Di balik perjuangan menunggu

Ahmad Wahyudi
Chapter #4

Laporan yang Menghilang

Pagi itu, udara Jakarta terasa lebih panas dari biasanya. Bukan hanya karena matahari yang menyengat, tetapi karena suasana kantor yang perlahan berubah. Ada sesuatu yang tak kasatmata, tetapi terasa: ketegangan.

Karaditya Ody duduk di depan laptop sejak pukul delapan. Di layarnya terbuka dashboard proyek klien strategis yang sedang mereka kerjakan. Hari ini penting. Sangat penting. Laporan analisis final harus diserahkan ke manajemen pusat pukul sepuluh.

Laporan itu adalah hasil kerja berhari-hari.

Data yang dikumpulkan sendiri.

Analisis yang ia susun dengan hati-hati.

Kalimat yang ia timbang agar jujur sekaligus profesional.

Ditya menarik napas panjang sebelum menekan tombol send.

“Bismillah,” gumamnya pelan.

Email terkirim.

Ia bersandar sebentar, memejamkan mata. Bukan karena lelah, tetapi karena berharap: semoga hari ini berjalan tanpa drama.

Harapan yang, seperti biasa, terlalu sederhana untuk dunia seperti ini.

Pukul sepuluh lewat lima belas menit.

Ditya dipanggil ke ruang rapat.

Pak Rendra, manajer mereka, duduk di ujung meja dengan ekspresi yang sulit dibaca. Beberapa senior tim juga sudah ada di sana. Farhan duduk di sisi kanan, wajahnya tenang, bahkan terlalu tenang.

“Ditya,” kata Pak Rendra, membuka rapat tanpa basa-basi, “laporan yang kamu kirim pagi ini… kami tidak menerimanya.”

Ditya terdiam sejenak.

“Ada kendala teknis, Pak?”

Pak Rendra memutar layar laptopnya ke arah Ditya.

Kotak masuk email ditampilkan.

Tidak ada nama Ditya di sana.

“Batas waktu sudah lewat. Pusat menanyakan kenapa dokumen belum masuk,” lanjut Pak Rendra dengan nada datar, tetapi jelas ada kekecewaan.

Ditya membuka laptopnya dengan cepat. Email terkirim. Jam, tanggal, penerima, semua jelas.

“Saya mengirimnya pukul 09.58, Pak. Ini buktinya.”

Pak Rendra mendekat, melihat layar itu. Alisnya sedikit berkerut.

Sebelum ia sempat berkata apa-apa, Farhan berbicara.

“Pak, mungkin Ditya mengirim ke alamat yang lama? Soalnya format laporan yang masuk ke saya tadi malam juga belum final. Saya sempat bingung.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Terlalu biasa.

Padahal dampaknya besar.

Pak Rendra menatap Ditya. “Kamu kirim ke alamat yang benar?”

“Benar, Pak. Saya selalu menggunakan alamat resmi.”

Farhan mengangkat bahu ringan. “Saya cuma bantu klarifikasi saja, kok.”

Lihat selengkapnya