DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #63

63. ALIKA PRAMESWARI

Deru mesin pendingin ruangan di sudut kantor berdengung rendah. Di atas meja Juna, gelas kertas sisa kopi hitam dari malam sebelumnya meninggalkan bercak cincin kecokelatan di permukaan kayu. Gulungan kabel LAN abu-abu melintang di bawah kaki meja.

Cahaya putih pucat dari layar laptop memantul di pupil mata Nara. Jari-jarinya bergerak di atas keyboard. Juna bersandar di kursinya, menatap punggung Nara.

"Data Prames udah gue upload," suara Nara datar. Tangannya menekan tombol panah di keyboard, menelusuri baris-baris angka di spreadsheet.

Juna menarik napas pendek. "Lo nggak ikut meeting?"

"Lo sama Alika cukup."

"Ra-"

Nara melepas tangannya dari keyboard. Ia melirik Juna dari sudut matanya. "Kalau ada revisi angka, tag gue di dokumen."

Kalimat Juna tertahan di tenggorokan, rahangnya mengetat, ia menghela napas pelan, kembali menatap layar laptopnya.

Di meja seberang, Rafi menggeser mouse perlahan, menatap ke arah jendela kaca.

Pintu kaca terbuka. Alika melangkah masuk. Langkahnya melambat saat matanya menangkap jarak antara meja Juna dan Nara. Ia menatap Rafi sekilas, lalu beralih ke Juna. "Kita berangkat sekarang?"

"Iya," Juna menutup laptopnya

Juna berdiri, merapikan kerah kemejanya. Keduanya melewati meja Nara, ia meraih botol minumnya, matanya menatap lurus deretan angka di layar.

Terik matahari menembus kaca mobil, menyorot debu-debu halus yang melayang di udara kabin. Alika duduk tegak di kursi penumpang. Tangannya menyapu debu dari roknya, lalu menyalakan layar tablet. Juna duduk di sebelahnya, jarinya mengetuk pahanya mengikuti ritme mesin.

Truk boks pendingin besar merayap lambat di lajur kiri. Bodinya memantulkan sinar matahari langsung ke kaca mobil. Nama Prames Logistics tercetak di sisi box.

Juna melirik spion, lalu menoleh ke luar jendela. "Nama keluarga lo lewat tiap lima menit di jalan."

Alika masih menatap tabletnya. "Makanya gue nggak kerja di sana."

"Bosen lihat nama sendiri?"

"Kalau gue masuk, yang kerja duluan nama belakang gue. Gue-nya belakangan." Jari Alika berhenti menggulir layar.

Juna menatap samping Alika. Cahaya matahari membelah wajahnya. "Tapi hari ini lo tetap masuk gedung mereka."

"Sebagai bagian JNR."

Juna kembali menatap keluar jendela. "Mereka bakal inget itu?"

"Enggak."

"Terus?"

Alika mematikan layar tabletnya. "Makanya gue harus inget."

Mobil mereka meluncue menuju kantor anak usaha Prames Group. Jalan raya di depan dipenuhi barisan lampu ren. Suara klakson dari arah belakang terdengar teredam kaca tebal.

Lobi PT Prames Distribusi Nusantara setinggi empat meter. Lantai marmer putihnya mengilap, memantulkan deretan lampu LED yang tertanam rapi di plafon. Di dinding utama, terpasang layar dashboard besar yang menampilkan grafik pengiriman logistik, titik-titik hijau yang terus berkedip, diapit logo Prames dan tulisan Operational Excellence.

Seorang resepsionis menunduk menulis sesuatu. Alika melangkah mendekati meja resepsionis. Resepsionis itu mendongak, matanya membesar, ia meletakkan penanya, berdiri tegak. Di dekat pintu metal detektor, seorang petugas keamanan berseragam safari menurunkan HT dari mulutnya, menundukkan kepala saat Alika melintas. Beberapa pegawai melirik dari area mesin kopi.

Juna berjalan di belakang Alika. Matanya mengamati pergerakan bahu petugas keamanan dan ritme langkah para pegawai yang mendadak melambat.

"Selamat siang, Bu Alika," ucap resepsionis.

"Siang," Alika berhenti di depan meja resepsionis. Tangannya bertumpu di tepi meja marmer. "Kami dari JNR. Meeting dengan Pak Bayu."

"Baik, Bu. Pak Bayu sudah menunggu di lantai manajemen."

Juna melirik Alika saat mereka berjalan menuju deretan lift khusus akses VIP. "'Kami dari JNR lo ucapin kayak doa sebelum perang."

Alika menekan tombol panah atas. "Di gedung kayak gini, doa kadang kalah sama kartu nama."

"Lo punya kartu nama JNR?"

"Ada."

"Mereka baca?"

Pintu lift berdenting dan bergeser terbuka. Alika melangkah masuk. "Biasanya mereka cuma baca nama belakang."

Juna masuk ke dalam lift, berbalik menghadap lobi yang perlahan tertutup pintu metal. Pandangannya menatap tulisan PRAMES DISTRIBUSI NUSANTARA di papan logam tebal di dinding. "Berat juga nama lo."

"Kadang lebih berat dari orangnya," balas Alika. Matanya lurus menatap indikator angka digital bergerak naik.

Langkah mereka teredam di atas karpet abu-abu lantai manajemen. Cahaya dari lampu halogen disorot langsung ke bingkai-bingkai foto di dinding. Foto kunjungan direksi, deretan piala penghargaan Supply Chain of the Year, dan poster besar bergambar pekerja gudang tersenyum lebar.

Juna menagap Huruf tebal PEOPLE ARE OUR STRENGTH di bawah foto. "Poster mereka bilang people are our strength."

Jemari Alika membuka ritsleting tasnya, ia menoleh. "Kenapa?"

Juna memiringkan kepala ke arah pria yang sedang menunduk di karpet. "Biasanya kalau perusahaan kebanyakan nulis people, orangnya justru paling gampang diinjek."

Alika menutup ritsleting tasnya. "Lo belum meeting udah sinis."

"Gue observasi."

"Observasi lo kedengeran kayak ngajak ribut."

Juna memasukkan satu tangan ke saku celananya. "Banyak hal minta diributin."

Alika terdiam. Ia memperhatikan postur Juna.

Pintu kaca buram ruang rapat terbuka. Meja mahoni panjang mendominasi bagian tengah. Di atas meja, botol-botol air mineral kecil berbaris lurus bersama notes bersampul kulit.

Bayu berdiri di ujung meja. Jasnya jatuh sempurna mengikuti bahunya tanpa kerutan. Kemeja putih dikancingkan hingga leher. Seorang staf muda bernama Handoko duduk di sebelah kanannya, cahaya laptop memantul ke kemejanya.

Bayu tersenyum, tangannya terbuka, menunjuk kursi di seberang meja. "Selamat siang, Mbak Alika. Pak Juna. Terima kasih sudah datang."

Alika menarik salah satu kursi. "Kami dari JNR, Pak. Silakan langsung saja."

Bayu duduk kembali, merapikan manset kemejanya. "Tentu. Saya senang JNR bisa handle ini langsung. Apalagi ada Mbak Alika, jadi saya rasa konteks Prames akan lebih cepat dipahami."

Juna duduk di samping Alika. Ia meletakkan notes ringkasnya di atas meja. Matanya menatap tepat ke arah jakun Bayu.

Pandangan Alika lurus ke arah layar proyektor yang masih gelap. "Konteks project bisa dijelaskan dari data, Pak."

Bayu mengangguk pelan. "Tentu. Data sudah kami siapkan."

Ia memberi isyarat dengan ujung jarinya. Handoko menekan satu tombol. Layar besar di dinding menyala, cahaya putih terang menelan setengah ruangan.

Huruf-huruf hitam muncul tajam di layar.

Evaluasi Keterlambatan Dokumen Vendor — Q2

CV Lintas Sumber Mandiri

Grafik batang berwarna merah dan abu-abu memenuhi layar. Bullet point di bawahnya diatur dengan rapi.

Vendor terlambat mengirim dokumen pendukung.

Vendor tidak mengikuti template terbaru.

Vendor tidak melakukan eskalasi tepat waktu.

Rekomendasi: Surat teguran dan evaluasi Service Level Agreement (SLA) vendor.

"Secara umum," Bayu memulai, kedua tangannya bertaut di atas meja, "keterlambatan terbesar ada di sisi vendor. Mereka belum disiplin mengikuti template dan SLA dokumen."

Juna menatap titik merah di grafik. Alika menoleh ke arah Juna.

"Yang kami butuhkan dari JNR adalah finalisasi wording rekomendasi," lanjut Bayu. "Supaya laporan ini bisa naik ke direksi anak usaha tanpa melebar."

Juna mengetuk ujung penanya ke meja kayu. "Tanpa melebar itu maksudnya tanpa menyebut internal?"

Bayu tersenyum kecil. Sudut matanya menyipit. "Bukan begitu, Pak Juna. Maksud saya, fokus pada penyebab utama."

"Penyebab utama sudah diputusin sebelum kami final review?"

Suara ketikan Handoko terhenti. Ka menunduk menatap celah di antara tombol keyboard.

"Bukan diputuskan," Bayu mengoreksi. "Disimpulkan dari data awal."

"Data awal dari siapa?"

"Tim kami."

Juna mencondongkan badan ke depan. "Vendor diminta jawab?"

"Nanti ada mekanisme evaluasi."

"Setelah surat teguran?"

Dengung proyektor di langit-langit mengisi kekosongan di antara mereka.

"Invoice masuk tanggal berapa?" Juna memecah keheningan. Ia membuka buku catatannya.

Bayu melirik layar. "Tanggal tiga."

"Approval internal tanggal berapa?"

"Tanggal tujuh."

Juna mendongak. "Empat hari di internal."

"Itu masih proses wajar," Bayu menegang, menarik tangannya dari atas meja.

"Wajar kalau vendornya dikasih respons."

"Vendor juga berkewajiban follow up."

"Mereka follow up tanggal empat, lima, enam."

Mata Bayu bergerak ke arah Handoko. Handoko menggeser layar browser-nya.

"Saya lihat dari log komunikasi yang dikirim tim admin JNR. Ada tiga email follow up. Dua tidak dibalas. Satu dibalas setelah template revisi dikirim."

Alika menyentuh tabletnya. Layarnya menyala. "Template revisi dikirim kapan?"

Handoko menelan ludah. "Tanggal enam sore."

Lihat selengkapnya