DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #69

69. KEPUTUSAN

Lampu neon di lorong lantai dua kos Monic menyala redup, menyorot pintu kayu kamar 203 yang sedikit terbuka. Kipas angin meja di dalam kamar berputar lambat.

Monic duduk di tepi kasurnya. Kaos oblong kebesarannya naik sedikit, mencetak jelas perutnya yang sudah membesar. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya. Di atas meja lipat, berserakan beberapa setel baju bayi bercampur dengan botol air mineral kosong dan separuh roti tawar.

Di sisi kasur, Dita tertidur, Monic memejamkan mata erat. Tangannya mencengkeram kain seprai. Napasnya tertarik pendek.

"Dit," suara Monic bergetar pelan.

Dita terbangun, tubuhnya menegak. "Kenapa?"

Monic menahan napas sejenak, wajahnya berkerut. "Kayaknya anak ini nggak sabaran."

Mata Dita membesar. "Monic."

"Gue belum siap dimarahin bayi sendiri pagi-pagi." Monic tersenyum tipis, bibirnga bergetar,

Dita berdiri. Ia menatap bercak cairan merembes di atas seprai tempat Monic duduk. Pupil mata Dita membesar.

"Kita ke rumah sakit," Dita berbalik, menarik tas kain.

"Gue belum mandi."

Dita membuang isi tas yang tidak penting ke lantai. "Gue nggak nanya jadwal skincare lo."

Monic mencoba tertawa, ringisan kesakitan lebih dulu keluar dari sela giginya. "Jangan galak. Janin gue bisa trauma."

Dita memutar tubuhnya, menatap Monic. "Lo jangan bercanda sekarang, Mon," suara Dita bergetar.

Monic balas menatap Dita. Ujung matanya berair. "Gue kalau nggak bercanda nanti kelihatan takut, goblok."

Dita menelan ludah, matanya memerah, sudutnya mengembang, ia menutup rahangnya rapat. "Ya udah," bahunya meraih lengan Monic. "Takut sambil jalan."

Langkah mereka lambat di lorong langai dua. Dita melingkarkan satu lengannya di pinggang Monic, menopang separuh berat tubuhnya.

Monic mencengkeram erat dinding. "Kalau gue mati, sandal gue jangan yang ini ya. Jelek banget."

"Lo nggak mati," desis Dita.

"Gue cuma briefing fashion kematian."

Dita menghentikan langkahnya. Matanya nanar menatap Monic. "Gue bilang lo nggak mati!" Suara Dita pecah, bergema di lorong tangga besi.

"Dit," panggil Monic lembut.

Dita membuang muka, menarik napas panjang. "Jalan."

"Iya."

Mereka menuruni tangga pelan-pelan. Suara gesekan sandal jepit dan napas memburu Monic membangunkan beberapa penghuni kos di lantai bawah. Satu pintu terbuka, seorang wanita dasteran melongok keluar.

"Kenapa, Mbak?"

"Hamil," jawab Dita cepat tanpa berhenti.

Monic menahan rintihannya. "Bukan pengumuman, Dit. Pelan dikit."

"Darurat."

"Kalau gue viral di grup kos, gue hantui lo," rutuk Monic di sela napas pendeknya.

Dita menahan tangisnya sekuat tenaga sambil setengah memapah, setengah menyeret Monic menuju jalan raya, menyetop taksi pertama yang ia lihat tanpa menawar.

Taksi biru melaju membelah aspal Jakarta, cahaya matahari menembus kaca jendela mobil. Monic duduk bersandar miring di kursi belakang, kedua tangannya memegangi perut bagian bawah. Keringat dingin membasahi pelipis dan dahi.

Dita duduk di sebelahnya, satu lengannya melingkari bahu Monic, tangannya lainnya gemetar memegang ponsel. Ibu jarinya membuka aplikasi pesan. Ia mencari nama Juna.

RS sekarang. Monic kontraksi. Cepat.

Jari telunjuknya menghapus seluruh kalimat. Ia mengetik ulang.

Dita

Jun. RS sekarang. Monic bermasalah.

Dita mengirim pesan. Tiga detik kemudian, balasan masuk.

Juna

Di mana?

Dita mengirim titik lokasi rumah sakit terdekat yang mereka tuju.

Juna

Gue ke sana.

Monic memicingkan matanya, melihat cahaya dari layar ponsel Dita di tengah rasa sakitnya. "Lo manggil dia?"

"Iya," Dita menyimpan ponselnya.

"Gue belum pakai bedak."

"Mon."

Monic memejamkan mata, kepalanya bersandar di kaca jendela mobil. Napasnya berat. "Dia datang karena takut atau karena gue?"

"Yang penting dia datang."

"Kadang itu nggak cukup, Dit."

Dita menggenggam tangan Monic erat, menekan jari-jarinya yang dingin dan pucat. "Hari ini kita pakai yang ada dulu."

Lantai dua JNR bergerak seperti biasa. Tumpukan dokumen hardcopy disortir. Suara mesin printer berderit.

Juna berdiri dari kursinya, memasukkan ponsel ke saku.

Rafi mengetik di meja sebelahnya, menoleh ke arah Juna. "Kenapa?"

"Monic," Juna menyambar jaketnya yang tersampir di kursi.

Rafi menghentikan pekerjaannya, berdiri tegak. "Rumah sakit?"

Juna mengamgguk, tangannya gemetar mengambil kunci motor di atas meja.

"Gue ikut."

"Bang-"

Rafi mengangkat tangannya. "Jangan debat. Lo nggak bisa ngurus administrasi pakai muka begitu."

Dari deretan meja seberang, Alika berdiri perlahan. Matanya menatap kepanikan Juna. "Jun?"

Juna menoleh, pandangan mereka bertemu.

Rafi menoleh ke arah Alika. "Gue bawa dia keluar. Urusan kantor handle dulu."

Alika melangkah maju. "Ada apa?"

Juna menatap mata Alika. "Monic masuk rumah sakit."

"Pergi," kata Alika akhirnya.

"Al—"

"Buruan!" potong Alika cepat, suaranya meninggi, air mata mengembang di sudut matanya.

Juna memutar tubuhnya, berlari ke arah tangga tanpa melihat ke belakang. Rafi mengekor di belakangnya.

Ruang Instalasi Gawat Darurat rumah sakit berdinding putih steril. Udara berbau obat disinfektan dan kapur barus pel bercampur di udara. Suara decit roda brankar beradu dengan rintihan pasien lain dan instruksi cepat para perawat.

Dita berdiri mematung di luar ruang tindakan. Punggungnya bersandar di dinding dekat dispenser air. Tangannya mencengkeram kuat tali tas kain.

Langkah kaki terburu-buru bergema di lorong. Juna dan Rafi datang berlari kecil.

"Dita," panggil Juna, napasnya memburu.

Dita menoleh. Matanya merah. "Lo telat."

Rafi menahan napas. "Jakarta, Dit."

"Gue nggak nanya alasan Jakarta," Dita mengabaikan Rafi, matanya menatap lurus ke. arah Juna.

"Monic di mana?" Juna memandangi pintu tertutup di sebelahnya.

Dita menunjuk pintu ganda berpelat besi. "Masuk. Kontraksi. Dokter bilang terlalu cepat."

"Dia sadar?" suara Juna serak.

"Masih sempat ngata-ngatain gue."

"Berarti masih Monic," gumam Rafi pelan.

Dita tertawa pendek, lalu berubah isak tangis tertahan. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dengan satu telapak tangan.

"Dia bercanda terus, Bang," suara Dita bergetar. "Gue pengin marah, tapi kalau dia berhenti bercanda gue lebih takut."

Juna terdiam.

Dita menurunkan tangannya. "Kalau hari ini lo mau hancur, jangan di depan dia."

Juna menelan. "Iya."

"Jangan iya doang. Dia butuh orang yang bisa berdiri."

Rahang Juna mengencang. "Iya."

Rafi menyentuh bahu Juna sebelum berjalan cepat menuju loket pendaftaran di ujung lorong IGD.

Di balik meja kaca tebal, seorang petugas wanita berseragam menjejerkan kertas-kertas ke atas meja. "Keluarga pasien?"

Juna yang baru saja menyusul di belakang Rafi membeku.

"Kami pendamping. Ini KTP pasien ada di tas?" Rafi menoleh ke Dita.

Dita membuka ritsleting tas, tangannya gemetar, menarik dompet Monic, menyodorkan sebuah kartu identitas.

Rafi mengambil perlahan. "Dit, duduk dulu."

"Gue nggak mau duduk."

"Duduk bukan berarti ninggalin dia," suara Rafi meninggi.

"Kalau gue duduk, gue nangis." Dita menahan suaranya.

Rafi menatap Dita. "Ya nangis sambil duduk. Biar kalau jatuh nggak sakit."

Dita menatap tajam, hampir membentak, ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi tunggu.

Rafi beralih kembali ke meja petugas. "Yang harus diisi mana?"

Petugas menunjuk beberapa kolom, menggeser formulir informed consent. Rafi meraih pulpen. Ujung jarinya bergetar pelan.

Tari datang dari ujung pintu masuk utama, napasnya memburu. Ia menghampiri Dita.

"Dit," sapa Tari pelan.

Dita membuang muka. "Jangan peluk gue kalau mau bilang sabar."

"Gue nggak bawa kata sabar," jawab Tari, berlutut di depan kursi Dita.

Dita menatap Tari.

Tari mengeluarkan sesuatu dari dalam tas jinjingnya. "Gue bawa air."

Dita melihat air mineral dingin, perlahan menerimanya. Tari duduk di kursi sebelah Dita. Dita bersandar di sela napas panjangnya.

Di dalam kamar 106, Nara duduk di memeluk lutut di atas kasur. Layar ponselnya bergetar, memunculkan notifikasi pesan pendek. Ia meraih ponselnya, membaca pesan dari bilah notifikasi.

Rafi.

Lihat selengkapnya