Jarum jam di atas lemari arsip JNR Solution berdetak menunjuk angka sepuluh lewat lima belas. Sinar matahari pagi menembus kaca depan ruko, garis-garis terang memotong debu di udara. Di atas meja kerja tengah, tiga gelas kertas bekas kopi instan menyisakan lingkaran hitam kering di dasarnya.
Rafi duduk bersandar di kursi kerja, memutar pulpen plastik di sela jarinya. "Demi dah, piringnya lebih gede dari velg motor gue, tapi isi salmonnya seukuran jempol lo, Cup."
Ucup yang mengelap monitor komputer di sudut ruangan. "Jempol gue gede, Bang. Jangan disamain."
Alika duduk di mejanya, menghadap tumpukan kertas laporan stok bulanan Glowinc. Jemarinya memegang pensil, ujung karbonnya tertahan di atas kertas. Matanya menatap baris angka penjualan yang tidak bergeser.
Di seberang ruangan, Nara duduk tegak. Jari-jarinya bergerak di atas keyboard laptop. Suara ketukan tombol enter sesekali terdengar di antara gumaman Rafi.
Juna menatap layar laptopnya. Draf proposal klien logistik baru terbuka di halaman empat, kursor hitam di baris kalimat utama berkedip tanpa tambahan satu karakter. Matanya sesekali bergerak ke samping, melirik pantulan Nara di permukaan kaca.
Tanganya meraih ponsel di atas meja. Layar terkunci. Tidak ada notifikasi. Ia meletakkan kembali ke atas meja.
Pintu ruangan Nara berderit pelan. Nara berdiri, merapikan letak blus katunnya, lalu meraih map kulit cokelat tua dan helm halfface abu-abu dari atas lemari.
Juna menghentikan ketukan jarinya di atas meja. "Lo mau ke mana?"
Nara berhenti di celah pintu ruangan Juna. "Cirebon."
Juna menaikkan dagunya, alisnya bertaut. "Hah?"
"Cirebon," ulang Nara.
"Hari ini?"
"Iya."
Juna melihat helm abu-abu di tangan kiri Nara. "Naik motor?"
"Iya."
Juna memutar kursinya menghadap Nara, punggungnya menegak. "Ra, Cirebon itu bukan Kemang."
"Gue tahu. Gue pernah tinggal di sana." Nara menggeser posisi pegangan mapnya.
"Makanya harusnya lo tahu itu jauh. Jalur Pantura jam segini isinya truk kontainer semua."
Nara melangkah mendekat, lalu meletakkan map cokelat di atas draf proposal Juna yang belum selesai. "Kan lo yang nganterin."
Juna terdiam, matanya menatap ikatan tali elastis hitam di map.
Dari arah pantry, Rafi menghentikan putaran pulpennya. "Wah."
Nara memutar kepalanya, menatap lurus ke arah mata Rafi. "Jangan mulai."
Rafi mengangkat kedua tangannya terbuka sejajar bahu. "Gue belum mulai, Bu Finance. Cuma merasakan sejarah sedang menghidupkan mesin penggerak roda dua."
Juna kembali mengalihkan pandangan ke wajah Nara. "Kenapa gue?"
Nara menatap mata Juna tanpa berkedip. "Karena lo hafal jalan. Lo juga dari sana, dan gue nggak mau nyetir sendiri. Dan juga kalau gue pakai mobil Prames atau driver, urusan pribadi gue berubah jadi laporan perjalanan resmi di meja silsilah."
Juna menatap sudut rahang Nara yang mengeras tipis. "Urusan apa?"
Nara menurunkan pandangan ke arah map cokelat. "Berkas lama."
"Berkas apa?"
"Dokumen keluarga. Arsip lama. Sisa hidup gue sebelum Jakarta." Nara mengambil jeda setengah detik sebelum meneruskan. "Dan beberapa barang AgriLintas."
Gerakan tangan Rafi tertahan di udara.
Juna menatap map di bawah telapak tangannya. "Lo yakin mau ke sana hari ini?"
"Nanya mulu, mau anterin nggak?" Jawab Nara datar.
Juna menarik napas panjang. "Kenapa motor?"
"Gue mau bisa berhenti kapan pun gue mau."
"Di Pantura? Pinggir jalan berdebu? Bau solar?"
"Iya."
Juna meraih helm merah yang tergantung di siku kursi kerja, lalu berdiri. "Lo ngajak gue road trip atau tes shockbreaker?"
Nara menyodorkan helm abu-abu di tangannya. "Dua-duanya kalau lo banyak protes sepanjang jalur Indramayu."
Rafi berdiri dari kursinya, merapikan letak kerah kemejanya, menatap ke langit-langit. "Sebagai direktur operasional yang menghargai keselamatan aset, gue mau menyatakan perjalanan ini tidak efisien, berbahaya, dan sangat menarik secara naratif untuk digosipkan minggu depan."
Nara membalikkan badannya ke arah koridor pintu keluar. "Kerja, Bang."
Rafi kembali duduk, tangannya memegang mouse. "Baik, Bu Finance. Anggaran aman."
Juna menatap pelindung kaca helm di tangannya. Ia melangkah mengikuti punggung Nara yang sudah mendorong pintu kaca depan.
Matahari siang menyengat pelataran parkir ruko JNR Solution. Juna berjongkok di samping roda belakang motornya, dua jempolnya menekan permukaan ban. Wajahnya menekuk, sisa keringat keluar di sekitar pelipisnya.
Nara berdiri dua langkah di belakangnya. Backpack hitam terpasang di pundaknya. Map cokelat di tangan kanannya. Jaket kain parasut tipis berwarna gelap menutup blus birunya hingga ke leher.
Rafi, Ucup, dan Deni berdiri berjejer di bawah bayangan kanopi ruko.
Deni melangkah maju, tangannya memegang gagang sapu. "Bos, ini perjalanan dinas resmi atau kawin lari berbasis spreadsheet?"
Nara memutar kepalanya perlahan, menatap mata Deni lewat kaca helm.