Di balik perjuangan menunggu

Ahmad Wahyudi
Chapter #14

Ketika Jarak Mulai Dipaksakan

Ketika Jarak Mulai Dipaksakan**

Pagi itu, Karaditya Ody menyadari satu hal yang tak tertulis di papan pengumuman mana pun: jarak bisa diciptakan tanpa kata-kata. Ia tidak muncul sebagai larangan, tidak pula sebagai teguran. Ia hadir lewat pengaturan ulang jadwal, perubahan struktur rapat, dan keputusan-keputusan kecil yang tampak administratif, tetapi dampaknya terasa personal.

Ia menyadarinya ketika kalender kerjanya berubah.

Rapat koordinasi yang biasanya ia hadiri bersama Aini kini dipindahkan ke jam lain. Diskusi lintas tim yang dulu melibatkan mereka berdua, kini hanya menyertakan satu nama. Aini tidak lagi duduk di meja yang sama saat presentasi. Tidak ada pengumuman. Tidak ada penjelasan. Hanya perubahan yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Ditya tidak protes. Ia tahu, protes adalah bahan bakar terbaik bagi mereka yang ingin memojokkan. Ia memilih diam, tetapi diam yang sadar. Ia mencatat. Ia mengingat. Ia memahami bahwa inilah fase berikutnya: ketika kebenaran belum cukup kuat untuk melawan, maka yang dilemahkan adalah jarak antar manusia.

Di ruang kerja lain, Aini merasakan hal yang sama dengan cara berbeda. Ia tidak kehilangan tugas. Ia justru diberi lebih banyak. Proyek tambahan. Tanggung jawab baru. Deadline yang saling bertindihan. Secara kasatmata, itu terlihat seperti kepercayaan. Namun Aini tahu, kepercayaan yang baik tidak datang dengan tujuan memisahkan.

Ia mulai pulang lebih malam. Lebih lelah. Lebih sunyi.

Bukan karena pekerjaan semata, tetapi karena kesadaran bahwa setiap langkahnya kini diawasi. Setiap senyuman bisa ditafsirkan. Setiap keberpihakan bisa dicurigai. Ia dipaksa memilih jarak sebagai cara bertahan, padahal yang ingin ia jaga justru manusia.

Suatu siang, Ditya menerima email singkat dari manajemen.

Penyesuaian Struktur Koordinasi Internal

Isinya dingin. Objektif. Mengatasnamakan efektivitas. Nama Aini tidak lagi tercantum dalam jalur koordinasi langsung dengannya. Semua harus melalui perantara. Semua harus tercatat. Semua harus aman.

Ditya membaca email itu lama. Ia tidak marah. Ia justru merasa sedih—bukan untuk dirinya, tetapi untuk sistem yang memilih cara seperti ini.

Di ujung ruangan, Farhan memperhatikan dari kejauhan. Ia tahu email itu sudah terkirim. Ia tahu dampaknya tidak akan langsung meledak. Justru itulah yang ia inginkan. Farhan tidak membutuhkan konfrontasi. Ia membutuhkan kelelahan. Ia percaya, manusia yang lelah akan membuat kesalahan.

Ia menyesap kopinya perlahan. Dalam kepalanya, ia menyusun langkah berikutnya. Jika jarak profesional belum cukup, maka isu personal harus disentuh. Bukan dengan gosip kasar, tetapi dengan bisikan yang tampak masuk akal.

“Hubungan terlalu dekat bisa memengaruhi objektivitas,” katanya suatu sore kepada seorang kolega, seolah sedang membicarakan prinsip umum.

Kalimat itu ringan. Hampir bijak. Namun cukup untuk memantik tafsir.

Sore itu, Aini berdiri di depan mesin fotokopi ketika seorang rekan perempuan mendekat dan berkata setengah bercanda, “Sekarang kamu jarang kelihatan bareng Mas Ditya, ya?”

Aini tersenyum tipis. “Kami memang jarang satu tim sekarang.”

“Oh,” jawab rekan itu. “Bagus sih. Lebih aman.”

Kata aman itu menempel di kepala Aini lebih lama dari yang ia kira.

Lihat selengkapnya