Pulang adalah kata yang kehilangan maknanya pelan-pelan.
Ia tidak pergi dengan suara pintu dibanting, tidak pula dengan koper yang diseret tergesa. Ia pergi dengan senyap—melalui jadwal yang berubah, janji yang ditunda, dan kalimat “sebentar lagi” yang tak pernah benar-benar tiba.
Maya menyadarinya pada sore yang terlalu rapi.
Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat sepuluh. Matahari condong ke barat, cahayanya menembus tirai tipis dan jatuh tepat di meja makan. Meja itu sudah siap sejak satu jam lalu. Piring tersusun. Gelas terisi. Makanan mulai mendingin, bukan karena lupa dipanaskan, tapi karena menunggu.
Arga belum pulang.
Maya tidak mengirim pesan. Ia menunggu. Menunggu telah menjadi keahliannya akhir-akhir ini. Ia menunggu dengan cara yang tidak terlihat: tetap rapi, tetap tenang, tetap meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja.
Ia duduk di kursi yang sama, memandangi kursi di seberangnya—kursi Arga. Kursi itu kosong, tapi kehadirannya terasa lebih berat daripada saat diduduki. Seperti janji yang belum ditepati.
“Aku sabar,” bisiknya pelan, entah kepada siapa.
Kata itu terdengar asing di telinganya sendiri.
Di kantor, Arga menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca. Laporan demi laporan terbuka, tapi pikirannya melayang ke tempat-tempat yang tidak tercantum dalam agenda. Teleponnya tergeletak di sisi kanan meja. Tidak berbunyi. Ia meliriknya berkali-kali, lalu pura-pura sibuk setiap kali Rendi lewat.
“Pak,” kata Rendi akhirnya, “warga minta kepastian.”
“Kepastian apa?” Arga tidak mendongak.
“Soal relokasi. Soal air. Mereka bilang sudah seminggu anak-anak sakit.”
Arga menghela napas. Panjang. Berat. Seolah setiap keluhan rakyat adalah beban tambahan di punggungnya.
“Kita sudah kirim tim,” katanya akhirnya.
“Tim survei, Pak. Belum ada tindak lanjut.”
Arga menutup laptop perlahan. Ia menatap Rendi. Ada sesuatu di mata staf mudanya itu—bukan pembangkangan, bukan kemarahan, tapi kelelahan yang jujur.
“Kamu tahu bagaimana sistem bekerja,” ujar Arga, suaranya tenang tapi dingin. “Tidak semua bisa cepat.”
Rendi mengangguk. Ia selalu mengangguk. Namun kali ini, anggukan itu terasa seperti menyerah.
“Baik, Pak,” katanya pelan.
Arga kembali menatap layar. Kata kepastian terngiang lama di kepalanya. Ia tidak menyukai kata itu. Kepastian selalu menuntut tanggung jawab. Dan tanggung jawab sering kali berarti kehilangan ruang manuver.
Lina berdiri di depan lemari, menatap gaun yang tergantung rapi. Ia memilih satu, lalu menggantinya dengan yang lain. Semua terasa berlebihan untuk seseorang yang tidak tahu apakah ia akan ditemui atau tidak.
Ia mengirim pesan siang tadi.
Kita ketemu hari ini? Aku sudah nunggu seminggu.
Pesan itu sudah dibaca. Tidak dibalas.
Lina duduk di tepi ranjang, ponsel di genggaman. Ia menatap layar yang gelap, lalu menyalakannya lagi, seolah berharap pesan baru muncul hanya karena ia menginginkannya.
Ia mulai merasa bodoh.
Dulu, ia merasa istimewa. Merasa menjadi tempat Arga kembali bernapas. Kini, ia hanya merasa menjadi sela—ruang kosong di antara dua kewajiban yang lebih penting.
“Aku bukan jadwal,” katanya pelan. “Aku manusia.”
Kalimat itu terdengar kuat, tapi air matanya jatuh juga.
Maya bangkit dari kursinya ketika azan magrib berkumandang. Ia berdiri lama sebelum mengambil sajadah. Ada jeda kecil—sangat kecil—antara niat dan gerakan. Seolah tubuhnya bertanya lebih dulu: apa gunanya?
Ia tetap salat. Ia selalu salat.
Namun malam itu, bacaan Al-Fatihah terasa berbeda. Kata-katanya tetap sama, tapi maknanya seperti menggeser tempat.
Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.
Hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.
Maya terhenti sesaat. Nafasnya tercekat.