DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #64

64. GARIS DUA

Bau sabun colek bercampur dengan aroma rokok basi dari asbak memenuhi udara lorong lantai dua kos mampang. Dari lantai bawah, suara desisan minyak panas di wajan bertabrakan dengan pantulan tawa keras seorang perempuan yang sedang menelepon di kamar ujung.

Dita berjalan menaiki anak tangga terakhir, sebelah tangannya memegang dua bungkus kopi sachet instan. Ujung sandal jepitnya menghindari genangan air kecil di dekat ember plastik yang dibiarkan melintang. Kipas angin dari kamar Monic terdengar pelan dari balik pintu.

Pintu kamar Monic terbuka separuh. Dita berhenti, mengetuk permukaan pintu kayu. "Mon?"

Tidak ada jawaban dari dalam kamar.

Dita mendorong pintu perlahan. Monic duduk di tepi kasur, rambutnya diikat asal. Satu tangannya menekan perut, punggungnya sedikit membungkuk. Kulit wajahnya pucat.

"Lo kenapa?" Dita melangkah masuk.

Monic mengangkat wajahnya pelan, tersenyum tipis. "Masuk angin moral kali."

Mata Dita menyusuri postur Monic.

"Anjing, biasanya jokes gue minimal dapet napas dari lo," Monic menghembuskan napas panjang, melepaskan tangannya dari perut.

"Lo pucat."

"Pucat mah kulit. Hati gue dari dulu udah gosong."

Dita masih berdiri di depan pintu, menatap lurus ke arah Monic.

Dari depan kos, angin bau minyak goreng berembus masuk ke lorong lantai dua.

Mata Monic membesar, ia mengangkat tangannya, menutup mulut dan hidungnya. Bahunya bergetar, dadanya naik turun.

Dita melangkah mendekat. "Lo mau muntah?"

Monic menelan ludah, menggeleng pelan. "Gue mau menghargai gorengan itu dari jarak aman."

Ia bertumpu pada lututnya, berusaha berdiri tegak, lututnya goyah saat melangkah. Tangan kanannya menghantam dinding menahan berat tubuhnya.

Dita maju, tangannya terulur ke lengan Monic. "Monic."

Monic mengangkat sebelah tangan di udara. "Jangan pakai nada orang sayang. Gue alergi."

Tangan Dita menggantung di udara, matanya menatap leher Monic menegang.

"Telat?" tanya Dita.

"Kalender gue emang suka ghosting."

"Monic."

"Baru beberapa hari." Monic melepaskan tangannya dari dinding, berjalan tertatih kembali ke tepi kasur.

"Beberapa hari versi orang normal atau versi orang yang takut ngaku?" kejar Dita.

Monic memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Versi orang yang masih pengin hidupnya nggak makin lucu."

Monic duduk bersila di atas kasur, ia meraih ponsel, menggeser aplikasi kalender. Bibirnya bergerak-gerak pelan tanpa suara.

Dita duduk di sampingnya. "Jangan dihitung kayak nyari diskon."

"Diam. Ini matematika badan."

"Matematika lo jelek?"

Monic berhenti menggeser layar. "Badan gue yang nggak sopan. Dia bikin rumus sendiri."

Dita melipat tangannya di dada. "Beli test pack."

Layar ponsel meredup. "Ngapain? Nanti dia sok tahu."

"Benda itu memang tugasnya sok tahu."

"Gue belum siap dimarahin plastik," Monic meremas ujung selimutnya.

"Lo mau nunggu apa? Sampai perut lo ngasih press conference?"

Monic tertawa kecil, menatap Dita. "Mulut lo sekarang mirip gue. Jelek."

"Belajar dari sumber penyakit."

Monic menatap ponselnya di kasur. Angin dari kipas meniup rambutnya.

Matahari siang membakar aspal gang menuju jalan raya. Dinding tembok di sisi gang memantulkan panas. Monic berjalan berdampingan dengan Dita. Ia memakai sandal jepit, kaus putih oblong kebesaran, dan celana pendek selutut. Rambutnya diikat cepol ke atas.

Monic menendang kerikil kecil. "Kalau gue pingsan di jalan, bilang gue artis."

"Artis apa?"

"Artis gagal menstruasi."

"Mulut lo perlu BPJS sendiri," sahut Dita datar.

Mereka tiba di depan minimarket. Lampu neon di dalam menyala terang. Monic berdiri di depan rak kesehatam, matanya menyapu deretan kotak pipih dengan berbagai merek.

"Yang paling akurat yang mana?" Monic menoleh ke Dita di belakangnya.

Tangan Dita masuk ke dalam saku jaket. "Gue bukan SPG janin."

Monic menunjuk satu kotak biru muda.

"Beli dua," suara Dita menyela dari belakang.

Monic menoleh. "Lo pikir ini promo buy one get one?"

"Biar kalau satu hasilnya bikin lo denial, satu lagi nyusul mukul."

Monic menatap rak lagi. Tangan kanannya terangkat, gemetar sebelum akhirnya ia menarik dua kotak test pack bersamaan, membawanya ke meja kasir.

Seorang perempuan muda berjaga di balik meja. Ia mengambil uang lembaran yang disodorkan Monic.

"Pakai kantong?" tanya kasir itu, menunjuk dua kotak plastik.

"Kalau nggak pakai kantong nanti bayinya lihat?"

Kasir itu mengerjap lambat, menatap Monic. Tangan yang memegang uang kembalian tertahan di udara.

Dita memejamkan mata di belakang Monic. Tarikan napasnya panjang.

"Maaf, Mbak," lanjut Monic santai. "Temen saya lagi hamil emosi."

"Gue bunuh lo," desis Dita, mengambil kembalian dari tangan kasir, menarik kerah belakang kaus Monic ke luar minimarket.

Mereka kembali berjalan menuju gang. Tukang sayur mendorong gerobaknya pelan, anak-anak kecil berlarian mengejar bola plastik, ibu-ibu berkumpul di depan rumah memilah cabai.

Tangan kiri Monic menggenggam kresek hitam kecil, Plastik itu bergesek dengan pahanya setiap ia melangkah. Langkahnya melambat.

Dita menyamakan langkah. "Lo takut?"

Monic mengayunkan kresek hitam pelan. "Gue udah sering ketemu laki-laki telanjang, Dit. Test pack kalah serem."

"Gue nanya badan lo, bukan mulut lo."

Monic menghentikan ayunan tangannya. Kresek hitam diam di sisinya. Tiga motor bebek melewati mereka berurutan.

"Kalau hasilnya satu garis, lo traktir gue seblak," Monic bersuara memecah hening di antara mereka.

"Kalau dua?"

"Gue traktir lo trauma."

"Gue udah punya."

Monic terkekeh pelan. "Tambah satu. Biar koleksi lo rapi."

Mereka tiba di depan pagar besi karatan kos. Monic meletakkan satu kakinya di anak tangga pertama.

Dita berdiri di anak tangga bawah. "Mon."

"Apa?" tanya Monic tanpa menoleh.

"Apapun hasilnya, jangan sendirian."

Monic memutar kepalanya, terseny tipis. "Gue dari dulu nggak pernah sendirian. Cuma sering ditinggal pas udah selesai dipakai."

Monic kembali menatap ke atas, lalu melangkah naik. Dita menyusul naik.

Kamar mandi luar kos di ujung lorong lantai dua. Dita bersandar di dinding luar kamar mandi. Lengannya menyilang di dada.

Monic berdiri di ambang pintu. "Gue masuk."

"Gue tunggu."

Monic memutar bola matanya pelan. "Romantis banget. Biasanya orang nungguin gue selesai mandi karena nafsu."

"Monic."

"Iya. Gue masuk."

Pintu tertutup, disusul suara gerendel besi yang dikunci. Dita memiringkan kepalanya ke dinding, menahan napas.

Suara tarikan napas Monic bergetar dari balik pintu. Dita mencengkram kain jaketnya. Dari ujung lorong, pintu lain terbuka dan seseorang tertawa kencang ke arah ponselnya, lalu pintunya tertutup lagi. Dita menunduk, air sisa mandi mengalir lambat keluar dari celah bawah pintu kamar mandi, merembes membasahi ujung sandalnya.

Gerendel besi ditarik perlahan. Pintu kamar mandi terbuka. Monic melangkah keluar, otot wajahnya mengendur, matanya menatap kosong ke arah Dita.

Lihat selengkapnya