DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #62

62. AUDIT CINTA

Lampu putih di ruang kerja JNR Solution menyala satu per satu. Suara saklar terdengar pendek di dekat pintu kaca, disusul dengung AC yang mulai meniupkan udara dingin ke seluruh ruangan. Juna berdiri di ambang pintu beberapa detik sebelum benar-benar masuk. Hoodie abu-abu masih melekat di tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan, matanya merah, kantong plastik berisi kopi hitam tergantung di jari telunjuknya.

Di dalam ruangan, Rafi sudah duduk di mejanya. Laptop terbuka di depannya, layar masih menampilkan halaman kosong. Gelas kopi berdiri di samping mouse. 

Juna menutup pintu kaca pelan. Rafi mengangkat kepala, mata mereka bertemu.

Juna berjalan ke mejanya, meletakkan kopi, lalu menaruh tas laptop di kursi. Bunyi ritsleting terbuka terdengar keras.

"Pagi," suara Juna datar, serak seperti gesekan kertas kasar.

Deni yang sedang mengelap meja dengan kain mikrofiber lembap berhenti. Ia menoleh, menatap Juna dari bawah ke atas. "Pagi, Pak Direktur."

Di sudut ruangan, Ucup berlutut, jari-jarinya memelintir kabel LAN yang kusut.

Ia melirik ke arah Juna. "Direktur Utama lima juta udah kayak bapak-bapak baru kalah judi."

Juna membuka file presentasi Bumi Arta. “Kerja.”

“Wih.” Ucup mundur satu langkah. “Nada orang lagi nggak bisa diajak bercanda.”

“Makanya jangan diajak bercanda,” sahut Juna tanpa menoleh.

Deni meraih satu bakwan dari plastik, menggigitnya pelan. “Ini pasti masalah perempuan.”

Ucup menoleh cepat. “Kok lo tahu?”

“Semua masalah yang bikin laki-laki diem pagi-pagi biasanya antara utang, perempuan, atau kombinasi keduanya.”

Rafi menatap Deni dari balik laptop. “Deni.”

Deni mengangkat kedua tangan. “Oke. saya kerja.”

Rafi menatap layar laptopnya kembali. “Tidurnya nyenyak?” tanya Rafi.

Juna menarik kursinya. “Lumayan.”

“Lumayan itu bahasa orang yang badannya rebah, tapi dosanya masih berdiri.”

Tangan Juna berhenti di atas tas. Ia menoleh ke arah Rafi. Rafi masih menatap layar laptop, jari telunjuknya mengetuk touchpad laptop.

“Pagi-pagi udah ceramah?” tanya Juna.

“Bukan ceramah.” Rafi mengangkat gelas kopi, lalu menurunkannya lagi tanpa minum. “Catatan kaki.”

Pintu kaca kembali terbuka, Nara melangkah masuk, langkahnya stabil. “Pagi,”

Ucup meluruskan punggung. “Pagi, Bu Finance.”

Nara mengangguk kecil. Ia berjalan melewati meja Juna tanpa berhenti, lalu duduk di mejanya. Ia meletakkan tas kerja, menyusun map-mapnya tegak lurus dengan tepi meja kayu. Ia membuka laptop.

Juna berdiri, menarik napas panjang lalu melangkah menuju pantry. Langkahnya melambat di depan meja Nara.

"Udah sarapan?"

"Udah," jawab Nara datar tanpa menoleh.

Rafi melihat Juna beralih ke Nara, lalu menurunkan matanya ke layar.

Langkah Juna berhenti di depan meja Nara. “Gue bisa beliin kalau belum sarapan."

“Gue bilang udah.” Nara merapikan kertas, menepuk sisi bawahnya ke meja printer.

Nara menoleh, menatap Juna di mata

"Meeting jam sepuluh, kan?" Pandangannya beralih ke layar laptop.

“Iya.”

“Bumi Arta?”

“Iya.”

“Draft proposal terakhir udah lo baca?”

“Udah.”

“Bagian timeline implementasi?”

Juna mengganguk. “Udah.”

"Lo semalam tidur jam berapa?" Nara menatap baris teks di kertas.

"Sebelas."

Nara berhenti menatap kertas. Ia berbalik, menghadap Juna sepenuhnya. Ia melipat tangan di dada. "Cepet amat."

Juna menahan napas. “Apa?”

“Jawaban lo.”

Juna menurunkan gelas. “Gue harus jawab lambat?”

“Nggak.” Nara mengambil map dari atas printer. “Cuma orang yang beneran baca biasanya ingat bagian mana yang bikin dia ragu.”

Juna diam. Nara kembali duduk, Juna tetap berdiri di depan samping meja Nara.

Nara memutar kursinya. "Rokok habis?"

"Hah?"

"Semalam katanya beli rokok."

"Oh. Iya. Ada."

"Beli air juga?"

"Sekalian."

"Warung Madura depan gang?"

"Iya."

"Lama?"

"Nggak."

Nara memperhatikan napas Juna. "Rafi bilang lo keluar bentar. Tapi napas lo pas balik kayak orang habis buru-buru."

Juna menelan ludah. Jakunnya bergerak di tenggorokan. "Lo ngitung napas sekarang?"

"Enggak," suara Nara datar. "Cuma kebetulan gue masih punya paru-paru."

Nara melirik ke arah tas Juna. "Kamar baru lo bau parfum apa?"

"Apa?"

Nara tersenyum tipis. "Kamar baru biasanya bau kardus, kamar lo bau dua parfum."

Juna terdiam. Tangannya masuk ke dalam saku.

"Rafi kalau bohong matanya turun ya?" Nara melirik ke meja Rafi di ujung ruangan.

Juna menoleh cepat ke arah Rafi. Rafi membungkuk, wajahnya menghilang di balik layar laptop.

"Nuduh apa?" suara Juna merendah.

Nara berbalik, mengambil mapnya. "Belum."

Nara memutar kursinya kembali menghadap meja, membuka file di layar, lalu mulai mengetik. Juna kembali melangkah menuju pantry.

Rafi meraih kopi di samping laptop, menyesapnya, lalu meringis. Ponselnya bergetar, ia melirik layar.

Tari

Udah kantor?

Rafi mengetik dengan ibu jari.

Rafi

Lihat selengkapnya