Di dalam ruang kerja lantai tiga puluh enam, sisa-sisa pemeriksaan tertinggal di atas meja kerja Alvin. Dua buah hardisk lepas berlabel merah dan tumpukan berkas cetak tersebar di samping cangkir kopi.
Alika berdiri di dekat jendela besar, matanya mengamati pergerakan mobil-mobil kecil di jalanan bawah gedung yang mulai menyalakan lampu senja. Alvin duduk di kursi besarnya, ia memijat pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk.
"Kakak yakin sama validitas semua laporan itu?" Alika bertanya tanpa membalikkan tubuh.
Alvin menatap lurus ke arah tumpukan berkas di depannya. "Kakak lihat polanya, Alika. Satu laporan bisa jadi upaya pembunuhan karakter personal. Dua laporan bisa dianggap kebetulan operasional. Tapi lima laporan dari rentang waktu berbeda dengan modus operasional yang sama persis... itu struktur kejahatan."
Alika memutar tubuhnya, bersandar di bingkai jendela. "Yang jadi masalah kenapa sistem pengawasan kita baru bisa menangkap ini sekarang."
"Karena orang yang seharusnya menjadi gerbang pelaporan menggunakan jabatannya untuk jadi dinding pembatas," jemari Alvin mengetuk lembar laporan komite disiplin.
Alika berjalan mendekati meja, matanya melirik ke arah tablet. "Dita nggak masuk dalam daftar pelapor awal maupun saksi tambahan."
Alvin mendongak, alisnya bertaut sedikit. "Kamu kenal staf itu?"
"Dia salah satu penghuni di rumah kos Juna di Mampang," suara Alika datar. "Dan dia baru masuk ke divisi administrasi lewat jalur rekomendasi HR tiga bulan kemarin."
Alvin menatap layar tablet di dekatnya, jemarinya menggeser bagan organisasi divisi administrasi bawah. "Ada indikasi keterlibatan langsung atau tekanan berkas dari Heru?"
"Aku punya bukti fisik buat menyimpulkan itu."
Alvin menatap wajah Alika. "Alika, jika kamu tahu fakta operasional di lapangan, jangan ditahan cuma karena rasa kasihan personal."
"Kadang-kadang, Kak," Alika menatap balik Alvin, "seseorang milih untuk tetap diam bukan karena mereka berbohong. Tapi karena mereka belum punya ruang yang aman buat buka lukanya."
Alvin menatap meja mahoninya, lalu mengangguk. "Kakak paham." Alvin menjeda. "Tapi mulai hari ini, sistem di Prames Group harus dipastikan siap buat mendengar tanpa memandang siapa yang berbicara."
Pukul 17.15. Lampu-lampu kubikel di Divisi Administrasi mulai dimatikan satu per satu. Suara langkah sepatu yang terburu-buru menuju lift mendominasi koridor luar.
Dita kembali ke meja kerjanya, Ia menekan tombol backspace, layar monitor kembali menyala.
Notifikasi surel baru muncul di sudut kanan bawah layar.
Sender: Internal Committee - Corporate Governance Prames Group
Subject: STATUS REKOMENDASI ASSISTANT MANAGER — UPDATE STATUS
Dita membuka pesan.
...sehubungan dengan adanya proses investigasi internal yang sedang berjalan di dalam Divisi Human Resources, seluruh berkas rekomendasi promosi atas nama Dita Pratiwi (NIK: 260911) dialihkan pemeriksaannya ke Komite Lintas Divisi...
...proses evaluasi kompetensi tetap berjalan sesuai jadwal tanpa adanya penundaan struktural...
Dita membaca baris kalimat berulang-ulang.
Maya berjalan melintas di depan kubikel Dita. "Dit, lo udah buka email pengumuman dari komite disiplin grup?"
Dita mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Berkas promosi lo aman kan? Tetap diproses?"
"Iya. Dialihkan ke komite lintas divisi," Dita menyahut pendek.
Maya tersenyum, menepuk pundak Dita. "Bagus deh. Berarti keadilan masih ada di kantor ini. Duluan ya, Dit."
"Mari, May," Dita menjawab tanpa ekspresi.
Matanya kembali terpaku pada frasa Assistant Manager yang tertera di bagian atas email.
Suasana area kerja sepenuhnya gelap, menyisakan pendaran cahaya dari monitor laptop Dita. Ia membuka aplikasi pesan instan di ponselnya, memilih kontak Monic. Jempolnya bergerak di atas layar.
Heru kena kasus. Dia dikeluarkan hari ini.
Dita menahan jarinya di atas tombol kirim, lalu menekan tombol hapus. Ia mengetik baris baru.
Dita
Lo di kosan?
Balasan masuk dalam hitungan detik.
Monic
Di mana lagi emangnya, kantor dinas perpajakan? Gabut amat lo nanya.
Sudut bibir Dita bergerak tipis.
Dita
Lo nggak ngelonte malam ini?