Di balik perjuangan menunggu

Ahmad Wahyudi
Chapter #2

Ruang Rapat dan Ruang Hati

Pagi Jakarta selalu datang tanpa kompromi.

Langit belum sepenuhnya terang ketika Karaditya Ody sudah berdiri di peron KRL, bersama ratusan wajah yang sama-sama lelah bahkan sebelum hari benar-benar dimulai. Headset terpasang, bukan untuk musik, tapi untuk menahan diri dari dunia.

Di layar ponselnya, sebuah pesan masuk.

Alia 🌿:

Kak, hari ini ada klien minta buket akad nikah. Putih semua. Katanya biar doanya bersih. Jadi inget kakak 😌

Ditya tersenyum kecil.

Adiknya memang selalu begitu—menyisipkan makna di balik hal-hal sederhana.

Alia, adik perempuannya, bukan sekadar florist biasa. Ia merangkai bunga seperti merangkai perasaan. Setiap tangkai punya filosofi. Setiap warna punya doa.

Ditya:

Yang penting niatnya juga putih, Li. Bunganya cuma perantara.

Alia:

Ih kakak… selalu berat 😆

Tapi makasih ya. Doain toko kecilku makin laku.

Ditya membaca sambil berdiri di antara kerumunan.

Dan untuk sesaat, hatinya terasa hangat.

Di dunia yang keras ini, masih ada ruang bernama keluarga.

 

Gedung kantor menyambutnya dengan dingin AC dan senyum formalitas.

Pukul 09.00 tepat, ruang rapat sudah penuh. Layar besar menampilkan slide presentasi proyek digitalisasi klien besar—proyek prestisius yang bisa menjadi batu loncatan karier siapa pun yang terlibat.

Manajer mereka, Pak Rendra, duduk di ujung meja.

“Baik. Kita mulai. Farhan, kamu yang presentasi duluan.”

Ditya sedikit terkejut.

Padahal, dokumen awal, konsep, dan kerangka besar proyek itu adalah hasil kerjanya. Farhan hanya diminta membantu menyempurnakan visualisasi.

Namun kini… Farhan berdiri percaya diri, membawa pointer, membuka presentasi dengan penuh gaya.

“Konsep utama dari strategi ini adalah pendekatan human-centered digitalization…”

Kalimat itu persis.

Sama seperti yang Ditya tulis di draft awal.

Beberapa rekan menoleh ke arah Ditya. Ada yang sadar. Ada yang pura-pura tak tahu.

Aini duduk dua kursi di seberangnya. Tatapannya tak lepas dari Ditya.

Bukan kasihan.

Tapi kecewa—bukan pada Ditya, melainkan pada keadaan.

Setiap slide terasa seperti potongan kecil yang dicuri.

Bukan soal pengakuan.

Tapi soal keadilan.

Ketika presentasi selesai, tepuk tangan memenuhi ruangan.

Pak Rendra mengangguk puas.

“Bagus. Sangat matang. Farhan, kamu berkembang pesat.”

Lihat selengkapnya