannya bergerak gerakan cepat membalik posisi layar ponselnya menghadap ke permukaan meja. "Iya, Bu? Sudah. File vendor sudah saya kirim ke email Ibu satu menit lalu."
Bu Sari mengangguk tanpa melirik ke arah meja, lalu melanjutkan langkahnya menuju koridor lift.
Dita membalikkan kembali ponselnya. Layar kembali menyala. Jempolnya bergerak di atas layar.
Dita
Baik, Pak. Jam berapa?
Balasan dari seberang masuk dalam hitungan detik.
Heru
Jam 13.30 tepat. Datang sendiri, jangan ajak siapa-siapa. Ini pembicaraan personal terkait regulasi internal HR.
Dita menatap kata personal di baris teks. Rahangnya mengencang di bawah kulit pipinya. Ia meletakkan ponselnya menghadap meja, lalu mengalihkan matanya ke barisan angka digital di layar komputer.
Koridor lantai dua belas yang dihuni divisi Human Resources lebih sunyi setelah jam makan siang.
Di dinding kanan koridor, berjejer poster-poster korporat berbingkai akrilik dengan teks tebal berwarna biru tua.
INTEGRITY STARTS WITH YOU
SAFE WORKPLACE, STRONG WORKPLACE
SPEAK UP CULTURE - LAPORKAN SETIAP PELANGGARAN ETIKA Melalui KANAL RESMI PERUSAHAAN
Dita memperlambat langkah kakinya tepat di depan poster bertuliskan SAFE WORKPLACE. Matanya membaca baris kalimat kecil di bagian bawah poster yang menjelaskan tentang perlindungan kenyamanan karyawan. Sudut bibirnya bergetar.
Ia merapikan kembali lipatan blousenya di depan kaca akrilik poster. Ia melanjutkan langkah menuju pintu kayu jati berlapis plitur gelap di ujung lorong. Nama HERU S. - HEAD OF HR tertenpel di plat kuningan kecil di tengah pintu.
Dita mengangkat tangan kanannya, mengetuk permukaan kayu tiga kali.
"Masuk," suara Heru terdengar dari dalam.
Dita memutar gagang pintu kuningan, mendorongnya perlahan.
Udara di dalam ruangan didominasi aroma parfum maskulin berserat kayu cendana. Meja kerja mahoni besar berdiri di tengah ruangan, bersih dari tumpukan kertas acak. Laptop terbuka di sisi kiri, menampilkan halaman folder internal yang terkunci.
Heru duduk di balik meja besar, mengenakan kemeja katun garis-garis abu-abu yang disetrika rapi.
Dita melangkah masuk, pintu di belakangnya tertutup. Ia berdiri tegak di depan meja kayu. "Bapak manggil saya?"
Heru menggeser dudukan kursinya, matanya bergerak lambat dari ujung sepatu, menyapu lekukan rok span yang membungkus panggul Dita, berhenti tepat di batas kerah blousenya. "Duduk, Dita."
Dita di kursi busa di depan meja, punggungnya tegak lurus, tidak menyentuh sandaran belakang.