Dor!
Satu tembakan memekakkan telinga tepat mengenai ban depan mobil. Kendaraan itu seketika hilang kendali, meluncur liar, lalu terjun bebas ke dalam jurang dalam sebelum akhirnya meledak hebat di dasarnya.
"Habis sudah kau," gumam seorang pria berjaket kulit hitam dan kacamata gelap. Sebuah senyum sinis terukir di bibirnya saat menatap kobaran api di bawah sana. Beberapa orang yang berdiri di belakangnya ikut tertawa puas menyaksikan kehancuran itu.
"Ayo kita tinggalkan tempat ini. Dia sudah tak bernyawa. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kelompok mereka tak lebih dari sekawanan sapi tanpa pemimpin, dan tak akan berani mengganggu kita lagi," ucap pria itu. Namanya Khalid bin Zaid Al-Zahrani, pemimpin kelompok mafia dari golongan Timur.
"Kenapa Tuan tidak sekalian mengambil alih seluruh kekuasaan mereka?" tanya salah satu anak buahnya.
"Itu takkan mudah selama Zaid Al-Ghazi, tangan kanan Tariq El-Mansour, masih hidup. Yang terpenting, Tariq sudah lenyap. Itu sudah lebih dari cukup. Mereka takkan sanggup berbuat apa-apa lagi," jawab Khalid dingin.
Mereka segera berbalik pergi, meninggalkan lokasi tanpa niat sedikit pun untuk memanggil bantuan atau tim penyelamat. Padahal, di bawah sana, jauh dari pandangan mereka...
Di balik rimbunnya dedaunan dan perlindungan bebatuan besar, sesosok pria terbaring mengerang kesakitan. Kepalanya basah kuyup oleh darah. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha bangun dan merangkak naik menanjak tebing curam itu dengan sangat susah payah.
Kakinya lumpuh tak bisa digerakkan, begitu pula salah satu tangannya yang terasa nyeri luar biasa. Mungkin benturan keras tadi meremukkan tulang-tulangnya. Namun ia tak menyerah. Ia terus merayap, hingga akhirnya berhasil mencapai pinggir jalan raya yang tak terlalu jauh dari tempat ia jatuh.
Namun tenaganya sudah benar-benar habis. Tubuhnya tak sanggup lagi bergerak. Ia akhirnya tergeletak tak berdaya di tepi jalan, sekujur tubuhnya tertutup debu, luka, dan darah.
*
*
Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sakit, seorang gadis berseragam perawat melangkah keluar dari ruang perawat menuju tempat parkir. Jam kerjanya baru saja usai, dan ia ingin segera pulang beristirahat agar esok hari bisa kembali bekerja dengan kondisi prima.
Salma El-Fassi—atau yang akrab disapa Salma oleh rekan kerjanya—mengendarai motornya dengan kecepatan sedang membelah jalanan sore yang masih terasa sangat menyengat. Padahal matahari sudah mulai condong ke barat, namun entah mengapa hari ini terasa lebih panas dari biasanya.
Saat tiba di jalan yang cukup sepi, langkah motornya tiba-tiba terhenti. Di kejauhan, sesosok tubuh tergeletak tak bergerak di pinggir jalan. Tanpa rasa takut sedikit pun, Salma turun dan mendekat. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat darah yang menggenang di kepala pria itu. Awalnya ia mengira pria itu sudah tiada karena diam seribu bahasa. Namun saat ia mengecek napas dan denyut nadinya, tanda kehidupan masih ada—meski sangat lemah.
"Dia masih hidup... Aku tidak mungkin membiarkannya di sini. Tapi bagaimana caranya aku membawanya ke rumah sakit?" gumam Salma bingung. Ia ingin menumpang pada kendaraan lewat, namun jalan ini sangat sepi dan jarang dilewati orang.
"Ambulan!" serunya pelan saat teringat layanan di tempatnya bekerja.
Segera ia menghubungi bagian gawat darurat, meminta ambulans dikirim ke lokasi, lalu mengirimkan titik koordinatnya. Sambil menunggu, Salma membersihkan luka di kening dan leher pria itu sebaik mungkin.
"Siapa kamu... Apa yang menimpamu hingga terluka separah ini?" bisiknya lirih.
Tak ada jawaban. Pria itu masih terlelap dalam ketidaksadaran yang dalam.
Tak lama kemudian, suara sirine terdengar mendekat. Ambulans berhenti tepat di depannya. Petugas segera menurunkan tandu untuk mengangkat tubuh pria tak dikenal itu.