Di Balik Merah Putih

Ahmad Wahyudi
Chapter #2

Retakan yang Tidak Langsung Terdengar

Ketidakhadiran tidak selalu datang dalam bentuk pergi.

Kadang ia hadir sebagai pulang yang terlambat.

Sebagai ponsel yang lebih sering dibalik.

Sebagai doa yang dibaca tergesa-gesa, lalu ditinggalkan sebelum sempat diamini.

Maya mulai merasakannya sejak pagi-pagi kecil yang tak lagi sama.

Arga masih ada di rumah. Secara fisik. Ia masih duduk di meja makan, masih menyesap kopi yang sama, masih mengenakan jam tangan yang sama. Namun kehadirannya terasa seperti gambar yang dicetak buram—bentuknya ada, maknanya menghilang.

“Besok aku mungkin pulang malam lagi,” kata Arga sambil mengancingkan kemeja.

Maya mengangguk. Ia selalu mengangguk belakangan ini.

“Proyek?”

“Iya.”

Jawaban itu selalu cukup. Kata proyek telah menjadi pintu serbaguna—bisa membuka alasan apa saja, menutup pertanyaan apa saja. Maya memperhatikan punggung suaminya saat melangkah keluar. Tidak ada yang berubah, namun ada sesuatu yang hilang. Ia tidak tahu apa. Dan ketidaktahuan itu yang paling melelahkan.

Ia berdiri lama di depan jendela, memandangi halaman rumah yang tenang. Di sudut hatinya, muncul pertanyaan kecil—pelan, nyaris malu-malu. Namun pertanyaan itu segera ditekan.

Jangan berprasangka.

Itu tidak baik.

Ia mengulang nasihat itu seperti dzikir.

Di ruang kerjanya, Arga duduk di balik meja besar yang selalu terasa terlalu rapi. Kalender di dinding penuh coretan rapat. Teleponnya bergetar, berhenti, lalu bergetar lagi. Nama Lina muncul.

Kamu bilang hari ini sempat.

Arga menatap layar beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ia tidak segera membalas.

Ketidakhadiran punya bentuk lain di hidup Arga: keterpaksaan untuk selalu hadir di dua dunia sekaligus. Di kantor, ia dituntut penuh. Di rumah, ia dituntut utuh. Dan di antara keduanya, ada Lina—ruang sunyi yang dulu terasa ringan, kini mulai menekan.

Nanti ya. Rapat panjang.

Ia menekan kirim, lalu meletakkan ponsel dengan cepat, seolah pesan itu bisa menular.

Arga menarik napas panjang. Ia tidak merasa bersalah—belum. Ia hanya merasa lelah. Lelah menjaga citra, lelah mengatur waktu, lelah menjadi orang yang selalu tahu jawaban yang tepat.

“Pak,” suara Rendi memecah pikirannya, “warga di bantaran sungai mulai protes.”

Arga mendongak. “Protes apa?”

Lihat selengkapnya