Di balik perjuangan menunggu

Ahmad Wahyudi
Chapter #6

Aini Mulai Dipertanyakan

Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda. Bukan karena ada pengumuman besar, melainkan karena perubahan kecil yang tak kasatmata: bisik-bisik yang lebih sering, tatapan yang lebih lama, dan jarak yang mulai sengaja diciptakan.

Karaditya Ody merasakannya sejak ia melangkah masuk.

Beberapa rekan yang biasanya menyapanya hangat kini hanya mengangguk singkat. Ada pula yang berpura-pura sibuk saat ia lewat. Tidak kasar. Tidak frontal. Tapi cukup untuk membuat seseorang merasa tidak benar-benar diterima.

Ia tahu pola ini.

Dunia kerja modern jarang menyerang secara langsung.

Ia lebih sering membentuk opini perlahan.

Dari satu obrolan kecil.

Dari satu asumsi yang dibiarkan tumbuh.

Di ruang kerja, Aini duduk di depan laptopnya, wajahnya terlihat tenang seperti biasa. Namun Ditya menangkap sesuatu yang berbeda: bahunya sedikit lebih tegang, gerakan tangannya lebih kaku.

“Ada apa?” tanya Ditya pelan saat mereka berpapasan di pantry.

Aini menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.”

Namun Ditya tahu, itu bukan jawaban yang sebenarnya.

Tak lama kemudian, saat Ditya kembali ke mejanya, notifikasi muncul di layar: undangan rapat internal terbatas. Pesertanya hanya beberapa orang—dan salah satu nama yang tercantum adalah Aini.

Rapat tanpa agenda jelas.

Instingnya mengatakan: ini bukan hal baik.

Rapat itu berlangsung di ruang kecil di sisi timur gedung. Pintu tertutup rapat. Tirai ditarik setengah.

Aini duduk di sana bersama tiga senior tim dan Pak Rendra.

“Aini,” kata Pak Rendra membuka pembicaraan, suaranya datar, “kami mendapat masukan bahwa akhir-akhir ini kamu terlalu sering terlibat dalam urusan yang bukan tanggung jawabmu.”

Aini menegakkan punggungnya. “Maksud Bapak?”

“Sederhana,” sambung salah satu senior. “Kedekatanmu dengan Ditya mulai menimbulkan persepsi.”

Persepsi.

Kata itu lagi.

Kata yang sering kali lebih berbahaya daripada fakta.

“Persepsi apa, Bu?” tanya Aini tetap tenang.

“Bahwa kamu tidak objektif.”

Hening sesaat.

Aini menarik napas. “Kalau yang dimaksud adalah saya membela rekan kerja yang diperlakukan tidak adil, maka ya, saya memang tidak netral terhadap ketidakadilan.”

Kalimat itu jatuh jelas. Tegas. Tanpa getar.

Pak Rendra menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya: bukan kemarahan, melainkan kebingungan antara profesionalisme dan nurani.

Lihat selengkapnya