DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #57

57. MALAM TANPA NAMA

Malam bergerak semakin larut saat motor Juna membelah jalur utama lintas provinsi menuju barat. Jalanan dipenuhi barisan truk kontainer beroda sepuluh dan bus antar-kota yang melesat dengan kecepatan tinggi, meninggalkan embusan angin samping yang kuat, membuat stang motor bergoyang. Angin bertiup semakin kencang, suhu dingin menusuk kain jaket, awan hitam tebal di langit menutupi seluruh sisa cahaya bintang.

Lima kilometer setelah melewati perbatasan kota, rintik hujan pertama turun menempel di kaca helm Juna. Dalam hitungan detik, rintik hujan berubah menjadi guyuran air yang sangat lebat, membatasi jarak pandang hanya sejauh lima meter di depan roda motor.

Juna mengarahkan motornya ke arah kiri, menepi di pelataran parkir pom bensin kecil. Mereka turun dari motor, pakaian basah sebagian di bagian pundak dan lengan. Nara melepas helmnya, helai rambutnya menempel di pipi kanan.

Juna menyeka sisa air hujan di wajahnya. "Kita tunggu di sini sampai agak redaan. Ujannya banyak, jalan nggak keliatan."

Nara melihat ke arah langit malam di atas tangki pengisian bahan bakar. "Ini hujan pesisir, Jun. Lama redanya."

Juna mengeluarkan ponsel dari saku celana. "Yaudah, kita nginep dulu."

"Hah?" Nara menoleh cepat.

"Apa?" Juna ikut menoleh.

"Nginep? Dimana?" Nara mengejar.

"Disitu," Jari telunjuk Juna mengarah ke warung kopi di seberang jalan.

"Yang bener aja, Juna," suara Nara naik.

"Ya di hotel dong, Nara," Juna ikut menaikkan suaranya.

"Dua kamar," potong Nara dengan cepat, matanya menatap lurus ke mata Juna.

Juna mengembuskan napas pendek, uap tipis keluar dari mulutnya. "Ya iya, Nara. Yang ngajak satu kamar siapa?"

"Gue cuma mastiin aturan dasar sebelum otak operasional lo mulai bikin joke murahan di pinggir jalan."

"Baju gue basah, perut gue lapar, pantat gue mati rasa. Libido gue malam ini kalah mutlak sama insting survival dasar manusia," jemari Juna menggeser aplikasi peta di layar ponsel.

Nara menarik sudut bibirnya, ia kembali merapatkan jaket parasutnya yang lembap.

Juna menekan tombol panggilan di layar ponselnya, menghubungi nomor kontak beberapa losmen kecil yang tertera di peta digital. Suara mesin generator pom bensin di dekat mereka sesekali menenggelamkan suara operator di telepon. 

"Penuh. Kamar sisa mereka dipakai rombongan bus ziarah yang melipir gara-gara banjir di jalur depan," Juna menekan tombol daya, layar ponsel meredup.

Nara menggeser layar ponselnya, menatap papan nama penginapan kecil berjarak satu kilometer dari posisi mereka. "Coba cek tempat yang ini."

Juna menelepon kembali, berbicara setengah menit. Ia menurunkan ponselnya, menatap Nara. "Cuma tersisa satu kamar. Kamar terakhir mereka baru dicancel orang sepuluh menit lalu."

Nara menatap ke arah tetes air hujan di luar area kanopi pom bensin, lalu beralih menatap angka 11:45 di jam digital ponselnya. "Lo masih kuat lanjut sampe Subang?" Ia menoleh menatap Juna. 

Juna menggeleng, ia menatap lengannya bergetar halus.

"Gue juga enggak," lanjut Nara, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.

Juna menarik napas panjang, memasukkan ponselnya ke saku bagian dalam. "Satu kamar. Lo di kasur, gue di lantai."

Mata Nara menyipit. "Lo ngomong kayak kondisi lantai penginapan pinggir jalur Pantura itu bebas dari debu semen sama kecoak aja."

"Kalau gitu gue tidur di samping lo."

"Ya jangan gila."

"Makanya nggak usah ribet."

Juna memakai kembali helmnya, lalu naik ke jok motor, diikuti Nara duduk di jok belakang. Motor melaju menembus deras hujan menuju arah penginapan.

Bangunan penginapan berdiri tepat di samping bengkel tambal ban truk yang sudah tutup. Papan neon putih WISMA PANTURA ASRI berayun pelan ditiup angin malam. Di dalam ruang resepsionis, seorang pria paruh baya memakai sarung kotak-kotak merah duduk terkantuk di balik meja. 

Pria bersarung tadi menyerahkan sebilah kunci kuningan nomor nol tujuh di depan kamar. "Tinggal ini kamarnya, Mas. Kalau ndak jadi, di belakang tadi ada sopir truk muatan bawang yang udah antre dari sejam lalu."

Nara mengulurkan tangannya, mengambil kunci dari telapak tangan resepsionis. "Jadi, Pak. Terima kasih."

Juna dan Nara melangkah masuk, meletakkan tas mereka yang lembap di atas permukaan meja kayu. Pintu kamar menutup di belakang punggung mereka, mengunci suara gemuruh hujan di luar. Mereka berdiri diam di celah sempit antara ujung ranjang dan meja.

Juna melepas jaket parasutnya, menggantung di paku yang tertancap di balik pintu. "Lo mandi duluan sana, bilas pakai air hangat biar nggak masuk angin. Badan lo udah gemetaran dari pas di pom bensin."

Nara membuka kancing jaketnya, blus birunya yang menempel ketat di tubunya. "Baju lo lebih basah."

"Gue cowok, Ra. Daya tahan gue lebih tinggi dari hitungan neraca lo."

Nara menatap mata Juna datar. "Air sumur penginapan ini nggak punya sistem sensor gender buat nentuin siapa yang bakal demam duluan besok pagi, Jun."

Juna menghela napas panjang, bahunya bergerak turun. "Ra, tolong jangan mulai debat masalah operasional internal di dalam kamar yang ukurannya lebih kecil dari ruangan lo."

"Makanya jangan bawa argumen asumsi fisik yang lemah ke depan meja audit gue," jawab Nara meraih tas kecil berisi pakaian gantinya dari dalam backpack.

Pintu kamar mandi plastik menutup dari dalam, disusul suara gemercik air yang jatuh menghantam ember. Juna berjalan menuju kursi di sudut ruangan. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding beton, matanya menatap langit-langit.

Pintu kamar mandi terbuka. Nara melangkah keluar mengenakan kaos katun putih longgar dan celana kain hitam sebatas lutut. Rambut hitamnya digulung handuk kecil putih. Juna berdiri dari kursi, meraih handuknya tanpa menatap ke arah mata Nara, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.

Juna keluar dari kamar mandi, kaos abu-abu kering dan celana pendek kain olahraga mebalut tubuhya. Ia melangkah menuju kursi di sudut, bersiap menyandarkan punggungnya.

Nara duduk di tepi kasur, bersandar di dinding beton. Handuk kecilnya diletakkan di sandaran kursi, rambutnya setengah basah terurai di bahunya. Matanya mengikuti setiap pergerakan kaki Juna hingga duduk di kursi kayu.

"Sini," suara Nara pelan.

Juna menoleh. "Gue di sini aman, Ra. Kursinya pas buat ukuran punggung gue."

Dinding kamar nol tujuh bergetar halus setiap guntur meledak di langit Pantura. Air hujan menghantam atap, aliran air yang meluncur deras di balik kaca jendela. Di atas meja kayu, dua sterofom mie instan mengeluarkan uap tipis, bersanding dengan dua pasang sumpit bambu yang belum dipatahkan.

Juna duduk bersila di atas lantai, punggungnya bersandar di pinggiran ranjang. Ia mematahkan sumpit bambu, lalu menusuk gumpalan mie yang mulai mengembang. "Dari lima course ke mie instan."

Nara duduk di tepi ranjang, di sebelah bahu kiri Juna. Rambutnya terikat asal ke belakang. Ia menarik napas pendek sebelum menyeruput kuah merah dari sterofomnya. "Ini lebih jujur."

Lihat selengkapnya