Di balik perjuangan menunggu

Ahmad Wahyudi
Chapter #9

Ketika Sahabat Menjadi Celah

Pagi itu, udara Jakarta terasa pengap. Bukan karena cuaca, melainkan karena sesuatu yang tak terlihat mulai menekan dari segala arah. Karaditya Ody merasakannya sejak membuka mata.

Ada hari-hari yang terasa berat bahkan sebelum dimulai.

Di meja kecil kamarnya, secangkir kopi sudah dingin. Ponselnya terbuka menampilkan pesan terakhir dari Pram semalam. Kalimat sederhana, tapi menyisakan beban yang tak sederhana:

“Terima kasih sudah tidak meninggalkanku.”

Ditya menghela napas pelan.

Ia tidak pernah berniat menjadi penyelamat siapa pun.

Namun entah sejak kapan, hidup menempatkannya di posisi itu.

Di kantor, suasana makin terasa dingin—bukan hanya pada dirinya, tetapi juga pada Aini.

Saat Ditya masuk, Aini sudah duduk di mejanya. Mereka saling bertukar pandang sebentar. Tidak ada senyum seperti biasanya. Ada kehati-hatian baru yang tak perlu diucapkan.

Bukan karena mereka berubah.

Melainkan karena lingkungan di sekitar mereka yang mulai memantau.

Di pantry, dua rekan kerja berbicara pelan, tetapi cukup terdengar.

“Katanya Aini sekarang sering bela Ditya banget, ya?”

“Entahlah. Hati-hati saja sih. Terlalu dekat sama orang yang lagi ‘dipantau’ itu berisiko.”

Ditya tidak berhenti berjalan.

Namun setiap kata itu masuk, satu per satu.

Bukan menyakitkan.

Lebih melelahkan.

Sementara itu, di lantai berbeda, Farhan duduk santai sambil menatap layar laptopnya. Sebuah nomor baru tersimpan di kontak ponselnya:

Pramudya – eksternal

Ia memutar bolpoin di antara jari-jarinya, berpikir.

Ia tidak akan mendekati Ditya secara langsung lagi. Terlalu jelas. Terlalu berisiko.

Namun manusia jujur selalu punya titik lemah yang sama: orang-orang yang mereka cintai.

Farhan mengetik pesan singkat.

“Halo, Pram. Saya Farhan, rekan kerjanya Ditya. Kita pernah ketemu sekilas di kantor. Kamu baik-baik saja?”

Ia menekan kirim, lalu menyandarkan tubuh dengan tenang.

Umpan sudah dilempar.

Siang hari, Pram duduk sendirian di warung kecil dekat kantor. Di depannya, segelas teh manis tak tersentuh. Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal.

Ia membaca.

Nama Farhan tidak asing. Ia ingat wajah itu—pria rapi yang sering terlihat terlalu ramah.

Pram menatap layar lama.

Ada dua suara di dalam kepalanya.

Lihat selengkapnya