Cahaya matahari pagi menembus celah gorden tipis. Tiga buah kardus cokelat bertumpuk di dekat lemari, belum dibongkar. Kemeja kerja berwarna abu-abu menggantung miring di sandaran kursi kayu. Juna berbaring telentang di atas kasur. Matanya terbuka menatap langit-langit. Napasnya dangkal, matanya memerah, belum terpejam sejak malam. Ia menggenggam ponsel di tangan kanan, ibu jarinya menggeser layar, matanya menatap barisan daftar obrolan di layar ponselnya.
Nama Alika di daftar kedua, tidak ada pesan baru. Matanya bergerak ke nama Dita di atas kotak obrolan Alika, ia membuka pesan, menatap pesan terakhirnya.
Dita
Besok jangan datang kalau cuma mau keliatan nggak kabur.
Jari Juna bergerak di atas layar, menekan beberapa huruf.
Juna
Gue bisa antar Monic periksa.
Juna meletakkan ponselnya di atas dada. Layarnya perlahan meredup, lalu mati. Ia berbaring dalam diam.
***
Pintu kaca lantai satu kantor JNR bergeser terbuka dan tertutup, suara dering telepon dari meja resepsionis berbunyi bersahutan. Juna melangkah masuk melewati pintu kaca, bahunya turun.
Mira mengangkat wajah dari buku catatan di mejanya. "Pagi, Pak Juna."
"Pagi," jawab Juna datar. Ia tidak berhenti melangkah menuju tangga.
Mira mengernyit, meletakkan pulpennya. "Kopi?"
"Nanti."
Mira menahan dokumen di tangannya. "Biasanya Bapak jawab sekarang."
Langkah Juna terhenti di anak tangga pertama. Tangannya bertumpu di susuran besi. Ia menoleh sedikit. "Hari ini banyak kerjaan."
Mira menunduk kembali. "Pak Rafi sudah di lantai dua. Bu Alika katanya datang jam sembilan."
Juna mengangguk, kembali mengangkat kakinya.
Dari lorong dekat ruang tunggu, Deni muncul membawa lap kain kuning dan kantong plastik sampah. Langkahnya terhenti saat melihat Juna di tangga.
"Bos," panggil Deni.
Juna menoleh ke bawah.
Mata Deni menyipit. "Lo belum pulang dari tadi malam ya?"
"Gue pulang."
"Badan lo iya," Deni memiringkan kepalanya. "Muka lo masih di tempat lain."
Juna mematung. Tangannya di susuran tangga mencengkeram lebih erat. "Den."
Deni mengangkat kedua tangannya ke udara. "Oke."
Deni memutar badannya berjalan ke arah pantry bawah, matanya melirik Juna sekali lagi dari sudut ruangan. Juna berdiri sedetik lebih lama.
Suasana lantai dua kontras dengan kekosongan di dalam kepala Juna. Bunyi tombol keyboard ditekan bersamaan dengan derit kursi beroda. Dua admin menunjuk angka di kolom spreadshee di layar.
Di tengah ruangan, whiteboard besar sudah dipenuhi tulisan spidol hitam tebal.
PRAMES WORKFLOW — FINAL CHECK
PRESENTASI AKHIR: 2 HARI LAGI
LAMPIRAN VENDOR / SLA / REKOMENDASI FINAL
Rafi berdiri di depan papan tulis, memegang spidol merah. Ia menoleh ke arah pintu.
"Pagi," sapa Rafi, matanya menyipit. "Lo telat enggak, tapi muka lo telat hidup."
Juna menarik kursinya dan menjatuhkan tasnya ke lantai. "Mulai kerja aja."
Rafi menurunkan spidolnya, mengetuk ke telapak tangan. "Kalau lo jawab kerja setiap ditanya hidup, lama-lama kantor ini berubah jadi rumah duka ber-AC."
Juna membuka layar laptopnya. Cahaya putih memantul di wajahnya. "Update Bayu?"
Di seberang meja, Nara duduk tegak lurus. "Dia minta wording bagian vendor diperhalus lagi. Gue sudah kasih komentar."
Seorang admin dari ujung ruangan setengah berdiri, melongok ke arah meja Juna. "Mas Juna, final log approval dari Prames masuk folder mana?"
Juna memandangi layar laptopnya. Kursornya diam di tengah layar desktop.
"Mas?" tegur admin itu lagi.
"Folder Prames, subfolder final evidence. Pakai versi jam 08.12," jawab Nara tanpa mengalihkan pandangan.
Juna tersentak kecil. "Iya. Itu."
Rafi menoleh, menatap Juna, beralih ke admin, llu ke Nara, berhenti di rahang Juna yang mengeras.
Juna berdiri, ia melangkah menuju pantry, Rafi mengikuti dari belakang.
Aroma bubuk kopi instan dan suara dispenser air mendidih bercampur di dalam pantry. Juna menyobek bungkus kopi sachet, menuangkan ke dalam gelas. Ia menekan tuas air panas.
Rafi melangkah masuk. "Ini masih soal Nara?"
Juna terus menekan tuas dispenser, menatap air panas perlahan naik ke permukaan gelas. "Bukan cuma Nara."
Rafi melipat tangannya di dada. "Kalau lo mulai pakai kalimat begitu, biasanya nerakanya udah punya parkiran."
Air panas di gelas Juna menyentuh bibir gelas. Ia terlambat menarik tuas. Beberapa tetes air kopi meluap, membasahi ujung meja dan jari telunjuknya. Juna menarik tangannya cepat.
"Jun," tegur Rafi pelan.
Juna mengambil tisu, mengelap tumpahan. "Gue masih mikir."
"Lo mikir atau lo lagi nyari cara supaya orang lain nggak tahu lo salah?"
Gerakan tangan Juna berhenti. Ia memutar badannya, menatap Rafi.
"Gue tanya bukan buat nyerang," Rafi membalas tatapan Juna. "Gue tanya karena muka lo dari tadi kayak orang yang baru tahu akibat punya alamat."
Juna terdiam.
"Ada hubungannya sama Dita?" Suara Rafi merendah.
"Dikit."
"Dikit itu ukuran orang jujur atau ukuran orang panik?"
Juna menutup matanya, menarik napas panjang. "Bang, gue butuh waktu sebentar."
Rafi menghela napas panjang, melepaskan sandarannya dari lemari kayu. "Oke."
Dengun pendingin ruangan terdengar samar di balik bunyi ketikan di meja Nara. Juna berdiri di sebelah meja, tangannya memegang cetakan dokumen draft. Ia melihat layar monitor Nara dari samping.
"Bagian rekomendasi SLA internal udah aman," Nara berbicara tanpa menatap Juna, matanya bergerak membaca baris-baris dokumen PDF. "Tapi bagian vendor escalation channel masih bisa dibaca menyalahkan vendor kalau konteksnya dipotong."
Juna mencondongkan badannya sedikit. "Revisi jadi apa?"
"Tambahin kalimat bahwa eskalasi baru berjalan kalau internal respons lewat enam jam."
"Lo bisa bantu wording?"
Nara menggeser mouse. "Gue sudah tulis di komentar."
Juna menurunkan cetakan dokumen di tangannya ke atas meja Nara. "Bukan cuma itu, Ra."
Nara menghentikan gerakan tangannya. Ia memutar kursinya perlahan menghadap Juna. "Kalau ini soal data, ngomong."
Juna menatap lurus mata Nara.
"Kalau ini soal perasaan yang belum lo berani bersihin, jangan pakai jam kantor."
Juna membuka mulutnya, otot lehernya menegang.
"Kita punya presentasi dua hari lagi," lanjut Nara, matanya kembali ke layar monitor.
"Gue tahu."
"Bagus. Pakai yang lo tahu dulu." Nara kembali mengetik.
Suara hak sepatu mengetuk anak tangga. Alika muncul di ujung lantai dua. Ia berjalan masuk ke ruang kerja. "Pagi," ia, meletakkan map di atas meja.
Rafi menoleh. "Pagi, Bu Komisaris rasa konsultan."
"Pagi, Bang Rafi rasa headline masalah," balas Alika, membuka tablet-nya.
Rafi memegang dada kirinya. "Jahat. Tapi akurat."
Alika melirik Juna duduk di depan komputernya. Ia berdiri, berjalan mendekat ke meja Juna. "Lo udah lihat update Bayu?" tanya Alika.
"Udah," jawab Juna tanpa menoleh.
"Dan?"
"Kita revisi."
Alika menatap kepala Juna. Ia menggeser posisinya ke kiri menatap sisi wajah Juna. "Biasanya lo punya komentar tambahan tentang Bayu."
"Lagi nggak kepikiran."
"Itu justru aneh."
Juna mendongak. "Kelarin project dulu, Al."
Alika menutup bibirnya, mengangguk pelan. "Oke. Project dulu."
Ia memutar tubuhnya, berjalan kembali ke mejanya.
Sinar matahari siang memanggang atap kos lama Mampang.
Di dalam kamar 203, Monic berdiri di depan lemari plastik, mengenakan kaus oblong ukuran dua kali lebih besar dari badannya, menutupi lekuk tubuhnya hingga ke pangkal paha. Celana pendek katun melengkapi pakaiannya. Di atas meja lipat di dekat kasur, asbak kaca masih bersih. Sebungkus rokok tergeletaktanpa ada satu batang yang ditarik keluar.
Pintu kamar diketuk dari luar, Monic berbalik, membuka pintu kamarnya.
Seorang kurir ojek online berdiri di depan pintu, tangan kanannya menenteng kotak styrofoam di dalam plastik, tangan kirinya memegang botol air mineral. "Mba Monic?"
Mata Monic menyipit. "Iya, bener."
"Ini ada kiriman makanan, katanya dianter ke lantai dua," tangan kurir terangkat, menyodorkan kantong makanan dan botol mineral.
Tangan Monic terulur, menerimanya.
Ponsel di atas kasur bergetar panjang. Monic menoleh, menatap nama Dita di layar.
"Makasih mas," Monic mundur, menutup pintu kamar, lalu meraih ponselnya.
"Makanannya dimakan," suara Dita terdengar dari speaker ponsel saat jari Monic menggeser tombol hijau.
Monic melirik dari cermin di pintu lemarinya. Ia memutar tubuhnya perlahan. "Lo sama Juna sekolah di tempat yang sama ya? Dikit-dikit makan."
"Dia tahu lo belum periksa," shut Dita dari seberang telepon.
Monic duduk di tepi kasur, membuka kotak makannya. "Dia tahu gue hamil. Itu aja udah cukup bikin dia kayak orang ditabrak truk moral."