DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #54

54. HUBUNGAN?

Pintu kaca besar yang membatasi ruang makan dengan area lounge terbuka lebar, udara malam bercampur dengan gemercik air kolam koi dari taman belakang. Di dalam lounge, sofa kulit berukuran besar cokelat tua mengelilingi meja kaca berkaki besi tempa. Di atas meja, cangkir-cangkir kopi espresso berukuran kecil dan piring macaron aneka warna telah tertata.

Di sudut dekat lemari buku, Alvin berdiri memegang tablet hitam, menunjukkannya kepada Nara yang berdiri di sampingnya. Jari Alvin menggeser baris dokumen di layar, Nara memperhatikan, kepalanya agak miring ke depan.

Alvaro duduk di sofa tengah, kaki yang disilangkan di atas lutut, tangannya bergerak lurus memeragakan sesuatu di udara kepada Rafi yang duduk di sebelahnya sambil memegang cangkir kopi kecil.

Di dekat pintu kaca menuju teras, Kartika berdiri bersama Alika. Kedua tangan Kartika terlipat di depan dada, matanya bergerak perlahan mengamati tiga titik interaksi di dalam ruangan tersebut.

Juna berdiri di atas lantai teras berbatu alam, beberapa meter terpisah dari area pintu kaca. Tangannya memegang gelas air putih, matanya menatap permukaan air kolam yang bergerak memantulkan cahaya lampu taman tersembunyi.

Di dalam, Alvin menurunkan tabletnya sedikit. "Saya kirim raw log besok pagi."

Nara menafao layar yang meredup. "Jangan jam enam."

"Kenapa?"

"Saya manusia."

Alvin menurunkan tabletnya ke samping tubuh, menatap wajah Nara dari samping, ia tersenyum tipis. "Saya mulai ragu."

Nara memutar kepalanya menghadap Alvin, otot-otot di sekitar pipinya melonggar, ikut tersenyum. Juna melihat pantulan senyuman melalui permukaan kaca besar teras, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke tanaman palem di depannya.

Di sofa, Alvaro mencondongkan badannya ke arah Rafi. "Bang, lo pernah main sampai subuh?"

Rafi menyesap kopinya, lalu meletakkan cangkir kecil ke atas meja kaca. "Pernah. Tapi biasanya bukan game."

Mata Alvaro melebar. "Maksudnya?"

Rafi mengangkat gelas air putih kosongnya setinggi dagu Alvaro. "Masih terlalu pagi secara moral buat lo tahu."

Alvaro tertawa keras, punggungnya membentur sandaran sofa. "Gue sembilan belas, Bang. Bukan SD."

"Justru karena lo sembilan belas, gue harus pura-pura dewasa." Rafi mengedipkan satu matanya.

Alvaro menunjuk dada Rafi. "Lo lucu. Gue follow lo nanti."

"Jangan. Instagram gue bukan untuk keluarga baik-baik."

Alvaro memajukan posisi duduknya lagi. Rafi menggeleng kepala, melirik ke arah pintu kaca. "Nah, lihat. Ini kenapa anak bontot harus diawasi."

Dari dekat pintu, Kartika menatap tawa Alvaro, alisnya bertaut tipis, lalu kembali menatap Alika yang berdiri di sampingnya. "Mereka menarik."

Alika mengikuti arah pandang ibunya ke arah sofa, lalu beralih ke arah Juna di teras luar. "Papih juga bilang begitu."

"Papih kamu melihat fungsi," ucap Kartika, suaranya pelan, nyaris tenggelam suara gemercik air kolam. "Mamih melihat akibat."

Alika memutar tubuhnya menghadap Kartika.

Kartika menatap lurus ke mata Alika. "Kamu bawa tiga orang yang nggak sederhana ke rumah ini. Pastikan kamu nggak hanya tertarik me mereka karena mereka buat hidupmu berbeda dari Prames."

Jari-jari Alika mempererat pegangan di tas tangannya, kulit tasnya sedikit meliuk ke dalam.

Udara malam Menteng bertiup pelan, menggerakkan daun-daun pohon kamboja di sudut taman. Di kejauhan, Juna berdiri bersandar di pagar pembatas teras, memegang gelasnya yang mulai berembun.

Langkah kaki halus terdengar mendekat dari arah belakang. Alika berjalan keluar, berhenti tepat di samping Juna, kedua tangannya bertumpu di pagar pembatas besi yang sama.

"Lo selamat," ucap Alika, matanya menatap lurus ke arah hamparan rumput hijau di bawah sorot lampu taman.

Juna memutar gelas di tangannya. "Dari apa?"

"Makan malam keluarga gue."

Juna mengembuskan napas panjang. "Belum tentu. Mungkin gue cuma belum sadar sudah dikubur."

Alika menarik sudut bibirnya tipis, matanya berkedip lambat. "Jawaban lo ke Papih bagus."

"Yang mana?"

"Belum terlalu jauh dari lantai."

Juna menurunkan pandangannya ke ujung sepatunya yang tertutup bayangan pagar teras. "Bagian itu karena gue emang masih sering di lantai. Gudang, kos, kantor, hidup."

Alika memutar kepala, menatap samping wajah Juna. Garis lelah terlihat samar di bawah kelopak matanya yang meredup. Bahunya turun, blazers-nya menggantung longgar.

Alika mengalihkan pandangannya kembali ke arah air kolam. "Mamih bilang gue lagi bangun rumah sendiri."

Juna mengangguk tanpa menoleh. "Itu bagus kan?"

Lihat selengkapnya