DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #68

68. CELAH

Logo JNR Solution yang baru terpasang di dinding balik meja resepsionis terbuat dari akrilik hitam matte, cahaya lampur sorot kecil dari plafon memantul di atasnya. Sofa kulit berwarna navy menggantikan kursi tunggu lama.

Mira berdiri di balik mejanya, merapikan tumpukan map bersampul biru. Juna melangkah masuk, berjalan melewati meja Mira.

"Pagi mas Juna. Bu Alika juga sudah naik sepuluh menit yang lalu."

Juna menoleh. "Pagi Mira."

Mira tersenyum tipis, tangannya menggeser buku tamu. "Kopi pak?"

Juna menggeleng. "Nanti saya minta Deni aja." Ia melanjutkan langkah menuju ke sudut lantai sagu, menaiki tangga ke lantai dua.

Pintu ruang lantai dua terbuka, Juna melangkah masuk. Ia menyusuri ruangan, tidak ada lagi kabel yang melilit di bawah meja. Di sudut kanan, dua developer memandangi grafik dashboard bergerak real-time di layar monitor ganda. Beberapa admin duduk di deretan meja tengah.

Rafi berdiri, tangannya terkepal di depan dada. "Pagi mantan direktur lima juta."

Langkah Juna terhenti, menoleh ke arah Rafi. "Bang, lo nggak cape nyapa gue tiap pagi kaya gitu?"

"Nggak, gue seneng akhirnya gaji lo naik."

Bola mata Juna berputar, ia berjalan ke mejanya, meletakkan ponsel di atas meja. Alika berdiri, berjalan menuju meja Juna, membawa tablet di tangannya.

"Enam bulan lalu kita ngejar klien," Rafi memecah dengung mesin pendingin ruangan. "Sekarang klien ngejar revisi."

Deni berjalan melewati meja, tangannya mengumpulkan tiga gelas kaca kotor ke atas nampan. "Berarti JNR sudah sukses, Bang?"

"Belum," Rafi tidak mengangkat matanya dari layar. "Sukses itu kalau klien ngejar bayarannya duluan."

Dari arah pantry, Ucup muncul sambil mengusap telapak tangannya ke celana jeans-nya.

"Kalau sukses, galon kosong jangan tetap saya yang ganti dong."

Juna menoleh ke arah Ucup. "Cup, kerja."

"Ini kerja," Ucup menunjuk galon di belakangnya dengan ibu jari. "Air bersih adalah fondasi moral kantor."

Suara tawa kecil menyebar di ruangan. Alika menurunkan tablet-nya, ujung bibirnya melengkung. Juna ikut tersenyum kecil. Garis keras di rahangnya mengendur.

Ponsel Juna di atas meja bergetar, layarnya menyela.

Namun, sedetik kemudian, sebuah getaran pendek terdengar dari atas meja, beradu dengan permukaan kayu. Layar ponsel Juna menyala. Juna menatap nama Dita di layar ponselnya.

Alika melirik senyum di wajah Juna lenyap, tangannya bergerak sangat cepat, membalikkan ponsel menghadap meja kayu.

Tiga puluh menit berlalu, Alika berjalan mendekat dari arah pantry. Tangannya meletakkan gelas kertas berisi kopi panas tepat di sisi kanan laptop Juna. Uapnya mengepul tipis.

Juna menghentikan scroll mouse-nya. "Gue belum minta."

"Lo minta kalau udah telat. Gue percepat proses." Alika menarik kursi di depan meja Juna, duduk menyilangkan kaki.

Juna memutar gelas kertas. "Gula setengah?"

"Lo yang gula setengah," Alika menunjuk gelasnya. "Gue kopi pahit."

Juna menyesap kopinya pelan. "Lo makin lama makin susah dibedain sama Nara kalau ngatur hidup orang."

"Gue masih ngasih kopi," sahut Alika tanpa berkedip.

Juna hampir tertawa, ia menahan sudut bibirnya.

"Lo ada meeting jam sebelas," lanjut Alika, matanya menatap wajah Juna. "Sebelum itu makan dulu."

"Gue udah sarapan."

"Apa?"

Juna melirik gelas kopinya.

"Kopi bukan sarapan," Alika mendesah pelan.

"Lo sekarang bagian HR tubuh gue?"

"Gue cuma capek lihat lo sok kuat, lambung lo masih kelas kontrakan."

Layar ponsel memantul di permukaan meja. Juna menoleh ke arah ponsel. Rahangnya kembali mengeras.

Alika memiringkan kepalanya sedikit. "Dita?"

Juna mendongak, matanya membesar. "Apa?"

"Gue cuma nebak."

Juna meraih ponselnya, memasukan ke saku celana. "Bukan urusan kerja."

"Gue tahu," suara Alika merendah. "Makanya gue nanya."

Juna membuang pandangan ke arah kaca jendela.

Alika mengangguk pelan.

Nara menatap layar monitor, folder utama Project Prames terbuka. Kursornya bergerak.

FINAL REPORT

IMPLEMENTATION

VENDOR SLA

FOLLOW UP

ARCHIVE

File PDF ditarik masuk ke dalam folder ARCHIVE.

Rafi berhenti di samping meja Nara, matanya melirik ke arah monitor. "Lo masih cek file Prames?"

"Implementasi bulan ketiga. Harusnya ada audit ulang."

"Lo rajin banget buat orang yang katanya sudah mau jaga jarak." Rafi menyesap isi mug-nya.

"Tetep aja gue harus ngecek angkanya." balas Nara datar. Ia mengetuk tombol minimize.

Rafi mengangguk. "Juna nanya lo tadi?"

"Dia selalu nanya kalau butuh data." Nara memutar kursinya, meluruskan tumpukan kertas di mejanya. "Atau kalau kalimat personalnya kehabisan tempat."

Rafi membisu. Ia menurunkan mug-nya pelan.

Nara mengangkat wajah. Pandangannya melewati bahu Rafi, lurus menuju mena Juna, Juna dan Alika berbicara berhadapan.

Rafi mengikuti arah pandang Nara, lalu kembali menatap samping wajahnya. "Lo keganggu?"

Nara memutar penanya. "Alika?"

"itu," Rafi mengangkat dagu, menunjuk meja Juna.

"Belum."

Rafi mengangkat sebelah alisnya. "Belum?"

"Gue belum yakin itu masalah utamanya." Nara meletakkan penanya.

Udara di lorong kos Mampang memanas di bawah terik matahari siang. Kamar 203 lebih redup. Asbak kaca di atas meja bersih tak tersentuh. Beberapa strip vitamin C dan asam folat berserakan di sebelah botol air mineral ukuran besar.

Monic berdiri di depan cermin kecil. Lengannya menyilang, menarik ujung kain kaus besar di tubuhnya, lengkungan kecil yang mulai mengubah bentuk perut bagian bawahnya. Ia melepaskan tarikannya. Kain kaus kembali jatuh lurus, menyembunyikan lekuk tubuhnya.

Di belakangnya, Dita duduk bersila di belakangnya, melipat kemeja-kemeja flanel dengan rapi.

"Gue kelihatan kayak ibu-ibu kabur dari senam hamil gratis," Monic memutar tubuhnya sedikit ke kiri dan ke kanan.

"Lo kelihatan kayak orang hamil," sahut Dita, menepuk lipatan kemeja di pangkuannya.

Monic mendengus. "Jangan kasar. Gue masih punya harga diri sebagai perempuan hamil."

"Yang rusak mulut lo."

Monic menurunkan pandangannya. Tangan kanannya bergerak menyentuh bagian bawah perutnya perlahan.

"Kenapa?" tanya Dita pelan.

Monic berjalan menjauh dari cermin. "Kadang gue lupa ini beneran."

"Terus ingetnya kapan?"

"Kalau celana nggak muat." Monic menatap ujung kakinya. "Kalau mual. Kalau dia gerak. Kalau Juna bilang mau datang terus mukanya kayak orang nyari hukuman."

Dita meletakkan tumpukan baju ke sisi kasur. "Dia masih datang?"

"Kadang. Dia yang cukupin kebutuhan gue, kan."

"Cukup?"

Monic menatap Dita. "Buat gue apa anak ini?"

Dita tidak menjawab. Matanya turun menatap perut Monic yang semakin membesar di balik kaosnya.

Pendingin ruangan di ruang makan rumah keluarga Prames disetel rendah. Lampu kristal di atas meja makan memancarkan cahaya kekuningan.

Kartika duduk tegak, matanya menatap Alika di seberang meja. "JNR berkembang cepat."

Alika memutar gelas air mineralnya perlahan. "Iya."

Albert meletakkan sendok kopinya. Ia melipat kedua tangannya di atas meja marmer. "Pertanyaannya, berkembang karena mereka kuat, atau karena kamu terlalu ingin mereka kuat?"

Alika menghentikan putaran gelasnya. Ia menatap lurus ayahnya. "Data implementasi Prames bagus. Anak usaha yang tadinya nolak sekarang mulai pakai rekomendasi mereka."

"Juna?" potong Albert. Suaranya rendah.

"Juna jaga eksemusi. Rafi jaga lapangan. Nara kuat di data." balas Alika cepat.

Kartika memiringkan kepalanya sedikit. "Kamu jawab seperti orang presentasi, Alika."

"Karena kalau aku jawab seperti anak, kalian akan bilang aku emosional."

Mata Albert menyipit. "JNR aset strategis atau proyek pribadi?"

"Aset," jawab Alika tanpa berkedip.

Kartika mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dan Juna?"

Detik di jam dinding kayu tua itu berdetak lebih keras. Pandangan Alika bergeser dari Albert ke Kartika. "Bagian dari aset itu."

Lihat selengkapnya