Lantai marmer putih lobby utama Prames Group memantulkan siluet lampu gantung kristal yang berpendar statis. Bilah-bilah pagar pembatas turnstile berdenting setiap kali kartu akses karyawan ditempelkan. Di balik meja resepsionis, dua perempuan berseragam blazer abu-abu tersenyum, mengangguk pada setiap kepala yang melintas.
Dita melangkah keluar dari koridor lift tiga. Blouse barunya terkancing di bawah jakun. Rambutnya dikuncir kuda tanpa menyisakan sehelai pun anak rambut yang lepas. Sapuan bedak padat dan lipstik menutup bekas sobekan di sudut bibirnya.
Dita menarik kursi kerjanya, meletakkan tas, lalu menekan tombol daya di CPU di bawah meja.
Maya, staf administrasi dari kubikel sebelah, menggeser kursinya. Tubuhnya condong melewati sekat fiber. "Dit. Lo udah denger?"
Layar monitor Dita menampilkan logo Windows yang berputar lambat. "Denger apa?"
Maya melirik ke arah koridor. "Pak Heru dipanggil ke atas."
Jari telunjuk Dita berhenti di atas tombol Enter. Matanya terpaku pada pantulan dirinya di layar monitor yang belum menyala. "Atas mana?"
"Bukan cuma HR Director, Dit," Maya mencondongkan dada, tangan kanannya menutupi sebagian mulut. "Katanya langsung ke lantai Pak Alvin. Jam tujuh pagi tadi, sebelum yang lain dateng."
"Kenapa?"
Maya menelan ludah, jakunnya bergerak naik-turun. "Ada laporan masuk lewat jalur khusus. Pelecehan."
Dengung mesin fotokopi di ujung ruangan mendadak terdengar lebih nyaring. Bunyi bip panjang dari telepon meja yang tidak diangkat di seberang ruangan berulang lambat di telinga Dita.
Dita menatap dokumen spreadsheet yang mulai terbuka.
Maya mengamati samping wajah Dita yang kaku, lalu menghela napas pendek. "Gue juga syok banget. Tapi gosipnya... bukan cuma satu orang yang ngisi form laporan."
Dita menoleh pelan. "Bukan satu?"
Maya menggeleng lambat, matanya melebar. "Katanya ada beberapa nama dari divisi lain juga. Anak magang tahun lalu juga disebut."
Dita memegang tetikus, mengarahkan kursor ke kolom presensi digital, lalu menekan satu kali. "Kerja dulu, May. File mingguan belum ditarik."
Maya tertegun, melihat jemari Dita bergerak di atas papan ketik. "Lo... nggak penasaran sama sekali?"
"Penasaran nggak bikin laporan rekonsiliasi gue selesai sebelum makan siang."
Maya menarik kursinya ke kubikelnya dengan helaan napas kecewa.
Di layar monitor, kursor Dita berkedip-kedip di sel kosong nomor 42. Tangannya diam di atas keyboard.
Lantai tiga puluh enam tidak menyisakan ruang bagi kebisingan lantai bawah. Karpet wol tebal meredam setiap gesekan sol sepatu. Dinding kaca setinggi tiga meter di ujung ruangan menampilkan bentang gedung-gedung Jakarta yang tersamar kabut polusi kelabu.
Alika melangkah masuk membawa tablet kerja berbalut kulit hitam. Langkahnya tertahan di dekat meja sekretaris yang kosong, ia melihat Alvin duduk tegak di balik meja mahoni besarnya.
Kemeja putih Alvin licin tanpa lipatan, lengan panjangnya dikancing rapi di pergelangan tangan. Empat lembar kertas dengan kop surat resmi perusahaan terjajar paralel di samping tablet, layarnya terus menyala.
Alika mendekat, meletakkan tabletnya di ujung meja. "Kak?"
Mata Alvin bergerak dari baris pertama hingga baris terakhir dokumen di hadapannya. Jemari tangan kanannya mengetuk meja.
"Ada apa?" Alika bertanya lagi, matanya melirik kertas-kertas di depan Alvin.
Alvin menggeser tablet, mengarahkannya ke depan dada Alika. "Baca bagian ringkasan eksekutifnya."
Alika mengambil tablet, matanya menatap dokumen PDF bertanda air CONFIDENTIAL — INTERNAL INVESTIGATION.
...penggunaan relasi kuasa dalam proses evaluasi kontrak tahunan...
...indikasi intimidasi verbal dan visual di dalam ruang kerja tertutup...
...catatan pengunduran diri mendadak staf administrasi procurement atas nama S. Amanda (Februari 2026)...
Alika menggeser layar ke bawah, membaca deretan lampiran kronologi. "Heru?"
"Heru," Alvin menyahut pendek.
Alika meletakkan tablet ke atas meja. "Ini baru masuk lewat whistleblowing system?"
"Dua laporan baru masuk minggu lalu," Alvin berdiri, memutar tubuhnya menghadap dinding kaca, membelakangi Alika. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana bahan. "Tiga laporan lama tertimbun di dalam folder arsip digital komite penegakan disiplin. Seseorang ngerubah status pemeriksaannya menjadi selesai tanpa indikasi."
Alika menatap layar tablet di atas meja.
Alvin berbalik menghadap meja. Ia mengambil lembar kertas teratas, menatap logo lingkaran Prames di sudut kiri atas. "Papih selalu bilang, struktur yang besar nggak pernah runtuh karena hantaman dari luar. Struktur itu membusuk dari meja-meja kecil yang luput dari audit."