Di balik perjuangan menunggu

Ahmad Wahyudi
Chapter #11

Nama yang Dicatut

Pagi selalu datang dengan cara yang sama: lampu-lampu kantor menyala sebelum matahari benar-benar naik, lift berdenting pelan, aroma kopi murah bercampur pendingin ruangan yang tak pernah benar-benar bersih. Namun pagi itu, bagi Karaditya Ody, ada sesuatu yang terasa keliru sejak langkah pertamanya menyentuh lantai marmer gedung.

Ia tidak tahu apa.

Belum.

Hanya ada rasa seperti benang halus yang menegang di dalam dada—pertanda bahwa sesuatu sedang ditarik dari arah yang tak terlihat.

Email masuk satu per satu. Lalu bertubi-tubi. Subjeknya seragam, bahasanya formal, nadanya mendesak: Keputusan Strategis Proyek Digitalisasi. Ditya membukanya dengan kebiasaan seorang pekerja yang telah terbiasa menghadapi dokumen penting. Ia membaca cepat, lalu melambat. Kalimat-kalimat itu rapi, terlalu rapi, seolah disusun oleh seseorang yang tahu benar bagaimana bahasa korporat bekerja—dingin, tegas, dan tampak tak terbantahkan.

Namun napasnya berhenti di satu baris terakhir.

Disetujui oleh: Karaditya Ody.

Tidak ada suara.

Tidak ada ledakan.

Hanya senyap yang tiba-tiba menjadi sangat berat.

Ditya menatap layar lama, seperti seseorang yang berharap realitas berubah jika dipandangi cukup keras. Ia tahu betul apa saja yang pernah ia setujui, dan apa yang tidak. Keputusan itu bukan hanya tidak pernah ia tanda tangani, tetapi juga bertentangan dengan sikap hati-hatinya selama ini. Itu keputusan yang terlalu cepat, terlalu berani, dan terlalu berisiko.

Dan yang paling berbahaya: keputusan itu kini membawa namanya.

Di meja seberang, Farhan memperhatikan semua itu tanpa perlu menoleh langsung. Ia sudah tahu momen itu akan datang. Ia bisa membaca perubahan ritme ruangan dari cara orang-orang mengetik lebih cepat, dari cara suara kursi bergeser lebih sering, dari cara kepala-kepala mulai menoleh ke arah yang sama.

Farhan tidak tersenyum.

Ia juga tidak tegang.

Lihat selengkapnya