Langit Jakarta sore itu seperti biasa: kelabu, padat, dan penuh desakan. Dari balik kaca gedung tinggi tempatnya bekerja, Karaditya Ody memandang lalu lintas yang tak pernah benar-benar berhenti. Ada rasa asing yang tak pernah benar-benar hilang sejak ia mulai bekerja di sini.
Bukan karena pekerjaannya.
Bukan pula karena kota ini.
Tapi karena cara dunia ini berjalan.
Di pesantren, segalanya sederhana. Bangun sebelum subuh, mengaji, belajar, bekerja, lalu tidur dengan hati yang tenang. Tidak ada yang berpura-pura. Tidak ada yang memanipulasi.
Di sini?
Semua orang tersenyum. Tapi tak semua tulus.
“Ditya, presentasimu barusan keren banget.”
Suara itu datang dari belakang. Farhan.
Ditya menoleh, tersenyum sopan. “Terima kasih.”
Farhan menepuk pundaknya seolah sahabat lama. “Tenang aja. Kalau nanti ada peluang promosi, kita sama-sama lah.”
Ditya hanya mengangguk.
Entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti doa—tapi juga seperti peringatan.
Sejak pertama kali masuk ke perusahaan teknologi ini, Ditya sudah menyadari satu hal: kompetensi saja tidak cukup. Ada permainan lain yang tak pernah diajarkan dalam kitab kuning.
Politik.
Ia baru saja kembali ke mejanya ketika notifikasi email masuk.