Langit ungu tua menggantikan warna oranye di langit perumahan. Kardus rokok besar sudah diikat kencang di atas behel belakang motor Juna, menyisakan ruang jok yang lebih sempit dari sebelumnya.
Juna berdiri di samping stang motor, tangannya memegang helmnya. Matanya melirik ke arah jalur keluar kompleks, mengarah langsung ke jalan raya lintas provinsi menuju Jakarta. "Kita bisa langsung ke agen ekspedisi di depan jalan buat kirim kardus ini, terus langsung balik sebelum truk malam keluar semua."
Nara menyalami tangan ibunya, lalu berbalik melangkah mendekati motor. Matanya menatap ke arah wajah Juna. "Kita mampir ke rumah lo dulu."
Juna menurunkan helmnya kembali ke atas spion. "Ngapain? Urusan lo udah selesai kan?"
"Lo sekarang lagi di Cirebon, Jun. Jarak dari sini ke rumah lo nggak sampai dua puluh menit."
"Gue ke sini cuma buat nganter lo, bukan buat agenda kunjungan keluarga." Juna memutar kunci kontak motor ke posisi off.
"Terus kalau orang tua lo tahu lo ada di kota ini dari omongan tetangga atau kerabat, lo mau bilang apa nanti lewat telepon?" Nara melangkah mendekat. "Maaf, Bu, saya kemarin ke Cirebon cuma jadi supir ojek operasional finance JNR?"
Juna mengembuskan napas panjang, kepalanya mendongak menatap kabel listrik yang melintang di atas gang. "Ngak usah, Ra. Nggak penting juga."
"Jun." Nada suara Nara menurun. "Pulang ke rumah sendiri, lima belas menit nggak akan bikin status direktur utama lo di Jakarta langsung miskin lagi."
Juna menatap mata Nara, tangannya meraih helmnya, lalu memasang ke kepala.
Nara naik ke jok belakang, lebih maju. Tubuhnya menempel di punggung Juna. "Jalan."
Juna memutar gas, motor meluncur membelah kegelapan gang.
Rumah orang tua Juna masuk ke dalam gang, ukurannya lebih kecil dari rumah Nara. Dua kursi plastik hijau dan satu unit motor bebek di teras depan. Aroma tumisan bawang merah dan minyak goreng panas keluar dari dalam rumah.
Deru mesin motor Juna mati di depan pagar bambu rendah, pintu depan rumah terbuka. Seorang wanita keluar dari rumah, rambut memutih di bagian depan menyeka tangannya yang basah. Wajahnya penuh kerutan halus mendadak menegang saat melihat Juna. "Juna?"
Juna melepas helmnya. "Iya, Bu."
Ibunya melangkah cepat menuruni satu anak tangga teras, matanya bergerak dari wajah Juna ke arah kardus besar yang terikat di belakang jok. "Kok nggak bilang-bilang sama Bapak kalau mau pulang? Ndak ada persiapan masak apa-apa di dalam."
"Mendadak, Bu. Cuma nganter Nara ambil barang sebentar." Juna menggeser badannya.
Ibunya menatap Nara turun dari motor, kedua tangannya terangkat di depan dada. "Nara? Ya Allah... pangling Ibu. Udah cantik banget sekarang, badannya tinggi kayak orang-orang kantoran Jakarta."
Nara tersenyum sopan, tubuhnya sedikit membungkuk, menyalami tangan ibu Juna. "Sehat, Bu?"
"Sehat, sehat, nduk. Ayo masuk dulu ke dalam. Bapak lagi benerin kipas angin di ruang belakang." Ibunya menepuk lengan Juna dua kali lalu berbalik ke dalam rumah.
Lemari pajangan kayu berdiri di sudut kanan ruang tamu, berisi tumpukan piala plastik kompetisi sepak bola tingkat kecamatan dan beberapa piagam kertas dalam bingkai. Kipas angin dinding berputar lambat di atas langit-langit.
Seorang pria tua melangkah keluar dari arah koridor dapur. Wajahnya keras, rahang persegi menurun. Matanya menatap Juna. "Pulang juga kamu akhirnya."