DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #53

53. MAKAN MALAM

Sinar matahari sore menyusup melalui celah tirai ruko, menyinari debu-debu yang melayang di ruang depan JNR Solution. Mira mengelap permukaan meja kayu dengan kain mikrofiber, menggeser tumpukan brosur lurus sempurna. Di sudut dekat koridor, bunyi gesekan kain pel bersentuhan dengan lantai granit. Ucup bergerak mundur, matanya menatap sisa noda kopi yang memudar di dekat pot tanaman plastik. Deni berdiri di ambang pintu pantry, memeras kain lap ke dalam ember hitam.

Di dekat area dapur bersih, sebuah cermin persegi kecil memantulkan kerah kemeja katun abu-abu. Jari-jari Rafi bergerak kaku, menarik bagian kerah yang sedikit menekuk ke dalam, lalu merapikan lipatan pundak kemejanya. Juna berdiri dua langkah di belakangnya. Kemeja putihnya terpasang rapi di bawah blazer biru tua. Pergelangan tangan kirinya bergerak berulang kali, memutar-mutar jam tangan kulit hitamnya. Matanya menatap bayangan ujung sepatunya yang mengilap.

Nara duduk di kursi kerjanya, menghadap laptop, matanya menatap grafik batang hitam-hijau. Blazer hitam tanpa kerah dan dalaman berpotongan tinggi membalut tubuhnya. Jemarinya mengetuk pelan tepi meja kayu.

Pintu kaca ruko terdorong dari luar, Alika melangkah masuk mengenakan celana kain berpotongan lurus dan atasan satin berleher tinggi putih. Anting perak kecil di telinganya memantulkan cahaya lampu koridor.

Rafi memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri di depan kaca. "Menurut kalian, gue keliatan kayak konsultan atau supir komisaris?"

Nara tmenatap layar. Jari telunjuknya menggeser trackpad. "Kalau diam, konsultan."

"Berarti masalahnya mulut," sahut Rafi, tangannya beralih menurunkan bagian bawah kemejanya.

"Dari awal." Nara menutup satu tab browser-nya.

Juna melepaskan pegangan pada jam tangannya, lengannya jatuh di sisi badan. "Ini makan malam biasa kan?"

Alika berhenti tepat di samping meja resepsionis, matanya beralih dari Juna ke jam dinding. "Sama Papih? Nggak ada yang biasa."

Rafi berbalik dari cermin, bersandar di tepi meja pantry. "Kita perlu bawa laporan, atau cukup bawa akhlak?"

Alika menghela napas pendek, tas tangannya berpindah ke lipatan siku kiri. "Bawa akhlak yang bisa bertahan minimal dua jam."

"Berarti gue tinggal di kantor," ucap Rafi datar.

Juna menarik sudut bibirnya, jemarinya kembali memegang tali jam tangan kirinya.

Nara menurunkan layar laptop, lalu memasukkan ke dalam tas kulitnya. "Kita datang sebagai JNR Solution. Bukan anak-anak yang ditraktir orang kaya."

Alika menatap Nara, mengangguk pelan. "Betul."

Juna menatap Alika, lalu beralih ke Nara yang sudah berdiri tegak memanggul tasnya.

Ucup melangkah mendekat dari arah koridor, memegang gulungan lem pembersih pakaian di tangan kanan. "Bos, blazer lo ada debu." Ia mengarahkan rol ke bagian belakang bahu Juna, menggeseknya dua kali.

Juna membiarkan tubuhnya digerakkan sedikit dorongan tangan Ucup. "Lo sekarang stylist juga?"

"Operational support, Bos. Semua yang belum ada orangnya, gue yang pegang." Ucup melangkah mundur mendekati ember pelnya.

Dari arah pantry, Deni mengangkat ember hitam yang mulai penuh air keruh. "Kalau Bos ketemu orang kaya, jangan banyak ngomong soal gaji lima juta."

Rafi melangkah maju, menepuk pundak Deni. "Den, malam ini kita semua pura-pura mahal."

Deni memandang kerah kemeja Rafi, lalu turun ke sepatu pantofelnya. "Berat, Bang."

Kaca jendela mobil Avanza hitam kantor memantulkan kerlip lampu jalanan Sudirman yang padat. Kendaraan berbelok ke arah kiri menembus kawasan Menteng. Di luar jendela, jejeran lampu jalan berubah dari neon kuning terang menjadi pijar putih redup menyinari trotoar lebar berbatu andesit. Pagar-pagar besi hitam setinggi tiga meter berdiri kokoh di balik deretan pohon palem rajah. Suara klakson berganti dengan kesunyian yang panjang.

Rafi menempelkan sisi dahinya ke kaca mobil, matanya bergerak mengikuti tinggi pagar-pagar rumah yang mereka lewati. "Jun, kalau gue hilang di sini, bilang ke Tari gue diculik kapitalisme."

Nara menatap lurus ke depan, telapak tangannya bertumpu di atas pangkuan. "Kapitalisme punya standar."

Rafi memindahkan punggungnya ke sandaran jok, menepuk dadanya. "Sakit, tapi valid."

Juna memandang keluar. Rumah-rumah di kanan-kiri jalan memiliki halaman depan yang luas dengan hamparan rumput tanpa jemuran atau sepeda motor yang terparkir acak. Pos satpam kecil berbahan granit berdiri di setiap sudut gerbang. Jarak antara satu rumah ke rumah lainnya dipisahkantembok beton tebal berselimut tanaman merambat.

Alika memiringkan kepala dari balik punggung kursi belakang, menatap samping wajah Juna yang terkena sorot lampu jalan bergantian. "Lo nggak apa-apa?"

Juna menoleh lambat. "Apa?"

"Muka lo kayak mau pitching ke presiden."

"Bokap lo levelnya beda tipis." Juna membetulkan posisi duduknya, menarik bagian bawah blazers-nya.

Alika tersenyum tipis. "Papih bukan monster."

Dari kursi depan, Rafi menyahut tanpa menoleh. "Itu yang bikin lebih serem. Kalau monster, kita tinggal lari."

"Jangan lari di rumah orang. Norak," ujar Nara tanpa mengubah arah pandangnya dari dasbor mobil.

Rafi mengangguk sekali ke arah kaca. "Catat. Kalau panik, jalan cepat dengan martabat."

Alika kembali menatap Juna. Jarinya berulangkali mengetuk lutut. "Lo tegang?"

"Enggak."

"Tapi muka lo tegang," sahut Alika pelan.

"Keliatan banget ya?" Juna menoleh, menatap mata Alika.

"Heem," Alika mengangguk.

Juna melepas ketukan jarinya, menatap telapak tangannya. "Gue cuma mikir."

"Jangan terlalu banyak. Di rumah gue, orang yang kelihatan mikir biasanya ditanya Papih."

Rafi menegakkan posisi duduknya, kepalanya muncul di antara celah kursi depan. "Kalau gue kelihatan kosong aman berarti?"

Alika tertawa kecil . "Lo mungkin ditanya Alvaro."

"Alvaro?" Rafi menaikkan satu alisnya.

"Adik gue. Anak bontot. Umur sembilan belas. Masih kuliah. Gamer. Tidur jam tiga pagi kalau Mamih nggak ngamuk."

Pundak Rafi turun, ia bersandar lebih santai. "Oh, baby boss."

Nara memutar kepalanya. "Jangan panggil dia begitu di depan orang tuanya."

"Catat. Baby boss hanya untuk internal JNR." Rafi menggerakkan jari telunjuknya di udara.

Juna menarik napas panjang, menahan senyumnya di ujung bibir. Alika menggelengkan kepala, lalu kembali bersandar pada kursinya. "Dia lebih bahaya dari kelihatannya."

"Anak bontot emang begitu. Kelihatannya lucu, tahu-tahu semua orang nurut," balas Rafi.

Mobil melambat saat mendekati gerbang besi tempa hitam berukuran besar. Seorang pria berseragam safari abu-abu melangkah keluar dari pos, menyorotkan senter kecil ke arah kaca depan, lalu mengangguk setelah melihat wajah Alika di dalam. Gerbang bergeser terbuka.

Mobil bergerak lambat menyusuri jalan setapak berbatu alam, memutari lingkaran taman kecil, air mancur rendah di tengahnya, sebelum berhenti tepat di bawah drayase depan bangunan kolonial dua lantai bercat putih gading. Juna menelan ludah, matanya menatap pilar-pilar beton besar yang menopang atap teras depan rumah.

Bayangan lampu gantung kristal di atas langit-langit setinggi lima meter terpantul di lantai marmer krem tanpa sambungan. Udara di dalam ruangan sejuk aroma samar kayu cendana dan rangkaian bunga sedap malam segar yang tertata di dalam vas porselen setinggi pinggang. Di dinding sebelah kanan, lukisan lanskap abstrak berukuran besar, bingkai kayu gelap terpasang kokoh, diberi pencahayaan khusus dari lampu sorot kecil di atasnya.

Seorang wanita paruh baya mengenakan seragam kain katun biru tua melangkah tanpa suara di atas lantai, berhenti tiga langkah di depan mereka, tangan tertelungkup di depan perut.

"Selamat malam. Bapak Albert dan Ibu Kartika sudah menunggu."

Alika melangkah maju mendahului rombongan. "Terima kasih."

Rafi memiringkan badannya ke arah Juna. "Ibu Kartika itu ibunya Alika?"

Juna menatap lurus punggung Alika. "Menurut lo?"

"Gue cuma memastikan pohon keluarga sebelum salah panggil."

"Panggil Ibu Kartika. Jangan improvisasi," sela Nara di sisi kiri Rafi.

"Oke. Dilarang manggil Bunda Kerajaan."

Alika memutar kepalanya ke belakang.

Rafi menegakkan lehernya, pandangannya beralih ke langit-langit. "Nggak jadi."

Ruang makan dikelilingi panel kayu jati gelap di sepanjang dindingnya. Meja makan panjang berkapasitas dua belas kursi berada di tengah ruangan.

Albert Prameswari duduk di kursi kayu berporos tinggi di kepala meja. Ia mengenakan kemeja batik sutra lengan panjang berwarna gelap. Tubuhnya bersandar tenang di sandaran kursi, lengannya bertumpu di atas lengan kursi kayu. Di sisi kirinya, Kartika duduk anggun, rambutnya disanggul rendah, blus sutra hijau lumut yang serasi dengan kalung mutiara kecil di lehernya.

Alvin berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman dalam, memegang ponsel tipis hitam, baru saja menurunkannya dari telinga saat pintu ruang makan terbuka. Di salah satu kursi di sisi kanan meja, Alvaro duduk agak meluncur ke bawah. Ia mengenakan hoodie hitam tebal berserat halus, kaus putih terlihat di bagian kerah. Satu tangannya memegang ponsel gaming horizontal, sepasang earbud putih tergeletak di samping piring kosongnya.

Alika melangkah mendekati sisi meja ibunya. "Pih. Mih."

Kartika menegakkan tubuhnya, mengangkat kedua tangannya, menyentuh lengan Alika, lalu tersenyum tipis. "Alika."

Albert berdiri lambat dari kursinya. "Selamat malam."

Juna melangkah maju lebih dulu. Ia mengulurkan tangan kanannya. "Selamat malam, Pak. Terima kasih sudah mengundang kami."

Albert menyambut jabat tangan Juna. "Juna Pranata."

"Iya, Pak."

Albert melepaskan tangannya. "Alika banyak nyebut kamu."

Lihat selengkapnya