Ketika Kepercayaan Mulai Retak**
Pagi itu, Karaditya Ody melangkah masuk ke gedung kantor dengan kesadaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak membawa rasa takut. Tidak juga amarah. Yang ia bawa justru sesuatu yang lebih sunyi dan lebih berat: pemahaman bahwa mulai hari ini, cara orang memandangnya telah berubah—dan perubahan itu tidak bisa ia kendalikan.
Ia merasakannya bahkan sebelum duduk di meja kerjanya.
Sapaan yang biasanya datang ringan kini menjadi anggukan singkat. Beberapa wajah yang dulu terbuka kini menutup diri di balik layar monitor. Ada yang pura-pura sibuk mengatur kertas, ada pula yang menunduk seolah sedang membaca pesan penting. Tidak ada yang terang-terangan menjauh, tetapi justru itulah yang membuatnya terasa menyakitkan. Tidak ada penolakan. Hanya jarak yang tiba-tiba tercipta.
Keraguan bekerja dengan cara seperti itu.
Ia tidak menyerang.
Ia menyelinap.
Dan ketika disadari, ia sudah memisahkan.
Ditya duduk. Menyalakan laptop. Tidak ada gerakan tergesa. Ia membuka kembali seluruh rangkaian email yang berkaitan dengan pencatutan namanya. Ia membaca seperti seorang peneliti yang tahu bahwa kebenaran jarang berdiri sendiri. Ia mencari pola, bukan pelaku. Ia mencatat waktu, jalur distribusi, siapa saja yang disertakan, siapa yang dikecualikan.
Siapa yang diuntungkan?
Siapa yang dirugikan?
Dan siapa yang berdiri cukup dekat untuk melihat semuanya… tanpa pernah benar-benar terlihat?
Jawaban itu perlahan membentuk siluet di kepalanya, meski belum berwujud bukti. Namun intuisi—yang selama ini ia rawat sebagai bagian dari kehati-hatian—mulai berbicara dengan nada yang lebih jelas.
Di sisi lain ruangan, Aini membaca sebuah email yang membuat jari-jarinya terasa dingin.
Subjek: Evaluasi Kinerja Individu
Kalimat pembukanya rapi. Terlalu rapi untuk sebuah undangan biasa. Aini membaca ulang, memastikan tidak ada salah tafsir. Pukul 13.00. Ruang manajemen. Evaluasi profesionalisme dan batasan peran.
Ia tersenyum tipis, getir.
Ia tahu bahasa itu.
Bukan evaluasi.
Melainkan peringatan yang dibungkus kesantunan.
Aini menoleh ke arah Ditya. Lelaki itu duduk dengan postur yang sama seperti biasa—tenang, fokus, seolah dunia di sekitarnya tidak berubah. Ketegaran itu, yang dulu membuatnya kagum, kini justru menekan dadanya. Karena ia tahu, ketenangan seperti itu sering kali disalahartikan sebagai ketidakpedulian.
Rapat evaluasi berlangsung singkat. Tidak ada tuduhan langsung. Tidak ada kalimat kasar. Justru karena itulah ia terasa lebih menusuk.
“Kami menghargai dedikasimu,” kata salah satu manajer senior, suaranya datar namun terlatih. “Namun belakangan ini, kamu terlihat terlalu terlibat secara personal.”
Aini duduk tegak. Punggungnya lurus.