Pantulan cahaya matahari siang bergerak di atas permukaan aspal basah jalur Pantura. Roda-roda besar truk kontainer menghantam kubangan, cipratan air terlempar ke pembatas jalan beton, uap tipis yang menguap dari pinggiran jalan. Di atas jok motor, embusan angin kecepatan enam puluh kilometer per jam membuat ujung jaket parasut Juna berkibar kasar.
Nara duduk di belakangnya. Jari-jarinya mencengkeram lipatan kain di pinggang jaket. Kardus Gudang Garam yang terikat tali rafia di atas spakbor depan bergoyang tipis setiap kali roda depan menghantam retakan aspal.
Juna menurunkan kecepatan saat lampu lalu lintas di persimpangan luar kota berubah menjadi kuning lalu merah. Ia menurunkan kedua kakinya ke aspal, mesin motor bergetar stasioner. Mata Juna melirik ke kaca spion kiri.
"Capek?" tanya Juna tanpa menoleh. Suaranya teredam kaca helm.
"Lumayan," jawab Nara pendek.
"Mau berhenti?"
"Nanti."
Klakson panjang dari truk fuso di belakang mereka memotong sisa suara angin. Juna mengalihkan pandangannya kembali ke marka jalan yang memudar di depan.
"Ra," ucap Juna.
"Apa?"
Juna membuka mulutnya lalu menutup lagi. Ia berdehem. "Kardus lo aman?"
Nara melirik ke belakang. "Aman."
Juna mengangguk, bahunya turun.
Motor bebek di samping mereka menggerung keras saat lampu berubah hijau. Juna memutar gas, motornya merayap membelah kemacetan pinggir kota.
Dua menit berlalu, suara Nara kembali terdengar dari balik pundaknya.
"Jun."
"Hm?"
"Semalam jangan dibawa ke kantor."
Pergelangan tangan Juna menegang. "Maksud lo?"
"Maksud gue, jangan tiba-tiba jadi aneh," suara Nara datar, menembus bising angin jalanan. "Jangan jadi terlalu manis. Jangan jadi terlalu takut. Jangan jadi orang yang tiap lima menit nanya gue baik atau nggak."
Sudut bibir Juna terangkat di balik helmnya. "Lo bikin SOP after sex?"
"Karena lo tipe orang yang butuh SOP."
Juna tertawa pendek. "Lo nyesel?"
Angin dari padang sawah di kanan-kiri jalur melayangkan beberapa helai rambut Nara. "Gue udah jawab kemarin."
"Jawaban bisa berubah."
"Kalau berubah, gue kasih revisi."
Juna mengangguk, motornya mendahului sebuah angkutan umum yang berhenti mendadak.
"Tapi jangan pakai buat cepat-cepat bikin kita jadi sesuatu yang lo sendiri belum sanggup jaga," lanjut Nara pelan.
"Lo pikir gue nggak sanggup?"
Nara menatap punggung jaket Juna. "Gue pikir lo sering pengin sesuatu sebelum siap tanggung jawab akibatnya."
Juna diam. Ia tidak menambah kecepatan motornya, deretan ruko pinggir Jakarta mulai menggantikan hamparan sawah di sisi kiri jalan.
Udara panas menyergap di bawah flyover Tendean. Deretan separator busway, kepulan asap knalpot kendaraan, dan klakson bersahut-sahutan dari barisan ojek online bercampur di udara. Motor terus melaju menuju kos Mampang.
Motor berhenti di depan kos mereka. Juna mematikan mesin. Nara turun dari jok belakang, membuka pengait helm.
"Lo mau langsung kantor?" Kaki kiri Juna menumpu motornya.
"Mandi dulu. Terus kantor."
"Lo nggak tidur?"
"Kerjaan nggak akan berhenti karena gue punya hidup pribadi." Nara merapikan tas ranselnya.
"Yaudah, gue tungguin,"
Nara menaikkan sebelah alisnya. "Ke kantor bareng?"
"Iya."
Nara melangkah menuju kamarnya. "Nanti jangan telat meeting jam tiga."
Juna menatap tas ransel hitam di pundak Nara. "Itu aja?"
"Untuk sekarang, iya."
Pukul dua siang, kantor JNR Solution dipenuhi suara ketukan keyboard dan dengung pendingin ruangan. Rafi duduk di ujung meja panjang ruang tengah, membolak-balik lembar catatan lapangan yang penuh coretan pulpen merah.
Juna masuk lebih dulu, meletakkan kunci motor di atas mejanya. Lima menit kemudian, pintu kaca ruangan lantai dua terbuka lagi. Nara masuk, melangkah menuju mejanya, membuka laptop, menekan tombol power.
Rafi menghentikan gerakan pulpennya. Matanya bergerak dari Juna, lalu beralih ke Nara.
"Lancar pulang kampungnya?" Rafi memecah keheningan.
"Lancar," jawab Juna tanpa menoleh.
Nara mengetik kata sandi laptopnya. "Macet."
Rafi menatap keduanya bergantian, matanya menyipit. "Satu bilang lancar, satu bilang macet."
Nara menghentikan ketukan jarinya, menatap Rafi. "Lancar tujuannha, macet jalannya."
Rafi mengangguk. "Jawaban finance."
Juna membuka dokumen PDF, Rafi mencondongkan badannya ke depan, kedua sikunya bertumpu di atas meja kerja Juna. "Ini gue doang yang ngerasa kalian pulang bawa oleh-oleh yang nggak bisa dimakan?"
Nara memutar kepalanya, matanya menatap luris wajah Rafi tanpa berkedip.
Rafi perlahan menarik kembali badannya, bersandar di sandaran kursi. "Oke. Oleh-oleh sensitif."
Juna menekan bibirnya rapat, menahan otot pipinya.
Nara membuka dokumen Excel di layarnya. "Meeting jam tiga. Lo udah baca deck revisi?"
Rafi menunjuk dadanya. "Gue?"
"Juna," ucap Nara tanpa menoleh.
Juna tersentak, memutar kursinya menghadap meja. "Udah."
"Slide tujuh salah angka," sahut Nara datar.
Juna mengetuk tetikusnya. "Yang mana?"
"Kalau udah baca, lo tahu."
Telapak tangan Rafi menutup mulutnya, bahunya bergerak menahan tawa. Juna memelototinya dari balik monitor.
Rafi condong lagi ke arah Juna. "Romantis sekali. Dimulai dengan validasi angka."
Nara mengetik di keyboard tanpa menoleh. "Rafi."
"Kerja. Gue kerja," sahut Rafi cepat, mengarahkan pulpen merahnya ke kertas.
Lima belas menit sebelum jam tiga sore, pintu ruangan berdentang halus. Alika masuk, tablet hitam dan tas kerja diletakkan rapi di lekukan lengan kirinya.
Ia melangkah ke ruang tengah, pandangan Alika menyapu Juna yang sedang membaca dokumen, lalu bergeser ke meja Nara.
Juna tidak menoleh, Nara tetap fokus pada layarnya.
Alika berhenti di dekat meja rapat tengah. "Meeting jadi jam tiga?"
Nara mengangguk. "Iya. Deck sudah gue update. Slide tujuh masih gue tunggu Juna benerin."
Alika memutar tubuhnya menghadap Juna. "Slide tujuh?"