Di balik perjuangan menunggu

Ahmad Wahyudi
Chapter #7

Ketika Nama Mulai Dipertaruhkan

Pagi itu, notifikasi di layar ponsel Ditya datang lebih cepat dari biasanya. Bahkan sebelum ia sempat meneguk kopi pertamanya, sebuah pesan dari grup manajemen internal sudah muncul.

“Mohon seluruh tim Project Strategic hadir dalam rapat klarifikasi pukul 10.00 WIB.”

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada agenda.

Hanya satu kata yang membuat dada terasa sempit: klarifikasi.

Ditya menatap layar beberapa detik lebih lama. Pengalaman mengajarkannya bahwa rapat tanpa agenda sering kali bukan tentang mencari kebenaran, melainkan tentang membentuk narasi.

Di seberang meja, Aini juga membaca pesan yang sama. Tatapan mereka bertemu singkat. Tidak ada kata. Namun ada kesepahaman.

Hari ini bukan hari biasa.

Ruang rapat lantai dua puluh terasa lebih dingin dari biasanya. Pendingin ruangan menyala penuh, tetapi bukan itu yang membuat suasana membeku. Melainkan tatapan-tatapan yang sudah lebih dulu membangun jarak.

Pak Rendra duduk di ujung meja. Di sampingnya, dua orang dari divisi manajemen pusat hadir langsung. Wajah mereka asing bagi sebagian besar tim.

“Terima kasih sudah hadir,” buka salah satu dari mereka, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan suara datar. “Rapat ini bersifat evaluatif.”

Evaluatif.

Kata yang terdengar netral, tetapi sering kali menyembunyikan keputusan yang sudah lebih dulu dibuat.

“Dalam beberapa bulan terakhir,” lanjut pria itu, “kami menerima sejumlah laporan terkait efektivitas kerja tim ini. Dan beberapa nama muncul lebih sering dari yang lain.”

Hening.

Tatapan perlahan mengarah ke satu titik.

Ditya.

Ia duduk tegak. Tidak menunduk. Tidak defensif. Hanya menunggu.

“Saudara Karaditya Ody,” ucap pria itu, menyebut nama lengkapnya, “kami ingin mendengar langsung dari Anda. Bagaimana Anda menilai kontribusi Anda terhadap tim?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun di baliknya, ada jebakan.

Jika ia terlalu merendah, ia akan terlihat tidak kompeten.

Jika ia terlalu percaya diri, ia akan dicap arogan.

Ditya menarik napas pelan.

“Saya bekerja sesuai tanggung jawab saya, Pak. Saya menyusun analisis, mengelola data, dan memastikan laporan akurat. Selebihnya, saya selalu terbuka untuk evaluasi.”

Jawaban itu jujur. Tidak berlebihan. Tidak juga defensif.

Pria itu mengangguk tipis.

Lalu Farhan angkat bicara.

“Kalau boleh menambahkan,” katanya dengan nada sopan, “kadang ada tantangan dalam koordinasi. Beberapa ide bagus dari Ditya kurang tersampaikan ke tim karena gaya kerjanya cenderung mandiri.”

Kalimat itu terdengar profesional.

Namun dampaknya jelas: membentuk persepsi.

Ditya menoleh ke arah Farhan. Tatapan mereka bertemu.

Lihat selengkapnya