Di balik perjuangan menunggu

Ahmad Wahyudi
Chapter #8

Pram Kembali dengan Wajah Berbeda

Hujan turun sejak subuh. Tidak deras, tetapi cukup untuk membuat Jakarta terasa lebih sunyi dari biasanya. Jalanan basah, langit kelabu, dan udara membawa aroma tanah yang basah—seperti kenangan lama yang pelan-pelan muncul ke permukaan.

Karaditya Ody tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Bukan karena ada pekerjaan mendesak, tetapi karena ia tidak ingin berlama-lama sendirian di kamar kosnya. Pikiran-pikiran yang belum selesai lebih bising daripada suara kota.

Ia baru saja meletakkan tas ketika layar ponselnya menyala.

Satu nama muncul di layar.

Pram

Sudah lama sekali nama itu tidak muncul sebagai panggilan. Biasanya hanya pesan singkat. Itu pun jarang. Sejak Pram mulai tenggelam dalam gaya hidup malam, jarak di antara mereka seakan tercipta dengan sendirinya.

Ditya menatap layar beberapa detik sebelum mengangkat.

“Assalamu’alaikum,” ucap Pram pelan.

Suaranya terdengar berbeda.

Lebih berat.

Lebih lelah.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Ditya. “Kamu di mana?”

“Dekat kantor… bisa ketemu sebentar?”

Ditya terdiam. Ada sesuatu dalam nada suara itu yang membuat hatinya tidak tenang.

“Datang saja ke pantry lantai bawah,” katanya akhirnya.

“Terima kasih.”

Telepon terputus.

Sepuluh menit kemudian, Pram muncul.

Ditya hampir tidak mengenalinya pada detik pertama.

Wajah sahabatnya itu lebih tirus. Lingkar gelap di bawah matanya jelas. Rambutnya tak lagi serapi dulu. Jaket yang dikenakannya kusut, seolah sudah beberapa hari tidak benar-benar tidur dengan tenang.

“Assalamu’alaikum,” ulang Pram sambil duduk di seberang Ditya.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Ditya pelan.

Beberapa detik berlalu tanpa kata.

Ditya tidak ingin langsung bertanya.

Ia menunggu.

Seperti dulu, saat mereka masih santri dan Pram selalu bercerita lebih dulu jika hatinya sudah terlalu penuh.

“Aku kacau, Dit,” kata Pram akhirnya.

Ditya menatapnya, tenang. “Ceritakan.”

Pram menunduk, kedua tangannya saling menggenggam. “Aku terlilit utang.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa drama. Tanpa air mata. Tetapi justru karena itulah ia terasa berat.

“Banyak?” tanya Ditya pelan.

Pram mengangguk. “Lebih dari yang bisa aku tanggung sendiri.”

Ditya tidak terkejut. Ia sudah lama melihat arah hidup Pram berubah. Dunia malam, gaya hidup, pergaulan yang salah—semuanya seperti jalan licin yang sulit dihentikan jika sudah terlalu jauh.

Lihat selengkapnya