Malam turun perlahan di Jakarta, tetapi lampu-lampu kantor masih menyala terang. Di lantai dua puluh gedung itu, sebagian besar meja sudah kosong. Namun di sudut ruangan, Karaditya Ody masih duduk menatap layar laptopnya.
Deadline baru saja ditarik lebih maju.
Seolah-olah hari ini memang dirancang untuk menguji batas kesabarannya.
Di layar, deretan angka dan grafik terlihat kabur, bukan karena datanya sulit, melainkan karena pikirannya terlalu penuh. Kasus email yang dihapus, rapat yang menggantung, tatapan curiga manajer—semuanya berputar di kepalanya tanpa jeda.
Ia menutup laptop perlahan.
Menghela napas panjang.
Lalu menyandarkan kepala ke kursi.
Untuk pertama kalinya sejak lama, Ditya merasa sangat lelah.
Bukan lelah fisik.
Tetapi lelah mempertahankan diri agar tetap jujur di lingkungan yang tidak menghargai kejujuran.
Ponselnya bergetar pelan.
Nama yang muncul di layar membuat hatinya menghangat:
Ayah
Jarang sekali ayah menelepon malam-malam begini. Biasanya hanya pesan singkat. Atau kabar lewat ibu.
Ditya segera mengangkat.
“Assalamu’alaikum, Yah.”
“Wa’alaikumussalam,” suara ayahnya terdengar tenang, seperti biasa. “Kamu belum pulang?”
Ditya terdiam sejenak. “Belum, Yah. Masih di kantor.”
“Capek?”
Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pintu yang membuka ruang di dadanya.
“Sedikit,” jawabnya jujur.
Di seberang sana, ayahnya tidak langsung bicara. Hanya ada suara napas pelan, lalu suara kipas angin tua yang khas di rumah mereka.
“Kamu ingat waktu kamu hampir menyerah di tahun terakhir pesantren?” tanya ayahnya pelan.
Ditya tersenyum kecil. “Ingat.”
“Waktu itu kamu bilang, ‘Kenapa jalan hidup harus sesulit ini?’”
Ditya masih ingat. Sangat jelas.
“Apa jawaban ayah waktu itu?” tanya ayahnya lagi.
Ditya mengucapkannya perlahan, seolah kembali menjadi santri remaja.
“Karena Allah sedang membentukmu untuk sesuatu yang lebih besar.”
Di ujung telepon, ayahnya tersenyum. Terasa dari suaranya.
“Kamu pikir dunia kerja akan lebih ringan dari pesantren?”
Ditya terdiam.
“Ujian hanya berpindah bentuk, Nak. Dulu kamu diuji dengan hafalan. Sekarang kamu diuji dengan kejujuran.”
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi menghunjam dalam.
“Ayah tidak bisa melindungimu dari dunia,” lanjut ayahnya, “tapi ayah percaya, selama kamu tidak menjual nilai-nilaimu, Allah akan menjaga caramu.”