DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #60

60. TAMU TAK DIUNDANG

Bunyi putaran kompresor AC LG setengah PK di atas kusen jendela mengisi kamar nomor 28. Dua kardus mi instan berisi tumpukan baju digeletakkan di dekat lemari pakaian kayu. Helm merah Juna ditaruh di lantai dekat keset kaki, laptopnya tertutup di atas meja. Kasur pegas queen size dilapisi seprai abu-abu polos.

Dari balik dinding, suara Tari terdengar meninggi, disusul bunyi kantong kresek yang diremas.

"Mas, plastik belanjaan jangan di lantai! Nanti semutnya naik ke kolong kasur!"

"Iya, Sayang, ini lantainya yang salah tempat. Harusnya agak geseran ke kiri dikit," sahut suara Rafi, disusul bunyi tawa kecil Tari yang teredam beton dinding.

Juna duduk di tepi kasur, kedua telapak tangannya menumpu di atas paha. Ponsel di tangan kanannya menyala, menampilkan kolom obrolan dengan Nara.

Juna

Ra, lo mau lihat kamar baru gue?

Juna menatap kursor yang berkedip di ujung huruf e. Ibu jarinya bergerak menekan tombol hapus.. Ia mengetik lagi.

Kalau lo sempat, mampir sini. Gue mau ngomong.

Tombol hapus kembali ditekan. Juna menghela napas pendek. Jemarinya bergerak lebih cepat.

Ra, gue udah ambil kamar dekat Rafi. Lo mau lihat kapan-kapan? Gue kepikiran... kalau lo sering di sini, mungkin lebih gampang.

Ia menatap baris kedua. Ibu jarinya kembali menghapus kalimat kalau lo sering di sini, mungkin lebih gampang. Ia mengetik mengetik kembali.

Gue kepikiran soal kita.

Gerakan tangannya terkunci. Layar ponselnya meredup hampir mati, ia mengetuk lagi, jempol kirinya menekan tombol kirim.

Juna

Ra, gue udah ambil kamar dekat Rafi. Lo mau lihat? Gue pengin ngomong soal kita.

Pesan bergeser ke atas. Dua tanda centang abu-abu muncul di sudut kanan bawah gelembung teks. Juna menurunkan ponselnya, matanya menatap dua garis abu-abu yang tidak kunjung berubah warna menjadi biru.a

Angka jam dinding digital di atas meja lipat berubah ke angka sembilan lewat dua belas menit. Dari balik dinding kamar nomor 27, suara gesekan piring porselen di atas meja kayu terdengar samar, disusul tawa pendek Rafi yang menyahuti ucapan pacarnya.

Juna menekan tombol daya ponselnya. Layar menyala. Kolom obrolan Nara masih dua centang abu-abu.

Ia meletakkan ponsel di atas seprai. Dua puluh detik kemudian, tangan kanannya kembali menjangkau ponsel, membuka aplikasi galeri, menggulir tiga foto kamar baru. Jarinya berhenti di atas ikon bagikan.

Ia keluar dari galeri, membuka kolom obrolan Rafi.

Juna

Bang, menurut lo gue goblok nggak?

Juna menatap kalimat itu, lalu menghapusnya satu per satu. Ia bangkit dari kasur, melangkah menuju jendela kaca.

"Gue cuma mau ngomong," bisik Juna pelan. Suaranya memantul di kaca jendela.

Bzzz.

Ponsel di atas kasur bergetar sekali.

Juna memutar tubuhnya cepat, melangkah dua kali, menyambar ponsel. Ia menatap notifikasi pop-up dari aplikasi pesan teks.

Dita

Lo di kos baru?

Jari Juna menggantung di atas layar beberapa detik, lalu mengetik balasan pendek.

Juna

Iya.

Dita

Gue boleh mampir?

Juna menatap baris teks itu tanpa berkedip, lalu mengetik balasan.

Juna

Ngapain?

Balasan masuk dalam hitungan detik.

Dita

Shareloc aja

Juna memejamkan mata rapat-rapat, jarinya bergerak ke tombol bagikan lokasi.

Lampu putih di sepanjang lorong kos baru memantulkan bayangan lurus Dita yang berjalan mendekati pintu nomor 28. Blouse putihnya sedikit keluar dari sabuk rok span hitamnya, beberapa helai rambut panjangnya terlepas dari jepitan, jatuh di sekitar tulang selangka.

Juna menarik selot besi pintu ke dalam. Daun pintu terbuka setengah meter. Dita berdiri di depan pintu, dagunya terangkat sedikit.

"Lo kenapa kesini?" tanya Juna, tangannya memegang gagang pintu.

Lihat selengkapnya