Upacara dimulai tepat pukul tujuh.
Bendera merah putih terlipat rapi di tangan pasukan pengibar. Angin pagi belum terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat kain itu bergetar pelan—seolah ragu, seolah tahu bahwa hari ini ia akan dinaikkan di atas tanah yang tidak sepenuhnya jujur. Lagu kebangsaan akan dinyanyikan. Doa akan dipanjatkan. Dan seperti biasa, semua akan dimulai dengan satu kata yang terdengar suci.
“Bismillahirrahmanirrahim.”
Arga Pradipta mengucapkannya lirih, nyaris tanpa suara, sebelum melangkah turun dari mobil dinasnya. Jas hitamnya rapi, dasinya lurus, sepatu kulitnya berkilat seperti wajahnya di layar kaca. Di dada kirinya, pin kecil berbentuk merah putih terpasang tepat di atas jantung. Ia hafal posisi itu. Ia tahu kamera akan mengambil sudut tersebut.
Bismillah selalu terasa aman.
Netral.
Tidak menuntut apa-apa.
Arga menyukai kata itu karena tidak pernah bertanya. Ia tidak menagih kejujuran, hanya formalitas. Ia seperti pintu otomatis—dibuka, lalu dilewati, tanpa perlu memikirkan apa yang ada di baliknya.
Di lapangan upacara, para pejabat berdiri tegak. Wajah-wajah serius dipasang dengan presisi. Semua tahu perannya masing-masing. Ada yang bertugas terlihat khidmat. Ada yang bertugas terlihat bersih. Ada yang bertugas memastikan acara ini tampak baik-baik saja.
Tak ada yang salah.
Begitulah keyakinan yang beredar di antara mereka.
Bendera mulai dinaikkan. Merahnya menyala di bawah matahari pagi. Putihnya berkibar, bersih dari noda—setidaknya di kainnya. Arga menatap lurus ke depan, tangan kanan di dada. Di dalam kepalanya, bukan lagu kebangsaan yang terngiang, melainkan agenda rapat siang nanti. Ada proyek besar yang harus segera disahkan. Anggarannya fantastis. Dampaknya—itu bisa dibicarakan belakangan.
Selesai upacara, doa dibacakan. Seorang tokoh agama berdiri di podium, suaranya tenang, pilihan katanya aman. Ia tidak menyebut korupsi. Tidak menyebut keserakahan. Tidak menyebut kerusakan. Doanya mengalir seperti air jernih—sayangnya, hanya di permukaan.
“Semoga para pemimpin diberikan amanah,” katanya.
Amanah.
Kata itu terdengar indah. Namun Arga telah lama memahaminya sebagai sesuatu yang lentur. Bisa ditarik ke sana-sini, selama tidak sampai putus.
Ruang rapat lantai tujuh dingin oleh pendingin udara dan dingin oleh kesepakatan tak tertulis. Meja panjang mengilap memantulkan wajah-wajah yang terlihat serius, tetapi sebenarnya lelah. Di tengah meja, berkas proposal proyek terbuka—tebal, rapi, dan penuh istilah yang terdengar ilmiah.
Arga duduk di ujung meja. Posisi strategis. Dari sana, ia bisa melihat semua orang, sekaligus sulit dibaca oleh siapa pun.
“Seperti biasa,” katanya sambil tersenyum tipis, “kita mulai dengan Bismillah.”
Semua mengangguk. Beberapa ikut mengucap. Tidak ada yang menolak. Tidak ada yang bertanya.
Proyek itu bernama Revitalisasi Kawasan Sungai. Namanya bersih. Presentasinya indah. Ada grafik hijau, foto anak-anak tersenyum, dan kata berkelanjutan yang diulang berkali-kali. Namun di halaman tujuh puluh tiga, tertulis hal yang tidak pernah disebutkan dengan suara keras: pengalihan limbah sementara.
Sementara—kata yang sangat disukai Arga.
“Sementara itu relatif,” katanya suatu kali pada stafnya. “Tergantung siapa yang bertanya.”
Rendi, staf muda yang duduk dua kursi dari Arga, membaca dokumen itu dengan dahi berkerut. Ia tahu sungai itu. Ia tumbuh tidak jauh dari sana. Dulu, airnya bisa diminum. Sekarang, ikan-ikan mati mengapung seperti kesalahan yang tak pernah diminta maaf.
“Pak,” Rendi memberanikan diri, “ini soal pembuangan limbah—”
Arga mengangkat tangan. Halus, tetapi tegas.