Pintu kaca utama lantai satu JNR bergeser terbuka, riuh suara knalpot dari jalan raya menyusup ke dalam sebelum tertutup kembali. Di balik meja resepsionis, Mira menjepit gagang telepon di antara telinga dan bahunya. Tangannya mencoret resi di atas meja.
"JNR Solution, selamat pagi," ucap Mira.
Dua orang pria berkemeja lengan panjang duduk di sofa tunggu. Mereka membolak-balik majalah bisnis lama, sesekali melirik ke arah anak tangga yang menuju lantai dua. Dari atas, suara langkah kaki berdebum cepat, bertabrakan dengan bunyi derit kursi beroda dan mesin printer yang terus-menerus menarik kertas.
Seorang kurir berdiri di depan meja Mira. Ia menyodorkan amplop cokelat tebal dengan stempel logo biru gelap.
Mira menahan gagang teleponnya sejenak. "Dari PT Prames Distribusi Nusantara?"
"Iya, Bu," kurir itu menyeka keringat di pelipisnya. "Katanya urgent."
Mira membubuhkan tanda tangannya, lalu menarik amplop. Belum sempat ia meletakkannya, suara teriakan melengking memotong dari ujung atas tangga.
"Mira!" Suara Rafi menggema, memantul di dinding tangga. "Kalau dokumen Prames datang, naikkan sekarang! Sebelum Bayu nelepon kayak debt collector elegan!"
Mira mendesah panjang. Ia mendongak ke arah langit-langit tangga, menutupi mic telepon dengan telapak tangan. "Mas Rafi, ini masih ada tamu!"
"Tamu juga harus tahu kami lagi menderita secara profesional!" sahut Rafi dari atas, diikuti bunyi bantingan tumpukan folder ke atas meja.
Mira memutar bola matanya perlahan. "Pak Juna udah di atas?" tanyanya agak keras.
"Udah, Mbak. Dari tadi berdiri di whiteboard kayak nabi deadline," sahut ucup dari balik pantry.
Mira mengembalikan gagang telepon ke telinganya, tersenyum sopan kepada dua tamu di sofa yang menatapnya bingung.
Pintu kaca terbuka lagi. Alika melangkah masuk. Hak sepatunya mengetuk lantai marmer.
Mira setengah berdiri dari kursinya. "Pagi, Bu Alika."
"Pagi, Mira." Alika berhenti sejenak di depan meja resepsionis, menggeser pandangannya ke langit-langit lantai dua. "Mereka udah mulai ribut?"
"Kalau Mas Rafi sudah teriak sebelum jam sembilan, berarti sudah tahap dua."
Alika menaikkan sebelah alisnya. "Tahap satu apa?"
"Mas Juna minum kopi tanpa sarapan."
Alika terdiam. Matanya menatap lurus ke arah anak tangga. "Berarti sudah mulai dari tadi."
Mira tersenyum tipis, lalu menyodorkan amplop cokelat berlogo Prames. "Ini baru datang. Urgent."
Alika mengambil amplop.
Dari arah tangga, Deni turun membawa tiga gelas plastik sisa es kopi dan dua cangkir keramik di atas nampan.
Langkah Deni melambat saat melihat Alika. Ia meringis kecil. "Waduh, Bu Alika udah datang. Hari ini JNR selamat."
"Selamat dari apa?" Alika menyisipkan amplop Prames ke ketiaknya.
"Soalnya kalau si bos disuruh makan, dia cuma bilang kerja," Deni menggerakkan nampannya. "Kalau sama bu Alika, mungkin dia malu."
"Dia bisa malu?"
"Dulu di kos nggak," Deni mengangkat bahu. "Sekarang udah punya malu sama jabatan."
Tangan Mira menutupi mulutnya, tawa pelan terdengar di balik tangannya. Alika mengangguk, menahan senyumnya, lalu berjalan menuju tangga.
Di tengah anak tangga, Alika menghentikan langkahnya. Ucup berjongkok, tangannya memegang palu kecil dan selotip hitam, mulutnya menggigit beberapa paku payung.
"Permisi, Bu," Ucup menyingkir sedikit, memuntahkan paku payung ke telapak tangannya. "Hati-hati. Kabel kantor ini lagi belajar tertib."
Alika menatap juntaian kabel yang nyaris menutupi separuh pijakan tangga. "Kenapa kabelnya di tangga?"
"Karena hidup kantor ini berkembang lebih cepat daripada perencanaan."
"Jawaban lo kayak proposal gagal."
Ucup mendongak, menatap Alika dari bawah. Ia memutar palu kecil di tangannya. "Bu, saya floor management. Saya bukan penyair. Tapi kalau lihat hidup Juna, kabel ini masih lebih gampang dirapihin."
Alika menarik ujung bibirnya, lalu melangkah melewati Ucup. Ia mendorong pelan pintu kaca lantai dua. Matanya lurus menatap Nara duduk tegak di mejanya.
Juna berdiri di samping papan tulis putih di ruang rapat. lengan kemejanya digulung hingga siku. Tangannya memegang spidol hitam.
Di papan tulis putih tercetak huruf kapital merah.
PRAMES WORKFLOW REPORT
REVISI BAYU — DEADLINE 14.50
CC: ALVIN
Juna mengetuk ujung spidol ke papan. "Admin cek timestamp email Arman. Developer cek log approval. Jangan ada data yang bisa dipelintir."
Seorang admin mengangkat tangannya. "Mas, email tanggal lima ada dua thread."
Nara menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar, suaranya memotong udara. "Pakai thread yang ada balasan template. Yang satunya forward ulang."
Juna menatap Nara. "Oke."
Alika melangkah masuk ke ruang rapat, meletakkan amplop cokelat Prames ke atas meja.
Rafi menunjuk Alika dengan penanya. "Selamat datang bu komisaris, tempat mimpi perusahaan kecil dibakar deadline besar."
"Romantis," jawab Alika datar. Ia menarik kursi, meletakkan tasnya.
"Kami jual penderitaan dengan dashboard." Rafi melirik ke arah papan tulis.
Juna membalikkan badannya dari papan tulis. Matanya menyusuri wajah Alika, lalu turun ke amplop cokelat di atas meja. "Lo bawa dokumen?"
Alika mengetuk permukaan amplop. "Prames ngirim tambahan."
Rafi menarik kursi. "Anak usaha Prames kalau ngirim tambahan selalu pas kita hampir merasa hidup masih punya harapan."
Dengung printer yang sedang mencetak belasan lembar lampiran, Nara berdiri, meraih print-out tebal, lalu berbalik menuju Juna.
"Ini koreksi data approval," Nara meletakkan tumpukan kertas di atas meja Juna. Jari telunjuknya mengetuk pelan di lembar paling atas. "Bayu bisa pakai celah jam empat sore buat bilang delay bukan murni internal. Gue udah tandain."
"Makasih."
"Jangan pakai versi lama."
Juna mendongak. "Ra, nanti kalau selesai-"
Nara berbalik, berjalan ke kursinya.
Juna terdiam. Otot rahangnya menegang. Di ujung ruangan, Kepala Alika menunduk menatap tablet, ia melirik Juna dari sudut matanya.
"Gue cuma mau ngomong," suara Juna merendah.
"Hari ini semua orang mau ngomong. Tapi yang dibayar klien itu laporan."
Rafi menunduk, menatap baris spreadsheet kosong di laptopnya.
"Kerja dulu." Nara mendongak, menatap lurus mata Juna.
Deni berjalan melewati meja Juna membawa dua gelas keramik bersih. Ia menoleh sedikit ke arah Ucup yang sedang menata kabel di ujung ruangan.
Deni memiringkan kepalanya, berbisik keras, "Kalau suara dingin bisa jadi AC, kantor kita hemat listrik."
"Ssst. Itu bukan AC. Itu audit perasaan," sahut Ucup tanpa menoleh.
Juna memutar kepalanya. "Den. Cup."
Deni menegakkan badan, tangannya memberi hormat pelan. "Siap, Pak Direktur. Kami kembali ke kasta kebersihan."
Matahari siang masuk lewat jendela, Juna menjeda rapat. Alika dan Nara keluar kantor.
Juna masih duduk di ruang rapat, membolak-balik print out dari Nara. Deni menuangkan air panas ke dalam gelas Juna. Asap mengepul tebal, aroma kopi instan memenuhi ruang rapat. Deni berbalik menuju pintu.
Rafi melangkah masuk, menyandarkan bahunya ke dinding kaca ruang rapat. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. "Lo dari pagi kopi terus."
Juna mengaduk gelasnya dengan sendok plastik. "Mulai juga."
"Gue bukan Deni. Gue nggak peduli lambung lo," Rafi menatap lurus ke punggung Juna. "Gue peduli pola lo."
"Jangan bawa-bawa saya dong bang," Langkah Deni berhenti di samping Rafi.
"Lo balik dulu ke pantry," Rafi menoleh ke Deni lalu beralih ke Juna.
"Siap bos," Deni melangkah menuju pantry.
Rafi menarik napas panjang. "Nara jauh, Alika makin sering di sini," suara Rafi merendah. "Gue cuma bilang, hati-hati."
"Project Prames emang butuh dia."
"Bukan soal itu."
Juna menoleh. Uap kopi masih mengepul di depan dadanya. "Terus?"
Rafi memiringkan kepala, tatapannya menyisir wajah Juna. "Lo tipe orang yang kalau satu pintu ketutup, tangannya gatel nyari gagang lain."
"Bang," Juna menatap Rafi tanpa berkedip.