Di ruang depan kantor JNR Solution, tiga pasang sepatu bergerak di atas lantai, Mira menarik tuas selotip, bunyi srek panjang sebelum menempelkannya di atas kardus berkas penutup tiket customer support. Di dekat pintu kaca, Deni menggerakkan kain mikrofiber basah berulir di atas meja ruang tunggu, menghapus noda melingkar bekas gelas kopi. Ucup berjongkok di sudut, melilitkan kabel roll hitam ke lengan kirinya. Telepon meja di kubikel admin berdering dua kali sebelum mati otomatis, dialihkan ke pesan suara.
Juna duduk tegak menghadap monitor laptopnya di meja tengah. Jari telunjuknya diam di atas tetikus. Tulisan Proposal_Bumi_Arta_Final.pdf — Sent successfully tertulis di sudut kanan atas layar.
Helm cargloss hitam pekat diletakkan di sisi kanan laptop Juna. Rafi berdiri di samping meja, tangan kanannya memegang jaket jins yang tersampir di bahu. "Lo pulang le Mampang?"
"Iya."
Rafi menatap samping wajah Juna. "Jangan."
Juna menoleh, alisnya bertaut. "Maksud lo?"
Rafi mengangkat helmnya, memasukkan ke kepala. Tali pengikat helmnya menggantung bebas di bawah dagu. "Jangan pulang ke Mampang dulu."
"Kenapa?"
Rafi memutar tubuhnya, menghadap ke arah pintu keluar, matanya membidik Juna. "Tiap lo pulang ke Mampang, muka lo besoknya kayak orang habis debat sama tembok."
Juna mendengus, lengannya bersedekap di dada. "Lo mau ngajak gue ke mana?"
"Ke kos gue."
Juna mengangkat alis kirinya. "Tumben amat."
"Ada kamar kosong sebelah," Rafi mengetuk kaca helmnya. "Pemiliknya nyari orang. Murah buat ukuran daerah situ. AC hidup. Kamar mandi dalam. Nggak ada suara orang berantem jam dua pagi."
Juna menatap lurus mata Rafi di balik kaca helm. "Lo nyuruh gue pindah?"
Rafi mengangkat kedua bahunya, jaket jinsnya merosot di lengan. "Gue nyuruh lo lihat pilihan."
Juna diam. Tangannya turun dari dada, bertumpu di pinggiran meja kayu.
Rafi mengalihkan pandangannya ke luar pintu kaca. "Mampang udah terlalu banyak nyimpen lo, Jun."
Mata Juna menyapu permukaan laptopnya yang tertutup, lalu beralih ke arah gantungan tas di samping meja. "Gue ambil tas dulu."
Rafi mengangguk.
Di dekat pantry, lilitan kabel roll di tangan Ucup berhenti bergerak. Tubuhnya condong ke depan. "Bos mau pindah?"
Juna menoleh ke arah sudut ruangan. "Baru lihat."
Kepala Deni muncul dari balik sekat kayu pantry, selembar kain lap masih menggantung di pundaknya. "Kalau Bos pindah, siapa yang jadi bahan gosip kos?"
Ucup menjatuhkan sisa lilitan kabel ke dalam kotak perkakas, lalu menepuk pundak Deni. "Tenang. Selama manusia miskin dan cinta ada, gosip nggak akan habis."
Rafi mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke arah kedua orang di dekat pantry. "Lihat, Jun. Bahkan OB lo lebih siap kehilangan lo daripada lo kehilangan Mampang."
Sudut bibir Juna bergerak naik.
Langit di atas jalur layang Kuningan bergeser warna abu-abu pekat di ujung cakrawala. Deretan lampu belakang mobil menyala merah. Bunyi klakson pendek bersahut-sahutan dari sela-sela mobil, berbaur dengan deru mesin matik yang berakselerasi setiap kali celah jalan terbuka satu meter. Bau gas buang knalpot dan aroma minyak gorengan dari gerobak pinggir jalan mengambang pekat di udara.
Juna memutar tuas gas motornya, menjaga jarak tetap tiga meter di belakang spatbor belakang motor Rafi. Mereka memotong jalur busway, membelah kepadatan, lalu berbelok masuk ke sebuah jalur sekunder. Suara gemuruh jalan protokol perlahan surut, digantikan bunyi ban menggilas pembatas jalan perumahan.
Di sisi kiri dan kanan lorong, jajaran papan nama akrilik putih dengan lampu LED kecil. Laundry Kiloan 24 Jam, Indomaret Fresh, dan deretan bangunan tiga lantai bercat abu-abu minimalis dengan kanopi baja ringan.
Rafi memperlambat motornya di depan lampu merah kecil dekat persimpangan warung kopi modern, berhenti di samping motor Juna. Ia mengangkat kaca helmnya. "Daerah sini enak. Kalau stres, lo bisa beli kopi dua puluh ribu biar merasa hidup lo produktif."
Juna mengedarkan pandangan ke arah kedai kaca di seberang jalan. "Dua puluh ribu buat kopi?"
"Namanya juga kelas menengah," Rafi menurunkan kembali kaca helmnya. "Miskin tapi tetep berkelas."
Lampu berubah hijau. Rafi memutar gas lebih dulu, meninggalkan asap tipis dari knalpotnya yang bergerak membelah tikungan.
Motor Rafi berhenti tepat di depan pagar besi tempa hitam setinggi dua meter. Di atas pilar beton gerbang, kamera CCTV berbentuk kubus kecil mengarah lurus ke area parkir. Tiga pot pohon palem kipas berjejer rapi di samping celah pintu masuk utama.
Di dinding lobi yang dilapisi keramik bertekstur kayu, papan pengumuman akrilik menampilkan tulisan TAMU WAJIB LAPOR - JAGA KETENANGAN SETELAH 22.00 - DILARANG MEMBAWA HEWAN PELIHARAAN TANPA IZIN
Di sudut lantai dasar, deretan sandal jepit karet bersanding dengan sepatu kulit kerja dan flat shoes perempuan di atas rak kayu bertingkat. Dari balik jendela lantai dua, sayup-sayup terdengar bunyi klik dispenser dan suara televisi yang menyiarkan berita malam.
Juna menurunkan standar samping motornya, menatap ke arah balkon lantai atas tempat sebaris pakaian kerja digantung rapi.
Rafi meletakkan helmnya di atas spion. "Ini dia. Tempat persembunyian laki-laki yang gagal dewasa tapi punya AC."
Juna turun, membetulkan posisi tali tasnya yang miring. "Kos lo lebih rapi dari gue kira."
"Karena yang rapi bukan gue."
Daun pintu kayu di lantai dua berayun terbuka. Seorang perempuan melangkah keluar memegang kantong plastik sampah hitam kecil yang diikat mati di ujungnya. Ia berjalan menuruni tangga, menuju tempat sampah bersama. Kaus putih ukuran besar yang dipakainya longgar di bahu, dipadukan celana pendek katun abu-abu. Rambut hitamnya digulung asal-asalan ke atas, beberapa anak rambut di menempel tengkuknya yang berkeringat. Wajahnya bersih dari riasan, sepasang lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang menatap lurus ke arah Rafi.
Tari berhenti dua langkah di depan tempat sampah. "Mas, lo lupa buang sampah lagi."
Rafi menoleh. "Aku baru pulang."
"Sampahnya dari tadi pagi." Tari memegang plastik sampah terangkat sedikit.
Rafi memutar tubuhnya, mengarahkan telapak tangannya ke arah Juna. "Jun, kenalin. Ini bukti kalau gue masih ada yang mau nampung."
Tari mengalihkan pandangannya, menatap jins dan jaket katun yang dipakai Juna. "Juna?"
Juna mengangguk, kepalanya merunduk tipis. "Iya. Maaf ganggu."
"Nggak ganggu," Tari menggeser plastik sampah ke tangan kirinya. "Selama lo nggak kayak dia."
Juna melirik Rafi sedang membetulkan posisi spion motor. "Standarnya rendah atau tinggi?"
"Rendah," Tari menyahut cepat, "tapi dia tetap sering gagal."
Rafi merebut kantong plastik hitam dari genggaman Tari. "Oke, gue buang. Jangan bongkar aib di depan direksi."
Tari melipat kedua lengannya di depan dada. "Direksi yang mana?"
Rafi menunjuk dada Juna. "Direktur utama."