Di balik perjuangan menunggu

Ahmad Wahyudi
Chapter #3

Senyum Farhan yang Tak Tulus

Pagi itu, hujan turun pelan di Jakarta. Tidak deras, tetapi cukup untuk membuat kota terasa lebih muram dari biasanya. Butiran air menempel di kaca jendela kantor seperti ribuan pikiran yang tak sempat diucapkan.

Karaditya Ody duduk di depan laptopnya, menatap layar tanpa benar-benar membaca. Pikirannya masih tertinggal pada rapat kemarin. Bukan karena presentasi yang dicuri, tetapi karena satu hal yang lebih menyakitkan: tidak ada satu pun yang benar-benar membela.

Bukan karena mereka tidak tahu.

Melainkan karena mereka memilih diam.

Di dunia kerja, diam sering kali lebih aman daripada jujur.

“Pagi, Ditya.”

Suara itu datang seperti biasa: ramah, hangat, dan terdengar tulus.

Ditya menoleh. Farhan berdiri di samping mejanya sambil membawa segelas kopi.

“Aku bawain kopi lebih. Tadi kepikiran kamu,” kata Farhan sambil meletakkan gelas itu.

Ditya menatap kopi tersebut beberapa detik.

Bukan karena curiga pada isinya, tetapi pada niat di baliknya.

“Terima kasih,” jawabnya singkat.

Farhan tersenyum. Senyum yang rapi, terlatih, dan sulit dibedakan antara tulus atau tidak.

“Soal presentasi kemarin… kamu tidak keberatan, kan? Aku pikir, toh kita satu tim.”

Kalimat itu terdengar ringan.

Namun di baliknya, ada manipulasi yang halus.

Ditya menatap Farhan dengan tenang. “Tidak masalah kalau memang niatnya untuk tim.”

Farhan mengangguk cepat. “Tentu. Demi tim.”

Namun dalam hati, Ditya tahu: orang yang benar-benar bekerja demi tim tidak akan menghapus nama orang lain.

Pukul sepuluh pagi, notifikasi baru muncul di grup internal kantor.

Reminder: Evaluasi kinerja kuartal ini akan menjadi dasar penentuan kandidat promosi.

Pesan singkat itu cukup membuat suasana ruangan berubah. Beberapa orang langsung duduk lebih tegak. Ada yang mulai mengetik lebih cepat. Ada pula yang tiba-tiba terlihat sangat sibuk, meski sebelumnya banyak mengobrol.

Ditya membaca pesan itu tanpa ekspresi berlebihan.

Promosi bukan tujuan utamanya.

Namun ia sadar, di tempat seperti ini, promosi adalah simbol: siapa yang dipercaya dan siapa yang disisihkan.

Dari seberang ruangan, Farhan meliriknya. Tatapannya cepat, lalu berpaling.

Seolah sedang menghitung sesuatu.

Lihat selengkapnya