DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #49

49. KONTRAK KEDUA

Lampu-lampu LED putih memancarkan cahaya terang benderang, memantulkan bayangan wastafel keramik dan cermin besar sepanjang dinding toilet wanita. Dita melangkah masuk, menuju bilik toilet nomor dua, memutar kunci plastiknya dari dalam, berdiri mematung di balik pintu. Ia keluar dari bilik, melangkah mendekati wastafel tengah. Tangan kanannya menekan tuas sabun cair, cairan beraroma melati menumpuk di telapak tangannya. Ia memutar kran otomatis, aliran air dingin mengalir deras membasahi seluruh permukaan kulit jarinya.

Dita menggosok sela-sela jarinya, punggung tangannya, hingga batas pergelangan tangannya berulang-ulang.

Ponsel di dalam saku blouse-nya bergetar panjang. Dita mematikan kran air, meraih selembar tisu, mengeringkan jemarinya, lalu membuka layar ponsel.

Monic

Lo balik jam berapa hari ini, pejabat corporate?

Dita menatap baris teks maki harian dari Monic. Jemarinya bergerak di atas layar ponsel.

Dita

Belum tahu.

Monic

Kerja mulu lo. Awas nanti pantat lo jadi datar kayak kursi kantoran.

Sudut bibir Dita bergerak, hampir membentuk sebaris senyum. Otot wajahnya mendadak kaku. Ia mengetik Mon di layar ponsel.

Jempolnya tertahan di atas tombol kirim. Ia menatap ketikan pesan tiga detik, lalu menekan tombol backspace berulang kali.Ia menyusun baris kalimat baru.

Dita

Nanti kalau gue pulang ke kosan... lo jangan tidur duluan ya, Mon.

Monic

Kenapa emangnya? Lo mau sesi curhat atau mau dengerin gue maki-maki lo kayak biasa?

Dita menatap pantulan matanya di cermin.

Dita

Dua-duanya.

Status typing bergerak di kolom chat seberang.

Monic

Pulang, Dit.

Jakun tenggorokan Dita bergerak turun-naik. Ia mengunci layar ponselnya, memasukkannya ke saku blousenya, lalu melangkah keluar dari toilet.

Pukul lima sore lewat lima belas menit. Koridor utama lantai empat sudah mulai sepi dari pergerakan staf, beberapa orang berjalan terburu-buru membawa laptop dan tas punggung menuju arah lift.

Dita berjalan lambat melintasi dinding beton yang dipenuhi poster-poster regulasi internal. Langkah kakinya berhenti tepat di depan poster akrilik bertuliskan SPEAK UP CULTURE.

Matanya membaca kembali baris kalimat promosi corporate.

"Laporkan setiap bentuk pelanggaran etika profesional, pemaksaan, dan pelecehan seksual di lingkungan kerja melalui kanal pengaduan resmi perusahaan demi menjaga integritas bersama."

Dita berdiri mematung di depan poster beberapa detik. Tangan kanannya bergerak masuk ke dalam saku tas, jemarinya menyentuh ponselnya. Layar ponsel dinyalakan, jarinya bergeser di atas ikon aplikasi email internal.

Denting lift berbunyi, Dita menoleh ke arah lift. Pintu lift bergeser, Heru berdiri di barisan palingan depan. Tatapan mata mereka bertemu, Dita menurunkan pandangan ke bibir Heru yang tersenyum.

Pintu lift kembali tertutup. Dita menurunkan kembali tangan kanannya ke samping badan, layar ponselnya mati kembali gelap. Ia menarik napas pendek, menegakkan kerah blousenya, lalu melanjutkan langkah kakinya menuju pintu lift.

Taksi online yang ditumpangi Dita berhenti tepat di depan mulut gang sempit kawasan Mampang. Raung knalpot motor yang melintas dekat kaki, suara deru televisi dari warung kelontong, dan gumam rendah beberapa pemuda yang mengobrol di atas pos ronda kayu bercampur di udara. Aroma minyak jelantah dari penggorengan martabak telur naik ke udara bersama asap rokok sachet.

Dita melangkah menyusuri gang, tubuhnya masih terbalut rapi setelan blouse kantoran, pandangan matanya menatap kosong ke arah deretan ubin semen jalanan.

Lihat selengkapnya