Aroma bekas makanan dan kopi basi menggantung di ruang lantai dua kantor JNR. Juna masih mematung di kursinya, matanya menatap pesan terakhir dari Dita.
Langkah Alika terdengar mendekat dari arah tangga. Ia berhenti di depan pintu ruang rapat. "Lo kenapa?"
"Nggak." Juna mematikan layar ponselnya, memasukannya ke saku celana. Ia berdiri, tangannya menarik jaket dari sandaran kursi. "Gue harus keluar sebentar."
"Sekarang?"
"Iya." Juna memakai jaketnya.
"Masalah kerja?"
"Bukan," jawab Juna lambat, matanya menghindari tatapan Alika.
"Oke," jawab Alika pelan. .
Udara malam Jakarta bercampur gerimis tipis, aspal memantulkan cahaya neon jalanan dan sorot merah lampu rem kendaraan. Angin menerpa wajah Juna dari celah helmnya.
Tangan kirinya sesekali turun dari stang motor, merogoh saku jaket, menarik ponselnya. Ia menekan tombol daya dengan ibu jari. Layarnya menyala, masih menampilkan ruang obrolan dengan Dita.
Monic kenapa?
Juna membaca ulang ketikannya sendiri.
Motor di depannya mengerem mendadak. Juna tersentak, menekan tuas rem kuat-kuat. Ban depannya berdecit, jarak ban motor belakang dan bember depan mobil di belakangnya hanya satu jengkal. Sopir taksi membunyikan klakson panjang. Juna membuang napas, kembali memasukkan ponselnya.
Motor berbelok, masuk ke dalam gas kos mampang, lalu berhenti di teras kos. Juna berjalan menaiki tangga, langkahnya terhenti di ujung tangga lantai dua.
Juna menatap Dita berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding kamar 203. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong jaket. Dita memandang Juna yang berjalan mendekat.
Juna berhenti di depan kamar 202. "Monic kenapa?"
Dita menyusuri tubuh Juna dari atas ke bawah. "Akhirnya dateng juga."
"Dita, Monic kenapa?" ulang Juna suaranya meninggi.
Dita menarik napas pendek. "Jangan masuk pake muka paling kaget sedunia."
"Maksud lo?"
"Maksud gue, simpan dulu panik lo," Dagu Dita menunjuk pintu kamar 203. "Di dalam ada orang yang lebih berhak panik."
Dita memutar badannya, meraih kenop pintu, mendorong terbuka separuh. "Masuk," ia memberi jalan.
Juna melangkah masuk. Langkahnya terhenti di balik pintu, menatap Monic.
Monic duduk memeluk kedua lututnya di tepi kasur, memutar kepalanya, lalu tersenyum. "Duduk, Jun. Jangan berdiri kayak satpam dosa."
Juna menatap wajah pucat Monic. Ia melangkah mendekat. Dita masuk ke dalam kamar, menutup pintu perlahan. Ia berdiri bersandar di daun pintu.
"Wah. Parah," Monic berdecak pelan. "Biasanya lo minimal senyum kalau gue hina."
"Lo sakit?" suara Juna serak.
Monic tertawa pendek. "Pertanyaan standar laki-laki yang lihat perempuan pucat. Bagus. Lo masih punya template."
"Monic."
Monic menunjuk kursi plastik di dekat meja. "Duduk."
Juna menarik kursi, duduk di pinggirannya. Punggungnya kaku. Tangannya diletakkan di atas paha.
Monic menghela napas panjang. "Tenang. Gue nggak manggil lo buat nagih janji nikah. Gue tahu kapasitas tragedi lo belum sampai situ."
"Lo mau ngomong apaan?" Alis Juna mengkerut.
"Langsung?"
"Dita bilang gue harus ketemu lo."
Monic melirik ke arah pintu. "Dita suka dramatis kalau lagi sayang."
"Mon," tegur Dita dari belakang, suaranya rendah.
Monic mengangkat sebelah tangannya. "Iya. Gue ngomong."
Matanya kembali menatap Juna. Tangan Monic terulur ke arah meja. Jarinya terulur, menaik gumpalan tisu. Dua alat plastik putih pipih terbuka dari bungkusnya, dua garis merah muda di layar kecil tengah.
Juna menatap tespack di atas Meja. "Itu..."
"Iya," potong Monic cepat.
"Lo..."
"Hamil."
"Lo yakin?" Juna masih menatap tespack.
Monic tersenyum kecil. "Garis dua itu jarang bercanda, Jun."
"Udah cek dokter?"
"Belum."
"Tapi bisa aja-"
"Bisa aja apa?" suara Monic meninggi. "Plastik ini iseng karena hidup gue kurang hiburan?"
Juna menutup mulutnya. Ujung bibirnya bergetar.
Dari ambang pintu, Dita menatap punggung Juna. Monic menatap lurus mata Juna menatap kosong ke arah meja, rahangnya mengeras.
Kepala Juna bergerak, menunduk menghindari tatap Monic. "Telat dari kapan?"
Monic tertawa pendek. "Akhirnya sampai juga ke kalender."
"Mon, gue cuma-"
"Mau tahu kemungkinan." Monic menyandarkan punggungnya ke dinding. "Mau tahu ini nyangkut ke lo apa nggak."
"Gue perlu tahu," sahut Juna pelan, bibirnya bergetar.
"Semua laki-laki perlu tahu kalau sudah takut namanya masuk akibat."
"Jangan gitu," Juna menggeleng pelan.
"Terus gue harus gimana? Duduk manis sambil bantu lo bikin tabel risiko?"
Juna menatap sepatunya. "Terakhir kita..."
"Jangan kelarin kalimat itu kalau lo masih pengin gue nggak muntah," desis Monic.
Dita melangkah maju satu, sepatunya bergesekan dengan lantai keramik. "Jun."
Juna mendongak, menatap wajah Dita.
"Jangan jadi orang kedua yang datang ke sini cuma buat ngitung," Dita menunduk, menatap lurus mata Juna.
Juna menelan ludah, membasahi bibirnya. "Gue cuma perlu tahu posisi gue."
"Posisi lo?" Monic mengulang perlahan.