Di balik perjuangan menunggu

Ahmad Wahyudi
Chapter #10

Bisik-Bisik yang Mengarah ke Nama

Pagi datang dengan langkah pelan, tetapi beban di dada Karaditya Ody terasa lebih berat dari biasanya. Sejak kasus Pram dan pesan dari Farhan, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Seolah ada sesuatu yang bergerak di balik layar, sesuatu yang belum terlihat jelas, tetapi cukup terasa untuk membuatnya waspada.

Di kantor, suasana semakin tidak ramah. Bukan dalam bentuk permusuhan terbuka, melainkan melalui hal-hal kecil yang terus berulang: obrolan yang terhenti ketika ia datang, tatapan singkat yang menghindar, senyum yang terasa dibuat-buat.

Di lift, dua rekan kerja berdiri di belakangnya. Mereka berbicara pelan, tetapi cukup terdengar.

“Katanya dia itu sebenarnya ambisius banget, tapi pura-pura alim.”

“Iya, makanya banyak yang mulai curiga.”

Ditya memejamkan mata sejenak.

Bukan marah.

Lebih kepada letih.

Fitnah memang jarang datang dalam bentuk besar.

Ia tumbuh dari bisikan kecil yang diulang-ulang.

Di meja kerjanya, Aini tampak lebih pendiam hari ini. Ia tetap bekerja rapi seperti biasa, tetapi ada garis tegang di wajahnya yang tak bisa disembunyikan.

“Manajemen memanggilku lagi,” ucap Aini pelan saat mereka bertemu di pantry.

Ditya menoleh cepat. “Tentang apa?”

“Masih soal ‘posisi’,” jawab Aini singkat. “Mereka bilang aku terlalu sering terlihat berpihak.”

Ditya terdiam. “Aku tidak ingin kamu ikut terseret.”

Aini menatapnya. “Kamu tidak menyeretku. Aku melangkah sendiri.”

Kalimat itu diucapkan tanpa nada dramatis, justru karena itu terasa kuat.

Aini melanjutkan, “Tapi jujur saja… mulai hari ini, gerak kita pasti semakin diawasi.”

Ditya mengangguk pelan. “Aku sudah menduganya.”

Di sisi lain gedung, Farhan duduk di ruangannya sambil membuka laptop. Di layar, terbuka beberapa file: catatan evaluasi, log komunikasi internal, dan daftar nama-nama yang sering berinteraksi dengan Ditya.

Ia tidak bekerja dengan emosi.

Ia bekerja dengan strategi.

Ponselnya bergetar.

Lihat selengkapnya