DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #70

EPILOG. AYAH - IBU - AMELIA

Kamar nomor 28 penuh aroma lembut minyak telon dan bedak bayi. Di sudut meja, jadwal rutin ditempel menggunakan selotip transparan di dinding. Jadwal Susu, Jadwal Kontrol, Dosis Vitamin.

Juna duduk di tepi kasur, bahunya merosot. Rambutnya berantakan, kantung matanya menghitam tebal. Amelia bergerak pelan di dalam gendongannya. Telapak tangan Juna menepuk pelan punggung Amelia.

"Sendawa dulu, Mel," gumam Juna pelan, suaranya parau. "Jangan kayak orang dewasa. Masalah jangan dipendam."

Amelia mengeluarkan suara kecil. Juna menunggu, menatap wajah Amelia.

"Bagus," bisik Juna lagi. "Minimal kamu lebih jujur dari Papa."

Pintu kamar terbuka, suara langkah kaki terhenti.

"Assalamualaikum, divisi bayi!" Rafi muncul di ambang pintu, tangannya penuh dengan kantong belanjaan.

"Jangan teriak!" sahut Juna.

"Maaf! Lupa direktur sekarang punya bawahan ukuran botol susu!"

Amelia menggeliat kecil di gendongan Juna.

"Lihat," bisik Juna. "Om kamu norak."

"Boleh masuk?" tanya Rafi. "Atau harus steril dulu kayak ruang operasi?"

"Cuci tangan," sahut Juna.

Kaki Rafi berjinjit, melangkah masuk, Tari menyusul di belakangnya, matanya menyapu sudut-sudut ruangan, memeriksa ketersediaan tisu basah dan posisi termos air hangat.

Rafi berbalik dari wastafel, mengibas tangannya. "Mantan Direktur Utama lima juta sekarang galak."

Tari melihat jadwal di dinding. "Popok terakhir ganti jam berapa?"

"Jam sepuluh lewat dikit."

"Susu?"

"Sebelas."

Tari mengangguk. "Lumayan."

"Lumayan?" tanya Juna.

Tari menatap Juna, tersenyum tipis. "Buat laki-laki yang dulu lupa makan sendiri, ini hampir mukjizat."

Rafi kembali, mengibas tangan yang masih basah. "Sekarang lo naik jabatan jadi kepala divisi sendawa."

"Minimal divisi gue produktif," balas Juna, sudut bibirnya terangkat.

"Target bulanannya apa. Amelia kentut tiga kali sehari?"

Tari menatap Rafi. "Kamu diem dulu deh, mas."

Rafi mengangguk. "Oke."

Suara ribut kecil terdengar dari arah pintu. Ucup membawa mainan plastik berwarna mencolok, Deni membawa tumpukan popok yang terlalu besar.

"Assalamualaikum. Tim logistik kelas bawah datang," seru Deni.

"Jangan kelas bawah, Den," Ucup mengoreksi, ia mengangkat mainan di tangannya. "Kita divisi support tumbuh kembang."

Ucup, memencet mainan di tangannya.

CIT! CIT! CIT!

Suaranya nyaring, memekakkan telinga, bergema di kamar sempit itu.

Juna tersentak. "Cup!"

Ucup menyembunyikan mainan itu di balik punggungnya. "Gue nggak tahu bunyinya sekenceng dosa!"

Deni mendengus, mengeluarkan popok dari kantongnya.

Tari mengambil salah satunya, matanya melebar melihat ukuran yang tertera. "Ini ukuran terlalu besar."

Deni menggaruk kepala. "Lah. Gue kira bayi prematur itu biar sekalian longgar."

Rafi menahan tawa, bahunya bergetar.

"Den, itu bukan celana training," ujar Juna.

"Maaf. Gue nggak punya pengalaman beli popok. Pengalaman gue beli rokok ketengan sama mi instan."

Ucup mendekati Amelia, tangannya menggantung di atas telapak kakinya. "Gue takut megang, Jun. Ini kayak barang fragile."

"Jangan bilang barang, bego," timpal Deni. "Ini anak."

"Iya, maksud gue anak fragile," Ucup mengoreksi.

"Makin salah," sahut Rafi.

Semua tertawa kecil.

Suara langkah kaki lebih halus terdengar. Dita berdiri di pintu kamar, membawa tas kecil.

"Gue telat?" tanya Dita.

"Belum. Masuk," jawab Juna.

Dita masuk. Ia mengeluarkan lipstik Monic dan foto kecil yang dulu ia simpan di dalam tasnya.

"Gue bawa barang emaknya," ucap Dita, matanya basah saat menatap foto itu. "Gue nggak tahu buat apa. Tapi daripada gue simpen terus tiap lihat pengin ngamuk."

Lihat selengkapnya