Malam itu, hujan turun perlahan di luar jendela kamar kos Karaditya Ody. Lampu-lampu kota terlihat buram, terpantul di kaca seperti ingatan yang datang dan pergi tanpa pernah benar-benar bisa ditahan. Ditya duduk di tepi ranjang, punggungnya sedikit membungkuk, pandangannya kosong. Laptop di depannya menyala, tetapi layar itu lebih sering menjadi cermin pikirannya daripada alat kerja. Ia membaca, namun tidak memahami. Ia menatap, namun tidak benar-benar melihat.
Ada kelelahan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Bukan lelah fisik, bukan pula lelah pekerjaan. Ini adalah lelah yang tumbuh perlahan, dari hari ke hari, dari tekanan yang tidak pernah diucapkan secara langsung, dari tatapan-tatapan yang berubah, dari jarak-jarak kecil yang sengaja diciptakan orang lain. Luka itu tidak terlihat, tetapi justru karena itulah ia terasa lebih menyakitkan.
Ponselnya tergeletak di sampingnya. Nama Aini masih berada di baris teratas daftar percakapan. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan tak terjawab. Namun keheningan itu sendiri sudah cukup untuk membuat pikirannya melayang mundur, jauh sebelum kantor menjadi medan pertarungan sunyi, jauh sebelum nama dan reputasi menjadi sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian.
Enam bulan lalu, hidupnya terasa jauh lebih sederhana.
Saat itu, Ditya baru tiga bulan bekerja. Ia masih canggung menyesuaikan diri dengan dunia gedung kaca, kartu akses, rapat tanpa ujung, dan bahasa profesional yang terasa kering di telinganya. Ia terbiasa hidup dengan ritme yang jelas: bangun sebelum subuh, mengaji, belajar, berkhidmah. Di kantor ini, segalanya terasa abu-abu. Jam makan siang sering bergeser menjadi secangkir kopi. Pulang tidak lagi ditentukan matahari, melainkan tenggat.
Siang itu, ia duduk sendirian di pantry, membuka bekal nasi sederhana yang ia siapkan sendiri dari kos. Di sekelilingnya, orang-orang sibuk dengan laptop, ponsel, dan percakapan ringan tentang restoran mahal atau rencana liburan. Ditya makan perlahan, berusaha tidak merasa kecil di tengah dunia yang terasa asing.
Lalu seseorang duduk di depannya, tanpa banyak suara.
Perempuan itu meletakkan segelas teh hangat di atas meja.
“Ini kebetulan lebih,” katanya singkat, seolah tak ingin menciptakan kewajiban.
Ditya mengangkat kepala. Menatap gelas itu, lalu menatap wajah di hadapannya. Wajah yang tenang, bersih, dengan tatapan yang tidak memaksa dan tidak menghakimi.
“Aini,” kata perempuan itu memperkenalkan diri.
“Ditya,” jawabnya pelan.
Tidak ada percakapan panjang hari itu. Tidak ada usaha untuk mengesankan. Namun sejak pertemuan kecil itu, sesuatu mulai terbentuk tanpa disadari. Kadang mereka hanya saling menyapa. Kadang duduk bersebelahan dalam diam. Tidak pernah ada perhatian berlebihan, tidak ada kata-kata manis. Justru dari kesederhanaan itulah rasa nyaman tumbuh perlahan, seperti akar yang diam-diam mencari air.
Empat bulan lalu, pada suatu sore ketika sebagian besar karyawan sudah pulang, Ditya masih duduk di depan laptop. Deadline menekan, data klien belum rampung. Matanya perih, kepalanya berat. Ia terlalu fokus untuk menyadari waktu.