DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #59

59. PINTU YANG TERBUKA

Bunyi klik dari selot besi yang masuk ke dalam kusen pintu memotong deru bising jalan raya Mampang di luar. Suara lorong kos berganti dengung kipas angin. Juna berdiri dua langkah di belakang pintu, di bawah cahaya lampu kamar nomor 203.

Monic meraih sebungkus rokok, memutar roda pemantik, api memercik, lalu menempelkannya ke ujung tembakau.

Monic mengembuskan asap pertamanya ke arah plafon.

"Duduk," ucap Monic, ujung rokoknya membara merah.

Juna tidak menggeser sepatunya. Bahunya kaku di balik jaket parasut.

"Jun, ini kamar gue. Bukan ruang sidang," Monic mengetuk kelingkingnya ke batang rokok, membuang sedikit abu ke lantai. "Duduk."

Juna melangkah pendek, menurunkan pantatnya di tepi kasur busa.

Monic bersandar di bingkai jendela. Ia mengisap rokoknya, matanya menyipit menembus gumpalan asap abu-abu. "Lo dari mana?"

"Kantor."

Monic menurunkan rokok dari bibir, sudut mulutnya ketarik ke atas. "Jawaban orang bohong tuh biasanya pendek."

Juna menurunkan pandangan. "Gue nggak bohong."

"Enggak lengkap berarti."

Jemari tangan Juna saling bertautan di atas lutut, mengetat hingga urat-urat punggung tangannya menonjol.

Monic memutar tubuh menghadap celah jendela. "Mau minum?"

"Nggak."

"Mau ditanya?"

Juna menggeleng.

Monic menatap samping wajah Juna beberapa detik. Ia mematikan ujung rokoknya di pinggiran asbak kaca. "Ya udah. Gue nggak nanya."

Juna menekuk tubuhnya lebih dalam, kedua sikunya menumpu di atas lutut.

Monic berjalan mendekati kasur, lalu menurunkan tubuhnya di sisi kanan Juna. Kasur busa miring ke arah tengah, menarik posisi tubuh Juna bergeser mendekatinya.

"Lo habis sama Nara?" tanya Monic datar.

Juna memutar lehernya, menatap lurus mata Monic. "Kenapa lo ngomong gitu?"

Monic mendekatkan wajahnya ke Juna. "Karena lo nyari dia tadi."

Juna mengalihkan pandangan ke lantai.

"Muka lo bukan muka orang habis ditolak," lanjut Monic. "Ini muka orang habis diterima terus bingung harus ngapain."

Juna menelan ludah, jakunnya bergerak naik-turun di balik kerah jaket. "Gue nggak mau ngomongin itu."

"Gue juga nggak minta." Monic mengambil rokok yang tadi ia matikan, menyalakannya kembali dengan korek gas hijau. "Tapi jangan pura-pura lo masuk kamar gue karena kangen gue doang."

Juna memutar badannya menghadap Monic. Tangannya bergerak meraih lengan atas Monic yang dingin. "Gue kangen lo."

Monic tertawa pendek. Matanya bergerak dari jemari Juna ke arah wajah pria itu. "Lo kangen gue, atau kangen tempat yang nggak akan minta lo jadi laki-laki baik?"

Genggaman tangan Juna di lengan Monic melonggar.

Monic mengangguk. "Nah gitu."

Juna menegakkan punggung, ia bangkit berdiri. "Gue pulang aja."

Monic mendekatkan rokoknya ke bibir. "Kalau lo mau pulang, pulang."

Langkah Juna tertahan di depan pintu.

"Kalau lo mau di sini, di sini," tambah Monic, matanya menatap ke arah punggung jaket Juna. "Jangan bikin gue pura-pura nggak tahu lo lagi lari."

Juna memejamkan mata. Bahunya turun. "Gue capek, Mon."

Monic menurunkan rokoknya. "Gue tahu."

Juna berbalik. "Gue capek jadi orang yang harus ngerti semua yang gue rasain."

Monic membiarkan rokoknya mati di asbak kaca. Ia mendongak. "Di sini lo boleh nggak ngerti."

Juna melangkah maju, menundukkan badannya, Napasnya memburu berhembus di kulit pipi Monic. Monic menatap ke dalam mata Juna yang melebar.

Ujung jari telunjuk Monic bergerak naik, menyentuh tengah dada Juna.

"Lo sadar?" bisik Monic.

"Iya."

"Lo yakin?"

"Mon."

"Jawab," tekan Monic, jarinya berhenti bergerak di dada Juna.

Juna menatap lurus ke dalam pupil mata Monic yang membesar di bawah cahaya remang. "Iya. Gue sadar."

Monic menurunkan jarinya dari dada Juna, kelopak matanya perlahan menutup. "Oke."

Juna memajukan bibirnya ke bibir Monic. Gerakan kepalanya cepat menekan tengkuk Monic. Monic terhempas di atas kasur.

Monic membalas jepitan bibir Juna, lidah mereka bertemu. Tangannya bergerak ke gesper celana Juna. Ia mendorong bahu Juna ke belakang. Matanya terbuka, menatap Juna yang terengah-engah di atas tubuhnya. "Lo bawa siapa di kepala lo?"

Lihat selengkapnya