DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #61

61. PINTU YANG DIKETUK

Dita menggeser tubuhnya ke tepi kasur, menurunkan kedua kakinya, telapak kakinya menyentuh ubin keramik. Rambut panjangnya berantakan, menempel di leher dan bahunya yang basah oleh keringat. Di kulit lengan atas dan pergelangan tangannya, beberapa bekas kemerahan cetakan jari tangan Juna mulai terlihat jelas.

Juna duduk di atas lantai, punggungnya bersandar di pintu. Kedua tangannya bertumpu di atas ututnya yang ditekuk ke atas.

"Lo sakit?" tanya Juna tanpa mengubah posisi kepalanya yang bersandar di pintu.

Dita menoleh perlahan, menatap samping wajah Juna dari atas kasur. "Itu yang gue mau."

Juna memejamkan matanya, giginya menekan bibir bawah. "Jangan jawab begitu."

Dita membungkuk, meraih blouse putihnya dari atas kursi lalu memasukkan lewat kepala. Gerakannya lambat. "Lo mau gue jawab gimana? Makasih sudah memperlakukan gue dengan baik?"

Juna tetap menutup matanya.

Dita menarik rok span hitamnya dari lantai. "Tenang. Lo bukan Heru."

Juna membuka kelopak matanya, menatap ujung sepatu Dita di dekat meja.

"Tapi malam ini lo juga bukan orang baik," tambah Dita, suaranya datar.

Ponsel Juna di dalam saku celananya bergetar. Ia menarik keluar, menekan tombol daya. Bar notifikasi masih bersih dari pesan baru, obrolan Nara tetap dua centang abu-abu yang sama sejak satu jam lalu.

Bahu Juna turun, menghembuskan napas pelan.

Dita menatap ponsel di tangan Juna. "Belum dibales?"

Juna menggeleng.

"Lo mau gue pergi sebelum dia bales?" tanya Dita lagi, tali tasnya terpasang rapi di bahu kanannya.

"Dit."

"Gue cuma nanya," sahut Dita pendek, langkah kakinya bergerak mendekati Juna.

Tok. Tok. Tok.

Tiga ketukan pendek terdengar dari balik pintu kayu, getarannya merambat di punggung Juna. Otot tulang belakangnya menegang. Telapak tangan Juna mengetat menggenggam ponselnya.

Dita menghentikan langkahnya satu meter di depan Juna, tangannya membeku di udara. Matanya melebar, menatap ke arah pintu.

Tok. Tok.

Ketukan kedua terdengar lebih pelan.

"Jun?"

Suara Nara terdengar dari balik celah bawah pintu.

Dita menurunkan pandangannya ke kepala Juna. Bibirnya bergerak membentuk satu kata tanpa mengeluarkan embusan suara. "Anjing."

Juna menegakkan badannya, kepalanya hampir membentur gagang pintu aluminium. Ponsel di tangan kanannya sempat selip dari jemari sebelum ia menjepitnya kembali di antara ketiak dan lengan atasnya.

"Lo di dalam?" tanya suara Nara lagi dari luar lorong, disusul bunyi ketukan ringan satu kali lagi.

Juna membuka mulutnya, lalu menutup lagi. Dita memutar badannya membelakangi pintu, jarinya menarik ritsleting tasnya, matanya bergerak mencari sudut ruangan yang tidak terjangkau daun pintu.

Di dalam kamar 28. Dita berdiri di depan cermin yang tertempel di pintu lemari. Ia merapikan kerah blusnya.

Juna berdiri di dekat kaki kasur. Tubuhnya kaku, tangannya terkepal di samping paha. Napasnya pendek, hampir tak terdengar.

"Jun?" Suara Nara masuk menembus pintu kayu.

Juna memutar tubuhnya, ponselnya di tangannya menyala, menampilkan notifikasi chat yang terus mengalir. Jemarinya bergerak di atas layar, membuka kotak pesan Rafi

Juna

BANG. NARA DI DEPAN KAMAR GUE.

Ia melempar ponsel ke atas kasur, ia melangkah pelan mendekati Dita, berbisik di telinganya. "Lo harus keluar."

Dita menaikkan satu alisnya. "Wah, ide jenius," suara Dita ikut berbisik.

"Dit, jangan sekarang," Juna mendesis.

"Gue juga nggak berencana debat, Jun," Dita membalas, suaranya rendah.

Di luar, Nara kembali mengetuk. "Jun, lo buka sebentar. Gue cuma mau ngomong."

Juna menoleh ke pintu, lalu kembali ke Dita. Wajahnya pucat, keringat merembes di pelipisnya.

Ponsel bergetar.

Rafi

Lo dimana?

Juna mengetik dengan satu tangan.

Juna

DI DALAM.

Rafi

Terus?

Juna menatap Dita berdiri di dekat pintu, menunggu. Ia tidak membalas. Ponselnya kembali bergetar.

Rafi

Goblok

Juna mengetik lagi, jarinya menekan layar.

Juna

Lihat selengkapnya